Hari-hari menjelang keberangkatan Kirana terasa semakin padat. Pagi ia habiskan untuk menyelesaikan lukisan-lukisan terakhir, siang hingga sore bertemu dengan pihak galeri dan kurator melalui panggilan video, lalu malam ia simpan untuk Zayden. Walau hanya duduk berdampingan di teras, berbagi cerita sepotong-sepotong, semuanya terasa cukup.
Namun, suatu siang, saat Kirana tengah memotret lukisannya untuk dikirim ke kurator, ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar membuat jantungnya berdegup tak nyaman: Alvino.
Nama yang dulu mengisi bab paling kelam dalam hidupnya. Nama yang sudah ia coba hapus, namun tetap tertinggal samar dalam ingatan.
Dengan ragu, Kirana menjawab. "Halo?"
Suara di seberang terdengar berat, nyaris asing. "Kir, ini aku. Alvino."
"Aku tahu," jawab Kirana pelan.
"Aku cuma... ingin minta maaf. Aku dengar dari teman kalau kamu akan ikut pameran besar. Aku senang untukmu."
Kirana menarik napas panjang. "Terima kasih. Tapi kamu tidak perlu menelepon hanya untuk itu."
"Aku tahu. Tapi... aku juga ingin bilang kalau aku salah. Dulu. Semuanya. Aku terlalu egois."
Keheningan menggantung di antara mereka. Kirana menatap lukisan terakhir yang ia beri judul Reruntuhan yang Tumbuh Bunga. Ada bagian dari dirinya yang dulu pernah hancur karena Alvino—tapi ada pula bagian yang kini tumbuh karena ia belajar bertahan.
"Aku sudah memaafkanmu, Vin. Sejak lama. Tapi bukan karena kamu memintanya, melainkan karena aku memilih melanjutkan hidup."
Alvino terdengar menghela napas. "Kamu memang selalu lebih kuat dari yang kamu sadari."
Kirana tersenyum, meski tak terlihat. "Aku harus kembali bekerja. Jaga dirimu."
Setelah panggilan berakhir, Kirana duduk sejenak. Hatinya tak lagi bergetar karena masa lalu, melainkan karena betapa jauhnya ia telah melangkah.
Malamnya, ia menceritakan semuanya pada Zayden. "Dia menelepon siang tadi."
Zayden menatapnya dengan tenang. "Kamu baik-baik saja?"
"Lebih dari baik. Aku tidak menangis. Tidak gemetar. Hanya... lega."
Zayden mengangguk. "Itu karena kamu sudah menyembuhkan dirimu sendiri. Aku hanya bagian kecil dari proses itu."
Kirana menyentuh punggung tangan Zayden. "Kamu bagian penting, Zayden. Tanpamu, aku mungkin tidak akan percaya bahwa seseorang bisa tetap tinggal, bahkan saat aku belum sepenuhnya utuh."
Zayden menatap mata Kirana, lembut. "Aku tidak butuh kamu sempurna, Kirana. Aku hanya butuh kamu jujur. Dan sejauh ini, kamu sudah memberikan lebih dari itu."
Malam itu mereka tidak berkata banyak lagi. Tapi diam mereka penuh makna. Diam yang menandakan saling percaya, saling menerima, dan saling melepaskan masa lalu.
Hari-hari berlalu semakin cepat, seperti pasir yang lolos dari sela-sela jari Kirana. Tanggal keberangkatannya ke Amsterdam semakin dekat, dan meski semangatnya masih menyala, ada perasaan tak terucap yang mulai tumbuh. Malam-malamnya dihantui oleh keraguan: apakah ia benar-benar sanggup meninggalkan semuanya di sini? Termasuk Zayden?
Sore itu, mereka duduk di bangku taman belakang rumah Zayden, seperti biasa. Angin meniup lembut daun-daun mangga di atas mereka. Kirana memeluk lututnya, pandangannya tertuju ke arah langit yang memerah.
"Aku takut," ucapnya akhirnya, pelan.
Zayden menoleh. "Takut soal apa?"