Malam itu, setelah perbincangan hangat di kafe, Zayden merasa ada sesuatu yang harus ia selesaikan demi masa depan mereka. Ia tahu masa lalunya masih menyimpan rahasia yang belum ia ungkapkan sepenuhnya kepada Kirana.
Dengan tekad bulat, Zayden mengajak Kirana ke sebuah taman yang biasa mereka kunjungi saat awal pertemuan mereka. Suasana malam yang tenang membuat hati keduanya terbuka.
"Kirana, ada sesuatu yang belum aku ceritakan," ujar Zayden pelan. "Sebelum kita bertemu, aku pernah mengalami sebuah kejadian yang mengubah hidupku. Aku takut cerita itu akan membuatmu menjauh."
Kirana menggenggam tangan Zayden lebih erat. "Aku di sini untuk mendengarkan, Zay. Apa pun itu, aku ingin tahu."
Zayden menatap jauh ke langit malam, mencoba mengumpulkan keberanian. "Aku dulu pernah kehilangan seseorang yang sangat berarti. Dia bukan hanya kekasih, tapi juga sahabat terbaikku. Kepergiannya meninggalkan luka dalam yang sulit untuk sembuh."
Kirana menahan air matanya. "Aku turut sedih mendengarnya, Zay."
"Karena itu aku sempat menutup diri, takut kehilangan lagi. Tapi kamu hadir, dan aku ingin belajar untuk membuka hati lagi," ucap Zayden dengan suara penuh harap.
Kirana memeluk Zayden erat-erat. "Kita akan lalui semuanya bersama. Aku tidak akan meninggalkanmu."
Malam itu mereka saling berjanji, bahwa meskipun masa lalu tak bisa dihapus, mereka akan menjadi kekuatan untuk masa depan masing-masing.
Hari-hari berikutnya terasa semakin menantang bagi Kirana dan Zayden. Setelah pengakuan malam itu, beban masa lalu Zayden menjadi nyata dalam hubungan mereka. Kirana tahu bahwa cinta mereka butuh lebih dari sekadar perasaan; butuh keteguhan hati dan keberanian untuk menghadapi kenyataan.