Fading Heartbeats

Penulis N
Chapter #18

18

Setelah Zayden menerima tawaran pekerjaan di kota yang berbeda, hubungan mereka kembali diuji oleh jarak yang semakin jauh. Kirana dan Zayden berusaha menjaga komunikasi tetap erat, namun perlahan jarak itu mulai meninggalkan jejak ragu di hati mereka.

Kirana sering merasa sepi saat malam tiba. Meski mereka masih sering video call dan bertukar pesan, ada perasaan kehilangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ia mulai bertanya-tanya, apakah cinta mereka mampu bertahan melewati ujian berat ini.

Sementara itu, Zayden juga merasakan beban yang sama. Di kota baru, ia berusaha keras menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan tanggung jawab pekerjaan yang besar. Kadang, ia merasa terbebani dengan ekspektasi yang tinggi, dan hal itu membuatnya sulit fokus pada hubungan jarak jauh.

Suatu malam, setelah hari yang melelahkan, Zayden mengirim pesan panjang kepada Kirana, mengungkapkan perasaannya yang campur aduk. Kirana membalas dengan kata-kata penguatan, berusaha menjadi pendukung kuat di sisi Zayden.

Mereka sadar, meski jarak memisahkan, cinta dan kepercayaan harus menjadi pondasi yang kuat agar hubungan mereka tidak rapuh. Mereka berjanji akan terus berjuang bersama, menembus segala rintangan yang menghadang.

Meskipun jarak dan kesibukan sering menguji hubungan mereka, Kirana dan Zayden tetap berusaha menjaga harapan dan cinta yang tumbuh di antara mereka. Setiap malam, sebelum tidur, mereka menyempatkan waktu untuk berbicara, meski hanya sebentar, sebagai pengingat bahwa mereka tidak sendiri.

Kirana mulai menulis surat—surat yang tidak selalu dikirim, tapi menjadi cara baginya untuk mengekspresikan perasaannya. Surat-surat itu berisi harapan, rindu, dan doa agar suatu hari mereka bisa melewati semua ini bersama-sama.

Di sisi lain, Zayden juga menyimpan pesan-pesan di ponselnya, mengingat kembali momen-momen manis yang mereka lalui. Setiap kali rasa lelah datang, ia membaca pesan itu sebagai penguat hati.

Suatu hari, Kirana mendapatkan kabar bahwa proyek di kantornya akan selesai lebih cepat dari perkiraan, memberinya kesempatan untuk mengunjungi Zayden. Rasa bahagia dan cemas bercampur aduk dalam dirinya.

Mereka merencanakan pertemuan itu dengan hati-hati. Pertemuan itu bukan hanya tentang melihat wajah satu sama lain, tapi juga tentang memperkuat cinta yang pernah hampir pudar.

Dengan segala usaha dan doa, mereka yakin bahwa harapan itu tidak pernah padam. Cinta mereka akan terus menyala, meskipun api itu terkadang redup karena jarak dan waktu.

Langit pagi itu cerah saat pesawat yang ditumpangi Kirana mendarat di kota tempat Zayden tinggal. Tangannya sedikit gemetar saat menggenggam ponsel, memastikan pesan terakhir dari Zayden benar: "Aku akan menunggumu di pintu kedatangan, jangan cemas."

Begitu ia keluar dari bandara, matanya langsung mencari-cari sosok pria yang dirindukannya selama berminggu-minggu. Dan di tengah kerumunan, ia menemukannya—Zayden, berdiri tegak, wajahnya sedikit lelah namun senyumnya tetap sama, menenangkan.

Kirana berlari kecil menghampirinya, dan dalam hitungan detik, mereka sudah dalam pelukan satu sama lain. Tanpa kata, hanya diam yang bermakna. Pelukan itu seperti penghapus seluruh rindu yang sempat menyesakkan dada.

Lihat selengkapnya