Fading Heartbeats

Penulis N
Chapter #12

12

Pagi itu, Zayden berdiri di depan cermin, mengenakan kemeja biru laut yang biasanya hanya ia pakai untuk presentasi penting. Kali ini, ia mengenakannya untuk wawancara beasiswa ke Berlin—sebuah kesempatan yang baru ia temukan tiga hari lalu setelah menelusuri berbagai kemungkinan. Program itu hanya berlangsung tiga bulan, tapi cukup untuk membawanya lebih dekat ke Kirana.

Ia menarik napas dalam-dalam, mengatura detak jantungnya yang tak henti berdegup. Entah karena gugup, atau karena harapan yang perlahan tumbuh. Ia tak tahu pasti apakah Kirana masih berada di kota itu, apakah dia akan menyambutnya dengan tangan terbuka. Tapi ia tahu satu hal: ia harus mencoba.

Wawancara berjalan lancar. Pewawancara tampak terkesan dengan portofolio desainnya, terutama saat ia bercerita tentang bagaimana warna dan emosi mempengaruhi setiap goresan sketsanya. Zayden menyinggung sedikit tentang sosok yang menginspirasi banyak karya terbarunya—tanpa menyebut nama, tapi cukup untuk menyiratkan bahwa setiap desainnya memiliki cerita dan seseorang di baliknya.

Dua minggu kemudian, email pemberitahuan itu datang.

Zayden membukanya dengan tangan gemetar. Begitu melihat kalimat "Selamat, Anda diterima...", ia nyaris tak percaya. Suara di kepalanya hanya berbisik satu nama: Kirana.

Tanpa banyak pikir, ia segera menghubungi Arga.

"Lu beneran bakal berangkat?" Arga terdengar takjub.

Zayden mengangguk meski tahu Arga tak bisa melihat. "Tiga bulan. Nggak lama. Tapi cukup buat bikin sesuatu jadi lebih jelas."

Arga tertawa kecil. "Bilang Kirana buat jemput lu di bandara, biar kayak drama Korea."

Zayden hanya tertawa pelan. Tapi jauh di dalam hatinya, ia diam-diam berharap.

Beberapa hari menjelang keberangkatannya, ia kembali ke tempat pertama kali ia dan Kirana berbagi waktu lebih dari sekadar tugas kuliah—perpustakaan tua di sudut kota. Ia duduk di meja sudut, membuka sketsa lama, dan menambahkan satu halaman baru. Kali ini, gambar itu adalah Kirana dari belakang, berdiri di tengah jalan berbatu dengan dedaunan gugur di sekelilingnya. Di langit, Zayden menggambar warna biru paling jernih yang bisa ia hasilkan dengan pensil warna seadanya.

Di bawahnya, ia menulis:

"Aku menepati janjiku. Kali ini, aku yang datang."

Dan ketika hari keberangkatan tiba, ia tidak merasa ragu. Di bandara, sambil menunggu panggilan boarding, Zayden menatap tiket di tangannya. Namanya tertera jelas, bersama nama kota yang kini menjadi lebih dari sekadar tempat—Berlin.

Ia tak tahu pasti apa yang akan ia temui di sana. Tapi ia yakin, beberapa denyut yang dulu perlahan memudar kini mulai berdetak kembali.

Kirana menggigit bibir bawahnya saat membaca ulang email dari galeri seni tempatnya bekerja paruh waktu di Berlin. Salah satu seniman muda dari Indonesia akan bergabung dalam program kolaborasi seni musim semi, dan ia diminta menjadi pendamping selama pameran berlangsung. Nama yang tertulis di profil seniman itu membuat napasnya tercekat.

Zayden Arvando.

Lihat selengkapnya