Fading Heartbeats

Penulis N
Chapter #9

9

Hujan belum juga berhenti. Tapi kini, suara tetesannya terasa seperti musik latar yang pas untuk suasana hati Zayden dan Kirana. Mereka memutuskan berjalan ke halaman belakang, tempat pohon mangga besar masih berdiri seperti dulu, rindangnya menaungi mereka dari sebagian hujan yang turun.

Kirana berdiri di bawah pohon, memandangi langit yang kelabu. "Waktu kecil, aku sering duduk di sini sambil berharap hari hujan akan membawa sesuatu yang indah," katanya.

Zayden berdiri di sebelahnya, menyelipkan tangannya ke dalam saku jaket. "Dan hari ini?" tanyanya pelan.

Kirana menoleh, menatapnya. "Hari ini... mungkin harapan itu datang dalam bentuk kamu."

Zayden nyaris tak bisa berkata apa-apa. Kata-kata Kirana mengguncang hatinya lebih dalam dari yang ia kira. Ia hanya bisa menatapnya, menyadari betapa gadis itu tetap menjadi pusat semestanya, bahkan setelah segala luka dan jeda yang pernah mereka alami.

"Aku pernah salah. Salah memilih pergi, salah mengira waktu akan menyembuhkan segalanya. Tapi ternyata, waktu cuma bikin aku makin sadar... kalau satu-satunya yang aku butuh untuk sembuh itu kamu," Zayden berkata, suaranya bergetar tapi mantap.

Kirana tersenyum, lembut tapi rapuh. "Kita punya banyak luka, Zayden. Aku pun pernah merasa kamu hilang tanpa jejak. Tapi meskipun sakit, entah kenapa, hatiku nggak pernah benar-benar bisa melupakan kamu."

Zayden mendekat, mengulurkan tangannya. Kirana meraihnya tanpa ragu. Di antara dinginnya hujan dan lembab tanah, ada kehangatan yang tumbuh dari sentuhan itu. Bukan hanya hangat karena fisik, tapi karena kepercayaan yang perlahan pulih.

"Hari ini, aku nggak akan janji kamu nggak akan pernah terluka lagi," kata Zayden pelan. "Tapi aku janji... aku nggak akan pergi lagi. Dan kalau pun dunia berubah jadi lebih kacau dari sekarang, aku akan tetap pegang tangan kamu."

Kirana memejamkan mata. Satu tetes air entah dari hujan atau air mata jatuh di pipinya. Tapi kali ini, ia tak merasa sedih. Justru sebaliknya.

"Janji itu... cukup buat aku bertahan," ucapnya.

Zayden mendekapnya erat. Di bawah rintik hujan, di balik dedaunan yang basah, dua hati yang dulu nyaris hancur kini mulai memperbaiki diri. Mereka tahu perjalanan masih panjang, tapi mereka juga tahu satu hal: selama mereka saling menggenggam, mereka akan sampai ke tujuan, apa pun yang menanti di depan.

Hari berikutnya datang dengan sinar matahari yang lembut, seolah ikut menyambut lembaran baru dalam kisah Kirana dan Zayden. Setelah malam yang penuh perasaan, keduanya sepakat untuk memulai semuanya dari awal—tanpa tergesa, tanpa memaksakan masa lalu, hanya membawa harapan dan ketulusan.

Kirana membuka jendela kamarnya, membiarkan angin pagi masuk dan menebar semangat baru. Di meja, ada secangkir teh panas buatan Zayden yang entah sejak kapan sudah bangun lebih dulu. Ia mengangkat alis saat melihat sepucuk kertas kecil di samping cangkir.

"Meet me at the café. 9 AM sharp. Let's start again properly. –Z"

Kirana tersenyum, merasakan degup jantung yang tak lagi penuh beban seperti dulu. Ia mengenakan kemeja putih dan celana jeans sederhana. Tidak berdandan berlebihan, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa pagi ini istimewa.

Saat sampai di kafe kecil di sudut jalan tempat mereka dulu sering nongkrong saat SMA, Zayden sudah duduk di salah satu meja luar, lengkap dengan dua croissant dan dua cangkir kopi.

"Selamat pagi, Nona Kirana," sapa Zayden dengan gaya sok formal.

Kirana duduk dan tertawa kecil. "Selamat pagi juga, Tuan Zayden. Ada apa memanggil saya kemari sepagi ini?"

Zayden mengangguk serius. "Saya ingin melamar Anda untuk satu posisi penting dalam hidup saya."

Kirana menaikkan alis, pura-pura tak paham. "Posisi apa?"

Zayden tersenyum. "Sebagai teman yang mengenal saya dari awal. Kita mulai dari perkenalan, dari obrolan ringan, dari tawa kecil. Bukan langsung masuk ke luka atau kenangan. Karena aku ingin kamu kenal aku yang sekarang, dan aku juga ingin mengenal kamu yang hari ini."

Lihat selengkapnya