Waktu berjalan lambat bagi Kirana. Setiap hari ia menunggu kabar dari Zayden dengan penuh harap. Mereka tetap menjaga komunikasi, namun rindu yang menggunung sulit untuk dihapuskan hanya dengan kata-kata di layar ponsel. Kirana pun merencanakan sesuatu yang sudah lama ia impikan — sebuah pertemuan nyata, tatap muka yang sudah lama tertunda.
Suatu hari, Zayden mengirim pesan yang membuat jantung Kirana berdebar. "Aku akan pulang sebentar, Kirana. Ada urusan penting yang harus aku selesaikan di kota kita. Kita bisa bertemu."
Kirana hampir tidak percaya. Ia segera membalas, "Aku tidak sabar, Zayden. Aku akan menunggu dengan sepenuh hati."
Hari yang dinanti itu tiba. Kirana berdiri di stasiun kereta, berdebar-debar, memandangi pintu keluar yang akan memperlihatkan sosok Zayden. Ia mengenakan pakaian yang sederhana tapi rapi, wajahnya penuh harap dan bahagia.
Ketika pintu kereta terbuka, Zayden melangkah keluar dengan senyum hangat. Mereka saling memandang dalam diam sesaat, lalu tanpa ragu, saling berpelukan erat. Rindu yang terpendam selama ini tumpah ruah dalam pelukan itu.
"Mungkin aku terlalu lama di sana," bisik Zayden di telinga Kirana.
"Yang penting kau pulang," jawab Kirana dengan suara bergetar.
Mereka menghabiskan hari itu dengan berjalan-jalan di taman favorit mereka, tertawa, berbagi cerita, dan menikmati kebersamaan yang sudah lama dirindukan. Zayden memperhatikan Kirana dengan penuh cinta, sementara Kirana merasakan kehangatan yang selama ini hanya bisa ia bayangkan.
Namun, meskipun bahagia, mereka tahu bahwa pertemuan ini hanya sementara. Zayden harus kembali ke pekerjaannya, dan Kirana harus kembali ke kehidupannya sendiri. Tapi kali ini, mereka merasa lebih kuat, lebih yakin bahwa cinta mereka mampu bertahan.
Sebelum berpisah, Zayden menggenggam tangan Kirana. "Aku janji, Kirana, ini bukan perpisahan terakhir kita. Aku akan segera kembali."
Kirana mengangguk, menahan air mata bahagia. "Aku percaya padamu, Zayden. Kita akan melewati semuanya bersama."
Fading heartbeats mereka berdenyut kencang dalam pertemuan singkat itu, memperkuat janji dan cinta yang tak pernah padam.
Setelah pertemuan singkat itu, Zayden kembali ke luar negeri dengan hati yang penuh kerinduan. Namun, rasa rindu yang mendalam justru membawa ujian baru bagi hubungan mereka. Kirana mulai merasa gelisah saat komunikasi yang biasanya lancar mulai terganggu oleh kesibukan Zayden.
Suatu malam, Kirana menatap layar ponselnya, menunggu balasan pesan dari Zayden yang sudah lama tak datang. Hatinya dipenuhi kecemasan dan pikiran yang mulai berkecamuk.
"Apa dia masih ingat aku? Atau ada sesuatu yang terjadi?" pikir Kirana dalam diam.
Kirana mencoba menghubungi Zayden beberapa kali, tapi panggilan dan pesan itu sering kali tak terbalas. Keraguan mulai merayapi pikirannya, merusak ketenangan yang selama ini mereka jaga bersama.