Langkah kaki mereka menjejak trotoar kota dengan ritme yang seirama. Zayden menggenggam tangan Kirana erat, seakan tak mau melepaskan lagi setelah sekian lama terpisah. Kirana, yang mengenakan gaun sederhana berwarna krem, terlihat begitu tenang meski matanya terus bergerak, mengamati jalanan yang masih terasa asing baginya.
"Aku nggak nyangka taman ini cuma lima belas menit dari apartemenmu," komentar Kirana saat mereka tiba di gerbang besi tua yang mengelilingi taman kecil itu.
Zayden terkekeh. "Dulu rasanya jauh banget. Soalnya tiap kali aku menelepon kamu dari sini, aku berharap bisa teleport langsung ke tempatmu."
Taman itu masih seperti yang diceritakan Zayden—pohon-pohon besar menaungi bangku-bangku kayu, jalur setapak melingkar, dan air mancur kecil di tengahnya yang memancurkan suara gemericik tenang. Beberapa anak kecil bermain kejar-kejaran, dan pasangan lansia duduk berdampingan di salah satu sudut, mengamati suasana pagi.
Mereka duduk di bangku kayu tua, tepat di hadapan air mancur. Kirana menoleh, mengamati Zayden dengan tatapan penuh arti.
"Dulu kamu bilang... kamu selalu ke sini waktu kamu ragu-ragu. Waktu kamu merasa terlalu jauh buat berharap," ucapnya lirih.
Zayden menatap air mancur di depan mereka. "Iya. Tapi sekarang aku di sini karena aku tahu harapan itu nyatanya kamu."
Kirana menunduk, memainkan ujung rambutnya dengan gelisah. "Zayden... aku sempat takut semuanya ini terlalu cepat. Kita baru mulai lagi, dan semuanya terasa seperti mimpi."
Zayden menarik napas dalam. "Aku juga takut, Kirana. Tapi aku lebih takut kalau kita kehilangan kesempatan ini lagi hanya karena kita terlalu sibuk meragukan masa depan."
Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya—selembar kertas yang tampak usang. Kirana menatapnya heran.
"Ini?" tanyanya sambil menerima kertas itu.
"Itu daftar hal-hal yang ingin kulakukan bersamamu. Waktu kita masih LDR. Aku tulis waktu malam-malam nggak bisa tidur," jawab Zayden.
Kirana membaca tulisan tangan Zayden yang agak miring:
Menyaksikan matahari terbit bersama
Berbagi sarapan buatan Kirana
Menemani Kirana nulis di kafe
Main hujan bareng
Bilang 'aku cinta kamu' langsung, bukan lewat ponsel
Tangannya gemetar saat membaca.
"Kita udah nyelesain nomor dua," ucapnya pelan.
Zayden mengangguk, lalu menyodorkan pulpen. "Mau bantu aku mencoret yang sudah kita lewati?"
Kirana tersenyum dan mencoret nomor dua dengan hati-hati.
Zayden memandangnya lama, sebelum berkata pelan, "Maukah kamu bantu aku menyelesaikan semuanya? Bukan dalam sehari... tapi dalam hidup kita?"
Kirana menatapnya, dan dalam tatapan itu ada ketulusan, keraguan yang mulai mencair, dan cinta yang kembali tumbuh.
Ia mengangguk. "Iya. Kita selesaikan bersama."
Kirana tidak pernah menyangka bahwa pagi hari di kota ini bisa terasa begitu hangat. Bukan karena cuacanya, tapi karena seseorang di sampingnya yang selalu tahu caranya membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat—Zayden. Setelah taman, mereka memutuskan untuk jalan kaki ke kafe kecil yang dulu sering disebut Zayden saat mereka masih berpisah jarak.
Kafe itu berada di ujung jalan, tersembunyi di balik toko buku tua. Namanya Suara Senja. Kirana membaca nama itu di papan kayu yang tergantung di atas pintu masuk.
"Ini kafe yang sering kamu ceritain?" tanyanya pelan.
Zayden mengangguk, mendorong pintu dengan senyum kecil. "Iya. Tempat paling sering kupakai untuk nulis pesan panjang buat kamu. Dan tempat aku nungguin jawaban dari kamu yang kadang... tiga hari baru dibalas."
Kirana tertawa pelan, malu. "Aku dulu takut jawabannya salah. Takut bikin kamu menjauh."