Fading Heartbeats

Penulis N
Chapter #22

22

Langit mulai mendung saat Kirana menutup jendela kafe. Hujan tipis turun seperti bisikan dari langit yang enggan bersuara. Kafe sudah sepi, pelanggan terakhir baru saja pulang, meninggalkan aroma kopi yang masih menggantung di udara.

Zayden berdiri di dekat meja kasir, memutar cangkir kosong di tangannya. "Lucu, ya. Hujan biasanya membuatku murung, tapi sekarang rasanya justru menenangkan."

Kirana menyapu meja terakhir lalu menyeka peluh di dahinya. "Mungkin karena untuk pertama kalinya, kita tidak lagi membawa luka saat hujan turun."

Zayden menatap perempuan itu lama. "Kamu berubah, Kirana."

Kirana terkekeh pelan. "Kamu juga. Dulu kamu paling benci bicara soal masa lalu."

"Dan sekarang aku belajar, masa lalu bukan untuk dibenci. Tapi untuk diterima."

Keheningan menyusul. Di luar, hujan mulai deras. Tapi di dalam kafe, hangat. Lampu-lampu kuning menyorot lembut rak buku, meja kayu, dan dinding-dinding yang mereka cat bersama beberapa bulan lalu. Tempat itu bukan hanya bangunan. Itu rumah. Tempat luka disembuhkan, tempat tawa kembali diajarkan.

"Besok kita kirim balasan untuk Nayla," kata Kirana. "Entah dia akan membacanya atau tidak. Tapi aku ingin dia tahu bahwa... kita juga sudah memaafkan."

Zayden mengangguk. "Tapi apa yang akan kita tulis?"

Kirana menarik napas panjang. "Sesuatu yang sederhana. Bahwa kita baik-baik saja. Bahwa dia tidak lagi harus merasa bersalah. Bahwa kita semua akhirnya bisa berdamai."

Zayden menggenggam tangan Kirana. "Dan bahwa dia tetap bagian dari kisah kita."

Lampu kedap-kedip sebentar. Suara guntur menggema jauh di langit. Tapi tidak ada ketakutan. Tidak ada trauma yang datang bersama hujan seperti dulu. Malam itu, mereka duduk bersama, menatap jendela yang dihiasi tetesan air, dan mendengarkan simfoni alam seperti sepasang sahabat lama yang rujuk dengan kenangan.

"Menurutmu, apa Nayla bahagia sekarang?" tanya Kirana pelan.

"Aku harap begitu," jawab Zayden. "Kalau tidak, semoga dia tahu bahwa dia punya tempat untuk pulang. Meski bukan dalam bentuk yang dulu, tapi dalam rasa yang tetap hangat."

Kirana tersenyum. "Kamu jadi puitis, ya?"

"Efek hujan, mungkin."

Dan mereka tertawa, bersama-sama. Tawa yang ringan, jujur, dan penuh makna.

Di luar, hujan masih turun. Tapi untuk pertama kalinya sejak lama, hujan tidak lagi terasa dingin.

Pagi itu, Kirana duduk sendirian di sudut kafe dengan secangkir teh melati. Di hadapannya, selembar kertas bergaris yang sudah berulang kali diremas dan diluruskan kembali. Di pojok kanan atas tertulis: Untuk Nayla.

Ia menatap lembaran itu, pena di tangan kirinya sudah berhenti menari sejak sepuluh menit lalu. Kata-kata terasa terlalu kecil untuk menjelaskan semua yang ada di dadanya. Namun, tetap saja ia mencoba.

"Nayla,

Sudah lama sejak terakhir kali kita bertemu. Aku tak tahu apakah surat ini akan sampai padamu, atau bahkan jika kamu masih ingin mendengarnya. Tapi aku ingin menulis ini, untukmu, untukku, dan untuk masa lalu yang pernah kita bagi.

Kau tahu, butuh waktu lama untukku bisa memaafkan. Bukan karena aku membencimu, tapi karena aku membenci caraku menyalahkan diriku sendiri.

Lihat selengkapnya