Fading Heartbeats

Penulis N
Chapter #20

20

Malam itu, mereka duduk berdampingan di lantai kamar yang sempit tapi hangat. Kirana memeluk lututnya, sementara Zayden bersandar di dinding dengan tangan masih menggenggam tangan Kirana. Keduanya tak lagi banyak bicara, tapi keheningan yang mengalir bukan jenis yang canggung. Ini adalah keheningan yang dipenuhi pengertian—seakan dua jiwa yang lelah akhirnya menemukan tempat untuk beristirahat.

"Aku sering ngebayangin kalau suatu hari kamu balik," ujar Zayden pelan, menatap langit-langit. "Tapi kenyataan selalu lebih aneh dari harapan."

Kirana terkekeh. "Aku juga sering mikir gitu. Kalau suatu hari aku balik, kamu pasti udah nggak ada di sini. Udah pindah, atau... udah nggak nunggu lagi."

Zayden menoleh. "Tapi aku masih di sini. Sama kayak dulu."

Kirana menatap wajahnya yang kini dihiasi cambang tipis dan mata yang lebih tenang dari yang ia ingat. "Kamu nggak sama kayak dulu, Zay."

Zayden mengangkat alis. "Nggak ya?"

Kirana menggeleng pelan. "Kamu sekarang lebih... dewasa. Dulu kamu lebih sering ngejar-ngejar impian tanpa mikir sakitnya. Sekarang kamu kayak orang yang pernah jatuh, tapi milih bangkit dengan cara yang nggak ribut."

Zayden tertawa kecil. "Itu efek ditinggalin orang yang paling aku percaya. Aku harus belajar berdiri sendiri."

Kirana menunduk. "Aku minta maaf."

"Udah kubilang tadi, kamu nggak perlu minta maaf," balas Zayden lembut. "Tapi kalau kamu butuh dimaafkan buat bisa mulai lagi, ya... aku maafin."

Kirana mengangguk pelan, lalu mengambil satu surat lagi dari dalam kotak. Ia membacanya sambil bersandar ke bahu Zayden.

"Hari ke-248. Hari ini aku ketemu lagu yang bikin aku langsung ingat kamu. Judulnya 'Kita yang Tak Sama'. Lucu ya, bahkan lirik lagu bisa bikin orang balik ke masa lalu. Tapi aku masih percaya, suatu hari nanti, kita akan nemuin waktu dan versi diri kita yang akhirnya selaras."

Kirana menutup surat itu dengan senyum haru. "Kamu beneran romantis dengan cara yang nggak biasa."

"Aku nulis semua itu waktu nggak ada yang bisa kupeluk, kecuali bayanganmu di kepala," ucap Zayden lirih. "Dan sekarang kamu di sini."

Suara hujan di luar mereda. Lampu meja yang remang-remang memantulkan cahaya hangat ke wajah mereka berdua. Kirana menengadah, menatap Zayden dengan sorot mata yang tak lagi ragu.

"Kalau kita mulai lagi," katanya perlahan, "boleh nggak kali ini kita nggak buru-buru?"

Zayden mengangguk, memeluknya pelan. "Kita punya waktu sekarang, Ran. Kita bisa jalan pelan, asal nggak saling ninggalin lagi."

Malam semakin larut, tapi untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, hati mereka terasa damai. Dan di antara dua tawa kecil yang terlontar pelan, cinta mereka kembali bertumbuh. Bukan cinta yang meledak seperti kembang api, tapi seperti lilin yang menyala tenang—cukup hangat untuk menerangi jalan pulang.

Pagi datang dengan aroma roti panggang dan suara gemerisik air dari dapur. Kirana membuka mata perlahan, matanya langsung menangkap bayangan Zayden yang berdiri di depan kompor, mengenakan hoodie lusuh dan celana pendek. Punggungnya tegap, gerakannya pelan tapi pasti, seperti orang yang sudah terbiasa tinggal sendiri.

Kirana duduk di ujung ranjang, menyelimuti dirinya dengan selimut tipis. Ada rasa hangat yang tak bisa ia jelaskan. Bukan hanya karena ruangan ini dipenuhi aroma kopi dan sarapan, tapi karena segalanya terasa seperti rumah. Rumah yang tak pernah ia sadari sedang menunggunya selama ini.

Zayden menoleh dan tersenyum. "Pagi. Aku bikin roti bakar, kamu masih suka selai stroberi kan?"

Kirana tersenyum kecil. "Kamu ingat?"

"Setiap hal kecil tentang kamu masih aku ingat," katanya sambil meletakkan dua piring ke meja kecil di sudut ruangan. "Aku bahkan ingat kamu nggak suka kopi hitam, jadi aku bikin teh."

Kirana berdiri dan menghampiri. Ia duduk, menatap roti yang hangus sedikit di pinggirnya dan teh yang masih mengepulkan uap. Kesempurnaan dalam ketidaksempurnaan. Seperti mereka.

Lihat selengkapnya