Bau formalin selalu datang lebih dulu daripada suara dosen.
Begitu pintu ruang praktikum dibuka, udara dingin bercampur aroma tajam bahan pengawet menyusup ke balik masker Ren Tachibana. Ia berhenti sepersekian detik di ambang pintu, bukan karena jijik. Tubuhnya hanya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan suhu ruangan yang lebih rendah daripada koridor.
Di dalam, meja-meja stainless steel tersusun dalam barisan rapi. Lampu fluoresen putih menggantung rendah dari langit-langit, memantulkan kilap dingin pada permukaan logam. Beberapa mahasiswa sudah mengenakan jas laboratorium dan sarung tangan. Suara kursi digeser, kertas modul dibalik, dan bisikan pendek tentang struktur anatomi bercampur menjadi dengung yang nyaris monoton.
Ren masuk tanpa menyapa siapa pun.
Ia menggantung tasnya, mengenakan sarung tangan, lalu berdiri di sisi meja kelompoknya.
"Kelompok tiga. Mulai."
Instruktur memberikan arahan terakhir sebelum penutup preparat dibuka.
Beberapa mahasiswa menelan ludah.
Ren tidak.
Ketika jaringan tubuh manusia yang telah diawetkan terbuka di hadapannya, ia hanya menundukkan kepala sedikit.
"Identifikasi struktur pertama."
"Musculus pectoralis major."
Jawabannya keluar segera.
"Berikutnya?"
"Vena cephalica."
Tidak ada getaran dalam suaranya. Tidak ada perubahan pada wajahnya.
Mahasiswa di sebelahnya sempat melirik.
"Kamu nggak apa-apa?"
Ren mengangkat mata.
"Kenapa?"
"Ya... biasanya orang pertama kali praktikum begini kelihatan—"
"Kalau kamu kesulitan, fokus ke bagianmu."
Nada suaranya tidak kasar. Justru terlalu tenang.
Temannya terdiam.
Ren kembali menunduk.
Ia tahu tubuh di hadapannya bukan sekadar objek praktikum. Ia tahu ada seseorang yang pernah hidup di dalam tubuh itu. Pernah memiliki nama. Pernah merasa lapar, takut, jatuh cinta, mungkin pernah berdiri di depan cermin sambil bertanya apakah dirinya cukup baik untuk dunia.
Ia tahu semua itu.
Pengetahuan tersebut tidak menghasilkan apa-apa.
Tidak sedih.
Tidak takut.
Tidak hormat dalam bentuk emosi yang bisa ia rasakan.
Hanya fakta.
Tubuh adalah struktur.
Struktur dapat dibagi.
Diberi nama.
Dihafalkan.
Diuji.
Selesai.
Ren menggerakkan pinset dengan tangan yang stabil.
Di dalam kepalanya, sesuatu yang lebih sulit dipelajari daripada anatomi manusia justru terasa semakin tidak memiliki bentuk.
Dirinya sendiri.
"Ren."
Suara instruktur memotong konsentrasinya.
Ren mengangkat kepala.
"Ya, sensei?"
"Jelaskan hubungan struktur ini dengan—"
Ia menjawab.
Lengkap.
Presisi.
Tanpa perlu membuka buku.
Instruktur mengangguk puas.
"Bagus."
Satu kata.
Di ruangan itu, kata tersebut seharusnya terasa seperti penghargaan.
Ren hanya menurunkan pandangan.
Bagus.
Nilai bagus.
Ranking bagus.
Universitas bagus.
Fakultas bagus.
Masa depan bagus.
Semuanya bagus.
Hanya dirinya yang tidak tahu harus merasa apa.
Ketika praktikum berakhir, mahasiswa lain mulai bercakap-cakap sambil melepas sarung tangan.
"Besok ada kuis fisiologi, kan?"
"Katanya susah."
"Kamu sudah belajar?"
Ren memasukkan modul ke tas.
Ponselnya bergetar.
Satu nama muncul di layar.
Ayah.
Jari Ren berhenti di atas layar.
Getaran kedua datang.
Ia mengangkat telepon.
"Ya."
"Sudah selesai?"
"Sudah."
"Bagaimana hasilnya?"
"Praktikumnya berjalan lancar."
"Itu bukan yang kutanyakan."
Ren diam.
Suara Kenji Tachibana terdengar berat dari seberang. Bahkan melalui sambungan telepon, intonasi ayahnya selalu terdengar seperti suara seseorang yang sedang membaca hasil pemeriksaan pasien.
"Nilai kuis anatomi minggu lalu."
"Keluar besok."
"Prediksimu?"
"Belum tahu."
"Ren."
Satu kata.
Hanya namanya.
Namun bahu Ren otomatis menegang.
"Kalau belum tahu, berarti kamu belum cukup menguasai materi."
Ren menarik napas pelan.
Di sekelilingnya, mahasiswa lain beranjak meninggalkan ruangan. Pintu dibuka dan ditutup. Suara langkah menjauh.
"Aku sudah belajar."
"Belajar bukan ukuran. Hasil yang menjadi ukuran."
Ren menatap wastafel di ujung ruangan. Ada sisa cairan bening mengalir menuju saluran pembuangan.
"Baik."
"Dan jangan terlalu banyak kegiatan yang tidak berhubungan dengan kedokteran."
Ren tidak menjawab.
Kenji melanjutkan.
"Kau tahu apa yang kuharapkan."
Ya.
Ren tahu.
Sejak kecil ia tahu.
Nilai tertinggi.
Universitas terbaik.