Fading Heartbeats

Penulis N
Chapter #23

23

Pagi itu, Kirana dan Zayden memutuskan untuk berjalan-jalan di taman kota. Udara segar dan sinar matahari yang hangat membuat suasana menjadi lebih ringan dan ceria. Mereka berbicara tentang masa lalu, impian, dan hal-hal kecil yang dulu jarang mereka bagikan.

"Kirana, aku ingin tahu lebih banyak tentang masa kecilmu," kata Zayden sambil menatap wajahnya yang penuh rasa ingin tahu.

Kirana tersenyum pelan, memandang langit biru di atas mereka. "Aku tumbuh di kota kecil, dikelilingi keluarga yang sederhana tapi penuh cinta. Banyak kenangan indah yang aku simpan, terutama saat bermain di sungai dekat rumah nenek."

Zayden mengangguk. "Kedengarannya menyenangkan. Aku juga punya kenangan masa kecil yang tak kalah berharga. Meskipun keluargaku sibuk, ayah selalu menyempatkan waktu untuk mengajarkanku tentang kesabaran dan tanggung jawab."

Mereka terus berjalan, mengingat kembali jejak-jejak kenangan yang membentuk siapa mereka sekarang. Kadang, kenangan itu membuat mereka tertawa, kadang juga menghangatkan hati dengan rasa haru.

Di sebuah bangku taman, mereka berhenti dan duduk berdampingan. Kirana menatap Zayden, merasa ada kedekatan yang makin dalam antara mereka. "Aku senang kita bisa berbagi seperti ini. Rasanya seperti membuka lembaran baru dalam hidupku."

Zayden menggenggam tangan Kirana, mengeratkan ikatan yang sudah terjalin. "Aku juga, Kirana. Aku merasa kita tidak hanya bertemu oleh kebetulan, tapi karena ada alasan yang lebih besar."

Hening sejenak menyelimuti mereka, diiringi suara alam yang damai. Kedua hati itu saling menyatu, membentuk ikatan yang tak mudah terputus.

Saat matahari mulai menurun, mereka beranjak pulang dengan perasaan ringan dan penuh harapan. Jejak kenangan mereka kini menjadi fondasi kuat bagi kisah cinta yang sedang tumbuh.

Di tengah perjalanan pulang, Kirana berpikir bahwa setiap langkah yang mereka ambil hari ini membawa mereka lebih dekat pada masa depan yang penuh cinta dan kebahagiaan.

Senja menyelimuti kota dengan warna jingga keemasan, memancarkan kehangatan yang menenangkan hati. Kirana berdiri di balkon apartemennya, memandangi langit yang perlahan gelap. Di tangannya, ia menggenggam sebuah surat kecil yang baru saja diterimanya.

Surat itu dari Zayden.

Isi suratnya sederhana, tapi penuh makna. Zayden menuliskan betapa berharganya Kirana bagi hidupnya, dan bagaimana ia ingin selalu ada di sisinya, melewati segala suka dan duka.

Kirana menghela napas panjang, membiarkan perasaan haru mengalir. Ia tahu, janji yang terkandung dalam surat itu bukan sekadar kata-kata kosong. Zayden benar-benar ingin membangun masa depan bersama.

Tiba-tiba, ponsel Kirana bergetar. Sebuah pesan masuk dari Zayden.

"Bisa kita bertemu? Aku ingin mengatakannya langsung."

Tanpa ragu, Kirana membalas dan segera bersiap. Ia mengenakan pakaian sederhana tapi rapi, lalu turun menuju kafe favorit mereka yang tidak jauh dari apartemennya.

Sesampainya di kafe, Zayden sudah menunggu dengan senyum hangat. Mereka saling bertukar pandang, dan seketika dunia terasa berhenti.

"Kirana," kata Zayden pelan, "Aku tahu perjalanan kita tidak selalu mudah. Banyak rintangan yang harus kita hadapi. Tapi aku ingin berjanji padamu, aku akan selalu ada, mendukungmu, dan mencintaimu dengan sepenuh hati."

Kirana menatap mata Zayden yang tulus, dan hatinya bergetar. "Aku juga ingin berjanji, Zayden. Bahwa aku akan berjuang bersama kamu, apa pun yang terjadi."

Mereka saling menggenggam tangan, merasakan hangatnya janji yang terucap. Senja di luar jendela semakin pekat, tapi di dalam hati mereka, ada cahaya yang semakin terang.

Lihat selengkapnya