Keesokan harinya, Kirana duduk di meja kerjanya dengan pikiran yang kacau. Surat anonim yang diterimanya semalam terus berputar di benaknya. Isinya singkat, namun penuh ancaman: "Masa lalu belum selesai. Jangan biarkan kebenaran terungkap."
Jantung Kirana berdegup kencang saat membaca kata-kata itu. Siapa yang mengirim surat ini? Apa maksud sebenarnya? Rasa takut dan penasaran bercampur jadi satu.
Ia berusaha menghubungi Zayden, tapi teleponnya tak diangkat. Kirana merasa semakin cemas. Ia tahu, Zayden pasti sedang sibuk, tapi perasaan gelisah membuatnya ingin segera bertemu dan berbagi semua ini.
Saat akhirnya Zayden datang, Kirana langsung memberinya surat itu. Wajah Zayden berubah serius. Ia membaca surat itu dengan saksama, kemudian menatap Kirana dalam-dalam.
"Kirana, kita harus waspada. Ini bukan ancaman biasa. Ada seseorang yang ingin mengganggu kita, atau lebih buruk lagi, ingin menggali masa lalu yang selama ini tersembunyi," ucap Zayden dengan suara rendah tapi tegas.
Kirana menelan ludah. "Apa yang harus kita lakukan?"
Zayden menghela napas panjang. "Kita akan cari tahu siapa pengirimnya. Tapi kamu harus tetap tenang dan jangan panik. Aku di sini untuk kamu."
Mereka mulai menyusun rencana. Zayden mengajak Kirana ke kantor detektif pribadi yang pernah ia kenal. Detektif itu, seorang pria paruh baya bernama Pak Harun, dikenal mampu mengungkap rahasia dengan cepat dan tepat.
Di kantor Pak Harun, mereka menyerahkan surat itu sebagai bukti. Pak Harun mengangguk dan mulai bekerja. Beberapa jam kemudian, dia kembali dengan laporan.
"Surat ini dikirim dari alamat yang cukup jauh dari sini, tapi jejak digitalnya mengarah ke seseorang yang dulu pernah terlibat dalam urusan masa lalu Kirana," jelas Pak Harun.
Kirana terkejut. "Maksudnya siapa?"
"Ada nama, tapi aku belum bisa pastikan siapa dia sebenarnya. Tapi yang pasti, orang ini masih menyimpan dendam lama dan berusaha mengganggu kehidupan kalian."
Zayden memegang tangan Kirana, memberikan kekuatan tanpa kata. "Kirana, kita akan hadapi ini bersama. Masa lalu memang tidak mudah, tapi kita tidak akan membiarkan itu menghancurkan masa depan kita."
Kirana mengangguk, merasa sedikit lega karena tidak harus menghadapi semuanya sendiri. Namun, rasa waspada tetap menggelayut di hatinya.
Malam itu, sebelum tidur, Kirana menatap langit-langit kamar. Ia berdoa agar semua cobaan ini segera berakhir. Ia yakin, selama mereka bersama, cinta mereka bisa mengalahkan segala ketakutan dan ancaman.
Pagi itu, suasana di rumah Zayden dan Kirana terasa berbeda. Keduanya bangun dengan perasaan campur aduk antara waspada dan harap. Setelah berbincang dengan Pak Harun semalam, mereka sadar bahwa ancaman bukan sekadar bayangan, tapi nyata.
Zayden duduk di ruang tamu sambil menatap secangkir kopi yang mulai mendingin. Ia tahu, dari sini hidup mereka akan berubah. "Kirana, aku akan terus memantau semuanya. Aku nggak akan biarkan kamu sendirian," ujarnya pelan.
Kirana mengangguk, mencoba menguatkan diri. "Aku juga harus berani menghadapi ini, Zay. Kalau aku takut, siapa yang akan melindungi kita?"
Tak lama setelah itu, ponsel Zayden bergetar. Pesan masuk dari Pak Harun: "Aku sudah mulai mencari tahu tentang orang di balik surat itu. Ada beberapa nama yang muncul, tapi aku butuh waktu lebih untuk memastikan."