Seminggu berlalu sejak Kirana dan Zayden memulai proyek kolaborasi mereka. Hari-hari mereka kini penuh dengan warna, tumpahan cat, dan ide-ide yang datang tanpa permisi. Galeri itu tak lagi sekadar ruang kosong, tapi telah berubah menjadi semacam rumah kedua yang menyimpan cerita mereka.
Pagi itu Kirana datang lebih awal. Ia membawa segulung sketsa baru yang digambarnya semalam. Tangannya tak berhenti gemetar ketika menggambarnya, bukan karena gugup, tapi karena emosinya yang terlalu penuh untuk ditampung.
Sketsa itu memperlihatkan dua tangan yang hampir bersentuhan, namun terpisah oleh bayangan tipis—nyaris tak terlihat. Ia meletakkannya di atas meja kerja, memandangi tiap garis yang ia buat dengan penuh pertimbangan. Baginya, itu bukan sekadar gambar. Itu adalah cerminan dari perasaan yang ia sendiri masih bingung menamai.
Zayden datang tak lama setelah itu. Ia membawa seikat bunga kecil berwarna ungu pucat—lavender. Kirana menoleh saat mendengar suara langkah kaki, dan alisnya terangkat saat melihat bunga itu.
"Lavender?" tanyanya.
"Katamu kamu suka aroma yang menenangkan," jawab Zayden, menyodorkannya sambil tersenyum. "Buat nemenin kamu gambar hari ini."
Kirana menerima bunga itu dan meletakkannya di dalam vas kecil di sudut meja. Wangi lembutnya segera menyebar, seperti menghadirkan kehangatan baru di ruang yang selama ini terasa asing.
"Aku bawa sesuatu juga," ucap Kirana pelan, lalu menunjuk ke arah sketsanya.
Zayden menghampiri dan mengamati gambar itu dengan saksama. Tatapannya berubah pelan-pelan, dari kagum menjadi lirih. "Ini... sangat jujur."
"Menurutmu terlalu jujur?" Kirana balas menatapnya.
"Justru sebaliknya," ujar Zayden, menoleh padanya. "Kadang kejujuran itu satu-satunya jalan untuk menyembuhkan sesuatu yang sudah lama kita sembunyikan."
Kirana terdiam sejenak. Kata-kata itu menancap dalam, seolah menggugah bagian dirinya yang belum pulih sepenuhnya. Tapi kali ini ia tidak menolak luka itu. Ia menerima keberadaannya—dan menerima kehadiran Zayden yang tetap tinggal bahkan setelah tahu luka itu ada.
Hari itu mereka memutuskan untuk melukis bersama di satu kanvas yang sama. Tak lagi dua perspektif, tapi satu—seolah ingin mengatakan bahwa mereka tak lagi berjalan di jalur terpisah.
Zayden melukis bentuk samar jendela dengan percikan hujan yang menggantung di kaca. Kirana menambahkan siluet dua bayangan di balik jendela itu. Pelan-pelan, gambar itu mulai hidup. Tak sempurna, tapi penuh perasaan. Seperti mereka.
Ketika sore tiba, mereka mundur sejenak dari kanvas itu. Hasilnya belum selesai, tapi cukup untuk membuat keduanya saling memandang dengan diam-diam mengerti.
"Terima kasih, Kirana," ujar Zayden lirih.
"Untuk apa?"
"Untuk tetap ada di sini. Dan membiarkanku ada di sampingmu."
Kirana tak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya tersenyum—senyum yang mungkin akan tetap tinggal di dalam ingatan Zayden, lama setelah lukisan itu selesai.
Beberapa hari terakhir, Kirana merasa ada yang berubah. Bukan pada Zayden, tapi pada dirinya sendiri. Sesuatu yang pelan-pelan tumbuh, seperti benih yang diam-diam menyerap cahaya dari perhatian Zayden, dari caranya memperhatikan, dari tatapannya yang lembut dan penuh makna.
Namun, ia juga takut. Takut bahwa perasaannya bisa membuat semuanya runtuh. Ia tahu Zayden masih menyimpan luka, sebagaimana dirinya. Dan ketika dua luka saling mendekat, apa yang akan terjadi? Apakah mereka bisa saling menyembuhkan, atau justru saling melukai?
Pagi itu Kirana tak langsung ke galeri. Ia duduk di kursi rotan di balkon apartemennya, secangkir teh melati di tangan, dan pikiran yang melayang jauh. Di tangannya tergenggam sebuah surat yang belum ia berani buka—surat dari Galeri Nasional. Ia tahu isinya penting, mungkin bahkan menentukan masa depannya. Tapi entah kenapa, yang mengganggunya justru bukan isi surat itu, melainkan apa yang akan terjadi setelah ia membacanya.
Ponselnya berdering. Nama Zayden muncul di layar.
"Halo?"
"Kamu nggak datang hari ini?" suara Zayden terdengar hangat, tapi ada sedikit nada khawatir.
"Masih di rumah. Lagi butuh waktu sendiri," jawab Kirana jujur.