Malam itu, hujan turun perlahan seperti simfoni yang menenangkan. Rintik-rintiknya menari di atas jendela kafe yang telah ditutup, memantulkan cahaya lampu jalan yang temaram. Kirana duduk bersandar di sofa panjang dekat jendela, selimut tipis menyelimuti kakinya, dan secangkir teh hangat di tangan.
Zayden duduk di kursi seberangnya, sebuah buku di pangkuannya, tapi ia tak membacanya. Tatapannya lebih banyak tertuju pada Kirana—pada ketenangan yang mulai kembali membentuk dirinya. Ia memperhatikan cara gadis itu menatap keluar jendela, seolah mencari sesuatu di luar sana, atau mungkin... menatap ke dalam dirinya sendiri.
"Setelah semua ini," kata Kirana tiba-tiba, suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan, "aku masih takut."
Zayden meletakkan bukunya. "Takut tentang apa?"
"Takut kalau semua ini hanya sementara. Kalau kita cuma saling menyembuhkan, tapi akhirnya tetap akan berjalan ke arah yang berbeda." Ia menatapnya kini, matanya jujur dan terbuka.
Zayden tidak langsung menjawab. Ia menatap Kirana lama, mencoba memilih kata yang tak akan menyakitinya. Lalu, ia berkata pelan, "Kirana, mungkin kita memang saling menyembuhkan. Tapi... bukankah itu juga cinta? Saat kamu bisa menjadi rumah untuk seseorang yang patah, dan tetap memilih tinggal saat retaknya mulai pulih."
Kirana tersenyum tipis, menatap ke cangkirnya. "Aku tidak ingin jadi luka lagi untukmu."
"Dan aku tidak ingin jadi pelabuhan sementara untukmu," balas Zayden lembut. "Tapi yang kulihat sekarang adalah kamu yang kembali bukan karena lelah, tapi karena sadar."
Keheningan kembali mengisi ruang. Tapi itu bukan keheningan yang canggung. Itu keheningan yang menyembuhkan, yang memberi ruang untuk dua hati berdamai dengan masa lalu.
"Aku ingin tinggal," ucap Kirana akhirnya. "Bukan karena luka, bukan karena kenangan, tapi karena sekarang... karena kamu."
Zayden bangkit dari kursinya dan duduk di sebelah Kirana. Ia menggenggam tangan gadis itu, hangat dan penuh ketegasan.
"Kalau begitu, mari kita mulai dari sekarang," katanya. "Bukan dari yang lalu. Bukan dari yang pernah gagal. Tapi dari hari ini."
Hujan masih turun, tapi mereka sudah tidak peduli. Di dalam kafe kecil itu, dua hati yang pernah terluka kini memilih untuk bertumbuh bersama. Tanpa janji yang muluk, tanpa rencana sempurna. Hanya dua orang yang memutuskan untuk mencoba lagi... dan kali ini, bersama.
Pagi menyapa kota dengan cahaya hangat yang menembus tirai-tirai jendela. Udara masih menyimpan sisa embun, dan aroma kopi yang baru diseduh memenuhi kafe milik Zayden. Kirana duduk di salah satu meja dekat dapur, mencatat bahan-bahan yang akan dibeli hari ini. Rambutnya diikat asal, masih mengenakan kaus longgar dan celana katun, tapi senyumnya merekah seperti pagi itu sendiri.
Zayden menghampiri sambil membawa dua cangkir kopi. Ia meletakkannya di meja lalu menarik kursi untuk duduk di seberang.
"Jadi, kita belanja bareng hari ini?" tanyanya dengan nada menggoda.
Kirana mengangguk. "Kita butuh susu, cokelat bubuk, dan stroberi. Dan kamu harus belajar memilih sayur yang segar, oke? Jangan cuma lihat diskon."
Zayden tertawa. "Baiklah, Ibu Manajer."
Kirana mencibir. "Aku serius."
"Aku juga," sahut Zayden, masih tersenyum. "Serius pengen belajar apa pun asal bisa bareng kamu lebih lama."
Kirana menunduk sebentar, wajahnya bersemu. Ada rasa hangat yang perlahan tumbuh di dalam dirinya—rasa yang berbeda dari masa lalu mereka. Ini bukan hanya karena kenangan atau rasa bersalah. Ini adalah sesuatu yang baru. Seperti akar yang mulai tumbuh perlahan, tapi pasti.
Setelah menyelesaikan kopi mereka, keduanya bersiap keluar. Langit sudah benar-benar cerah, dan pasar pagi mulai ramai. Di antara kios-kios sayur dan tumpukan buah, Kirana menggandeng troli kecil, sementara Zayden membawa kantong belanja yang mulai berat.