Fading Heartbeats

Penulis N
Chapter #24

24

Pagi hari yang cerah menyapa Kirana dengan sinar matahari lembut menyelinap lewat tirai jendela kamar. Ia membuka matanya perlahan, merasakan hangatnya cahaya menyentuh kulit. Namun, di balik keindahan pagi itu, ada perasaan campur aduk yang masih mengusik pikirannya.

Kirana duduk di tepi ranjang, memegang ponselnya yang berdering beberapa kali semalam. Pesan-pesan dari Zayden masih membekas di hatinya. Mereka belum bertemu secara langsung sejak malam terakhir itu, tapi komunikasi mereka semakin intens dan penuh makna.

Dengan langkah ringan, Kirana menuju balkon apartemen. Ia menatap langit biru yang bersih, menghirup udara pagi yang segar. Namun, pikirannya malah terbang kembali ke masa lalu, ketika ia masih penuh dengan keraguan dan luka yang belum sembuh.

"Kenapa aku begitu takut untuk percaya lagi?" pikirnya. "Apakah luka lama itu terlalu dalam untuk disembuhkan?"

Tiba-tiba, suara notifikasi membuatnya terkejut. Sebuah pesan dari Zayden masuk dengan sebuah undangan untuk bertemu di sebuah kafe kecil yang hangat di pusat kota.

"Aku ingin kita bertemu, bicara lebih banyak secara langsung. Aku percaya ini penting," tulisnya.

Kirana termenung. Ia tahu, pertemuan itu mungkin akan menjadi langkah besar bagi hubungan mereka. Ia bisa memilih untuk tetap dalam zona nyaman pesan teks, atau berani membuka diri secara nyata.

Setelah beberapa saat berpikir, Kirana memutuskan untuk menerima undangan itu. Ia merasa ini saatnya untuk berani, untuk menghapus keraguan dan mulai membangun kepercayaan.

Ia menyiapkan dirinya dengan hati-hati. Memilih pakaian yang sederhana tapi rapi, merapikan rambut, dan memberi sedikit sentuhan make-up agar terlihat segar. Di cermin, ia menatap wajahnya sendiri dan tersenyum kecil.

"Ayo, Kirana. Kamu bisa lakukan ini," katanya pada diri sendiri.

Ketika tiba di kafe, Kirana melihat Zayden sudah menunggu di sudut ruangan dengan senyum hangat. Mata mereka bertemu dan seolah ada kehangatan yang langsung mengalir antara keduanya.

"Terima kasih sudah datang," ucap Zayden sambil berdiri untuk menyambut.

"Tidak masalah. Aku pikir ini memang saatnya kita bicara lebih jujur," jawab Kirana.

Mereka duduk berseberangan, memesan kopi hangat, dan mulai membuka hati satu sama lain. Zayden bercerita tentang masa lalunya, tentang perjuangan yang ia lalui dan harapannya untuk masa depan bersama Kirana. Kirana pun dengan hati terbuka menceritakan rasa takut dan harapannya yang selama ini ia pendam.

Percakapan itu berlangsung hangat, penuh tawa, dan sesekali hening yang nyaman. Mereka belajar memahami satu sama lain lebih dalam, menelusuri jejak-jejak yang tertinggal di hati masing-masing.

Sore itu, saat mereka berpisah, Kirana merasa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Tidak hanya rasa nyaman, tapi juga sebuah keyakinan bahwa cinta yang mereka bangun bukanlah sekadar harapan kosong.

Saat melangkah pulang, Kirana menatap langit yang mulai memerah oleh senja. Ia tahu perjalanan mereka masih panjang, tapi ia siap melangkah dengan hati yang lebih berani dan penuh percaya.

Seusai pertemuan di kafe, Kirana berjalan menyusuri jalanan kota yang mulai dipenuhi bayangan senja. Udara yang mulai sejuk mengiringi langkahnya, sementara pikirannya masih menggelayut pada percakapan hangat bersama Zayden tadi sore.

Satu hal yang pasti, pertemuan itu membuka ruang baru dalam hatinya. Selama ini, ia sering merasa ragu dan takut untuk mempercayai seseorang lagi. Namun kini, dengan perlahan, ia mulai merasakan getaran harapan yang menguat.

Di sisi lain, Zayden juga menyimpan perasaan yang sama. Ia tahu, kepercayaan Kirana bukan sesuatu yang mudah didapatkan. Ia harus bersabar dan terus menunjukkan kesungguhan. Tidak hanya lewat kata-kata, tetapi juga melalui tindakan.

Malam itu, setelah pulang ke apartemennya, Zayden menatap ponsel dengan senyum tipis. Ia mengirim pesan singkat untuk Kirana.

Lihat selengkapnya