Hari itu, Zayden seharusnya pulang. Ia sudah merencanakan semuanya—surprise kecil, makan malam sederhana, dan waktu yang hanya akan diisi oleh mereka berdua. Ia bahkan telah menyiapkan satu kotak kecil yang ia bawa sejak beberapa minggu lalu: cincin mungil yang dibelinya diam-diam.
Namun rencana tak selalu berjalan mulus.
Di tengah perjalanan menuju bandara, mobil yang ditumpanginya mogok. Hujan deras memperparah segalanya, dan jadwal penerbangan yang ketat tidak memberinya waktu untuk menunggu terlalu lama. Sinyal telepon pun melemah di daerah itu.
Zayden menatap jam di pergelangan tangan. "Sial..." gumamnya. Ia menghela napas berat. Wajah Kirana terbayang jelas di kepalanya—senyum, tatapan mata, tawa pelan yang selalu mampu menenangkan.
Ia mencoba menghubungi Kirana berkali-kali, namun tak satu pun panggilan tersambung. Di tempat lain, Kirana menanti dengan gelisah. Ia sudah menyiapkan semuanya—dari penampilannya, makanan favorit Zayden, hingga playlist lagu kenangan mereka.
Waktu terus bergulir. Kirana menatap jam dinding, lalu ke layar ponselnya yang kosong. Tak ada kabar. Tak ada pesan. Ia mencoba menenangkan dirinya, "Mungkin pesawatnya delay... atau baterai ponselnya habis..."
Namun hatinya tak bisa sepenuhnya tenang.
Malam datang tanpa kabar. Kirana duduk di depan jendela, menatap rintik hujan yang mulai turun lagi. Kali ini, bukan karena kecewa, tapi karena khawatir. Ia memeluk dirinya sendiri, mencoba memaknai diamnya Zayden sebagai sesuatu yang tak disengaja.
Sementara itu, Zayden akhirnya bisa menghubungi supir taksi untuk menuju kota terdekat. Ia menginap semalam di sana, tak punya pilihan lain. Dalam hati, ia terus berkata, "Maaf, Kirana. Tunggu aku. Aku pasti datang."
Meski rencana tertunda, cinta mereka tidak. Fading heartbeats mereka masih saling mencari, saling memanggil, berharap bisa segera bertemu dalam pelukan nyata.
Kirana terbangun lebih pagi dari biasanya. Malam yang penuh harap berubah menjadi malam yang penuh tanya. Meski tak ada kabar semalam, entah mengapa, ia merasa Zayden akan tetap menepati janjinya. Ia memilih percaya.
Dengan rambut masih terurai dan wajah tanpa riasan, Kirana keluar ke halaman rumah, menyambut pagi yang masih dibalut sisa hujan semalam. Tanah basah mengeluarkan aroma khas yang membuatnya sedikit tenang. Ia menghirup udara dalam-dalam, mencoba menenangkan kegelisahan yang masih tersisa.
Ponselnya tiba-tiba bergetar. Satu pesan dari Zayden masuk.
"Maafkan aku, Kirana. Mobilku mogok dalam perjalanan ke bandara. Aku mencoba menghubungimu, tapi sinyal buruk. Aku baru bisa mengirim pesan ini setelah tiba di kota terdekat. Aku akan ke sana secepat mungkin. Aku tidak menyerah. Tunggu aku."
Air mata Kirana mengalir tanpa suara. Ia menggenggam ponsel erat, lalu tersenyum kecil. "Aku tahu kamu akan tetap berjuang," bisiknya lirih.
Hari itu, Kirana memutuskan untuk tidak larut dalam kecewa. Ia menyibukkan diri membersihkan rumah, membuat makanan kesukaan Zayden yang semalam tak jadi tersentuh. Setiap gerakannya kini mengandung harapan—harapan bahwa Zayden akan segera tiba, bahwa rencana mereka hanya tertunda sesaat.
Sementara itu, Zayden duduk di dalam bus yang membawanya ke kota Kirana. Dengan headphone terpasang, ia mendengarkan playlist yang biasa mereka dengarkan bersama. Lagu-lagu itu bukan sekadar musik; ia menyimpan kenangan, janji, dan semua hal yang tak pernah sempat diucapkan.