Malam membuat kamar Ren terdengar lebih luas daripada ukurannya.
Tidak ada suara televisi dari lantai bawah. Tidak ada langkah ayahnya di koridor. Tidak ada bunyi piring dari ruang makan. Hanya dengung pendingin udara dan suara halaman buku yang dibalik perlahan.
Ren duduk di depan meja belajarnya dengan punggung tegak.
Lampu meja menyinari tumpukan buku kedokteran, laptop, beberapa lembar catatan, dan satu benda yang seharusnya tidak berada di antara semua itu.
Brosur audisi.
PROJECT ECLIPSE.
Ia membukanya lagi.
Kemudian menutupnya.
Membukanya sekali lagi.
Ren mengembuskan napas melalui hidung.
"Ini bodoh."
Tidak ada yang menjawab.
Ia memutar kursinya menghadap laptop.
Layar menampilkan puluhan tab penelitian.
Ia tidak sedang mencari cara menjadi idol.
Setidaknya, itulah yang terus ia katakan kepada dirinya sendiri.
Ia sedang mencari kemungkinan.
Perbedaan kecil di antara kedua istilah itu terasa sangat penting.
Ren membuka dokumen kosong.
Di bagian paling atas ia mengetik:
SUBJEK: REN TACHIBANA
Jarinya berhenti.
Ia menghapusnya.
Mengetik lagi.
SUBJEK: DIRI SENDIRI
Lebih baik.
Lebih dingin.
Lebih aman.
Ia mulai menuliskan apa yang ia ketahui mengenai tubuhnya. Tinggi badan. Berat badan. Riwayat kesehatan. Respons tubuh terhadap stres. Pola tidur. Kondisi kulit. Distribusi rambut tubuh. Suara.
Semua ditulis seperti laporan kasus.
Tidak ada nama.
Tidak ada perasaan.
Hanya data.
Namun setelah beberapa menit, Ren menyadari sesuatu.
Tangannya gemetar.
Sangat halus.
Ia menatap jemarinya sendiri.
Kemudian menggenggamnya.
Getaran itu berhenti.
"Fokus."
Ia kembali membaca.
Literatur tentang terapi hormon terbuka di layar. Ia berpindah dari artikel akademik ke pedoman klinis, dari pedoman klinis ke laporan pasien, lalu kembali ke sumber akademik setiap kali menemukan informasi yang terlalu anekdotal.
Ren tidak mencari keajaiban.
Ia mencari batas.
Apa yang dapat berubah.
Apa yang tidak dapat berubah.
Apa yang membutuhkan waktu.
Apa yang membawa risiko.
Dan apa yang mungkin tidak pernah bisa ia kendalikan.
Semakin lama ia membaca, semakin sedikit rasa lega yang ia dapatkan.
Tubuh manusia bukan mesin yang dapat diberi perintah lalu berubah sesuai keinginan.
Ada variasi biologis.
Ada efek samping.
Ada interaksi.
Ada ketidakpastian.
Ada konsekuensi.
Ren menyandarkan tubuh ke kursi.
Di layar, kata monitoring muncul berulang kali.
Pemantauan.
Pemeriksaan.
Evaluasi.
Tenaga medis.
Ia tersenyum tipis.
Ironis.
Ia bahkan sedang belajar menjadi dokter, tetapi untuk bagian tubuhnya sendiri ia justru ingin menjadi pasien yang tidak terlihat.
Ia membuka laci.
Di dalamnya terdapat sebuah wadah kecil yang diperolehnya melalui jalur yang tidak ingin ia pikirkan terlalu lama.
Ren tidak menyentuhnya.
Ia hanya menatap.
Beberapa detik.
Kemudian lebih lama.
Ada sensasi aneh di tenggorokannya.
Takut.
Bukan terhadap obat itu saja.
Melainkan terhadap kemungkinan bahwa sesuatu benar-benar bisa berubah.
Selama bertahun-tahun, ia terbiasa dengan penderitaan yang tidak bergerak.
Jika perubahan terjadi, seluruh keseimbangan palsu yang dibangun keluarganya mungkin ikut bergerak.
Ren menutup laci.
"Belum."
Kata itu keluar lirih.
Ia tidak membuang benda tersebut.
Tetapi malam itu ia juga tidak menggunakannya.
Ia kembali membaca.
Sampai angka jam di sudut laptop berubah melewati tengah malam.
Dua malam kemudian, Ren duduk sendirian di sudut perpustakaan kampus.
Lampu-lampu besar di langit-langit membuat meja kayu terlihat pucat. Sebagian besar mahasiswa telah pulang. Hanya beberapa orang yang masih bertahan dengan kopi kaleng dan tumpukan buku.
Ren membuka jurnal elektronik melalui komputer kampus.
Ia memakai earphone tanpa memutar apa pun.
Kebiasaan.
Ia tidak ingin orang lain mendengar apa yang sedang ia cari.
Kata kunci yang diketiknya semakin spesifik.
Bukan hanya terapi hormon.
Ia mencari perubahan komposisi tubuh, kulit, rambut, suara, dan perkembangan karakteristik seksual sekunder.
Setiap informasi ia salin ke catatan.
Bukan untuk menghafal.
Untuk memahami.
Di layar berikutnya, ia menemukan sesuatu yang membuatnya berhenti.
Perubahan suara tidak bekerja seperti perubahan jaringan tubuh lainnya.
Ren menatap paragraf tersebut cukup lama.
Ia menyentuh tenggorokannya.
Suara adalah salah satu hal yang paling sulit ia sembunyikan.
Ia menutup jurnal.
Kemudian membuka artikel mengenai teknik vokal.
Ren membaca istilah-istilah dasar, menonton beberapa demonstrasi pelatihan suara, lalu membuat catatan sendiri.
Tidak perlu menjadi suara yang tinggi.
Yang dibutuhkan adalah kontrol.
Resonansi.
Pola bicara.
Artikulasi.
Intonasi.
Ia menulis satu kalimat.
Jangan membuat suara perempuan. Bangun cara bicara Rin.
Ren membaca kalimat itu.
Keningnya berkerut.
Nama tersebut belum ada.
Namun entah mengapa, ketika ia mengetiknya, sesuatu di dalam dadanya bergerak.
Ia menutup laptop.
Menatap jam.
Pukul sebelas lewat.