Hari-hari yang dilalui Kirana dan Zayden mulai terasa semakin berat dengan jarak yang masih memisahkan mereka. Meski komunikasi tetap lancar, rindu yang menumpuk seolah tak tertahankan. Fading heartbeats mereka kini berdetak dengan getaran rindu yang menguat.
Kirana duduk di sofa ruang tamu, menatap foto Zayden yang terpajang di meja. Senyum Zayden yang hangat seakan mengisi ruang kosong di hatinya. Ia teringat saat-saat mereka berjalan bersama di taman kota, tertawa tanpa beban, dan berjanji untuk selalu bersama.
Namun kini, semua itu hanya menjadi kenangan manis yang ia simpan rapat-rapat.
Suatu malam, Kirana mengirim pesan panjang kepada Zayden, menyampaikan betapa besar rindunya. Ia juga mengungkapkan harapannya agar mereka bisa segera bertemu dan menghapus jarak yang selama ini ada.
Zayden membalas dengan cepat, "Kirana, aku juga merindukanmu lebih dari kata-kata bisa ungkapkan. Aku sedang berusaha menyelesaikan semuanya agar bisa kembali secepat mungkin."
Percakapan mereka malam itu penuh dengan harapan dan janji untuk tetap kuat meski terpisah jarak.
Kirana memejamkan mata, membayangkan saat mereka bisa bertemu kembali, mengobati rindu yang telah menumpuk. Ia yakin fading heartbeats mereka tidak akan padam, karena cinta mereka terus berdenyut dengan kekuatan rindu yang tak terbendung.
Suasana hujan turun dengan deras di kota kecil tempat Kirana tinggal. Suara gemericik air membasahi jalanan membawa suasana sendu yang sempurna untuk merenung. Kirana berdiri di bawah payung kecil, menatap langit abu-abu yang penuh awan.
Di tengah dinginnya hujan dan sepi yang melingkupi, pikirannya kembali terbang ke Zayden, yang jauh di sana, menempuh segala perjuangan demi masa depan mereka. Rindu itu seperti derasnya hujan yang tak henti-henti, memenuhi seluruh ruang hatinya.