Hari-hari berlalu dengan cepat, namun semakin lama jarak dan kesibukan terasa semakin nyata menguji cinta Zayden dan Kirana. Meskipun keduanya berusaha keras menjaga komunikasi, ada saat-saat dimana keraguan mulai merayap perlahan.
Zayden, yang kini semakin tenggelam dalam tekanan pekerjaan, mulai merasa bersalah karena tak bisa sering menghubungi Kirana. Ia tahu betapa Kirana membutuhkan kehadirannya, terutama saat ia sering merasa sepi dan rindu.
Kirana, di sisi lain, mencoba kuat menghadapi keadaan. Namun, kesendirian terkadang membuatnya merasa rapuh dan mulai bertanya-tanya apakah cinta mereka cukup kuat menahan segala tantangan ini.
Suatu malam, Kirana menerima pesan singkat dari Zayden yang tidak seperti biasanya. Pesan itu singkat, tanpa hangat seperti biasa, hanya berupa kalimat, "Maaf, aku sedang sibuk. Kita bicarakan nanti."
Pesan itu membuat hati Kirana teriris. Ia mencoba mengerti, tapi rasa kecewa dan rindu tetap menyelimuti pikirannya.
Beberapa hari kemudian, Kirana memutuskan untuk mengunjungi Zayden tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Ia ingin memastikan bahwa hubungan mereka tidak kehilangan arah.
Setibanya di kota tempat Zayden bekerja, Kirana merasa campur aduk antara harapan dan kecemasan. Ia tak tahu bagaimana reaksi Zayden jika ia tiba-tiba muncul.
Ketika bertemu, Zayden terkejut dan senang sekaligus canggung. Mereka duduk berdua di sebuah kafe kecil, mencoba menyambung komunikasi yang mulai renggang.
"Kirana, aku minta maaf. Aku terlalu tenggelam dalam pekerjaan dan lupa bagaimana menjaga kita," ucap Zayden dengan suara tulus.
Kirana menggenggam tangan Zayden erat. "Aku datang karena aku takut kehilangan kita. Aku ingin kita tetap bersama, walau sulit."
Mereka berbicara panjang, membuka hati dan saling menguatkan. Kesepakatan dibuat untuk lebih sering meluangkan waktu, walau jarak memisahkan.
Hari-hari berikutnya, hubungan mereka perlahan membaik. Mereka belajar untuk saling memberi ruang dan kepercayaan tanpa harus merasa takut ditinggalkan.
Fading heartbeats mereka kini berdenyut dalam irama baru, irama yang mengajarkan arti kesabaran dan pengorbanan.
Setelah melewati berbagai tantangan jarak dan kesibukan, Zayden dan Kirana mulai merasakan kedekatan yang lebih erat meskipun tak selalu bertemu secara fisik. Mereka belajar menghargai momen-momen kecil yang membangun hubungan mereka. Namun, sebuah kejutan tak terduga muncul yang menguji kesiapan mereka untuk masa depan bersama.
Suatu pagi, Kirana menerima pesan dari Zayden yang membuat jantungnya berdetak kencang. "Kirana, aku ada kabar penting. Bisa kita bicara malam ini?"
Malam itu, mereka berbicara panjang melalui video call. Zayden tampak serius dan sedikit gugup.
"Aku mendapat kesempatan promosi kerja yang bisa membuatku pindah ke luar negeri," kata Zayden perlahan.
Kirana terdiam sejenak, mencoba menyerap berita itu. Hatinya campur aduk antara bangga dan cemas.