Fading Heartbeats

Penulis N
Chapter #13

13

Malam itu, setelah hari yang panjang di galeri, Kirana duduk di balkon apartemennya sambil memegang album foto lama. Foto-foto itu memperlihatkan kenangan masa lalu bersama Zayden, saat mereka masih penuh tawa dan tanpa beban. Setiap gambar seperti pintu kecil yang membuka kembali luka lama sekaligus harapan baru.

Jari Kirana meluncur lembut di atas foto mereka berdua di sebuah taman kota, dengan latar bunga sakura yang sedang mekar. Wajah Zayden saat itu penuh senyum, tanpa ada tanda kesedihan yang kini menghantui hari-harinya. Kirana menarik napas dalam, merasakan hangatnya kenangan yang sekaligus menusuk hati.

Namun, ada sesuatu yang membuatnya penasaran: bagaimana bisa cinta yang pernah begitu kuat bisa berubah menjadi jarak dan diam yang begitu panjang? Kenapa mereka harus melewati segala luka itu?

Ponsel Kirana bergetar, menandakan ada pesan masuk. Dia membuka layar dan membaca pesan dari Zayden:

"Aku baru saja di studio, aku ingin kita bicara lebih banyak tentang masa lalu kita. Aku rindu semuanya, tapi aku takut kalau kita kembali, semuanya akan hancur lagi."

Kirana menatap pesan itu lama, lalu membalas dengan kalimat sederhana,

"Aku juga rindu. Tapi aku percaya, kita bisa belajar dari masa lalu dan menjadi lebih kuat. Aku akan ke studio secepatnya."

Setelah mengirim pesan, Kirana merasa ada beban yang mulai terangkat dari pundaknya. Meski ketakutan masih menghantui, ada secercah harapan yang tumbuh di dalam hatinya. Ia tahu bahwa perjalanan mereka belum selesai, dan butuh keberanian untuk terus melangkah bersama.

Sesampainya di studio, Zayden menyambut dengan senyum hangat yang berbeda dari sebelumnya—lebih terbuka dan penuh kejujuran. Mereka duduk bersebelahan, dan perlahan mulai membuka lembaran-lembaran yang selama ini terkunci.

Percakapan mereka malam itu penuh dengan kejujuran, penyesalan, dan harapan. Mereka berdua sepakat bahwa meski cinta mereka pernah pudar, tidak berarti harus hilang selamanya. Seperti lukisan yang belum selesai, mereka akan terus melukis cerita mereka dengan warna yang lebih cerah.

Dan di bawah cahaya lampu studio yang lembut, dua hati yang sempat terpisah itu memutuskan untuk memberikan kesempatan baru pada cinta yang pernah mereka miliki—sebuah cinta yang tidak hanya tentang perasaan, tapi juga tentang keberanian untuk menerima dan memperbaiki.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang berbeda bagi Kirana dan Zayden. Setelah malam penuh kejujuran di studio, mereka mulai mencoba memperbaiki hubungan yang sempat retak. Namun, bukan berarti semuanya langsung mulus. Ada keraguan dan rasa takut yang sesekali muncul, menguji kesabaran dan komitmen mereka.

Suatu pagi, Kirana duduk di bangku taman dekat apartemennya. Udara sejuk menyentuh wajahnya, sementara pikirannya melayang pada masa-masa saat dia dan Zayden masih bersama tanpa beban. Ia menyadari, cinta bukan hanya soal perasaan, tapi juga tentang keberanian untuk menghadapi kenyataan dan berjuang bersama.

Tiba-tiba ponselnya bergetar, pesan masuk dari Zayden:

Lihat selengkapnya