Pagi di Shinjuku selalu terasa seperti seseorang telah menyalakan terlalu banyak mesin sekaligus.
Kereta datang dan pergi. Pintu otomatis terbuka dan menutup. Sepatu beradu dengan lantai stasiun. Pengumuman terdengar dari pengeras suara, tertelan percakapan manusia yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Ren Tachibana berdiri di tengah arus itu dengan sebuah tas kanvas kecil di tangan.
Jantungnya berdetak terlalu cepat.
Bukan karena takut terlambat.
Ia sudah tiba empat puluh menit lebih awal.
Yang membuat telapak tangannya lembap adalah isi tas itu.
Blus sederhana berwarna pucat.
Rok hitam selutut.
Sepasang sepatu datar.
Kosmetik secukupnya.
Dan wig hitam kecokelatan yang telah dipersiapkannya selama berminggu-minggu.
Ren menatap papan petunjuk stasiun.
Shinjuku.
Ia mengembuskan napas.
Hari ini seharusnya ia berada di kampus.
Ada kuliah.
Ada tugas.
Ada kehidupan yang dapat dijelaskan kepada siapa pun tanpa harus berbohong.
Namun pagi ini, untuk pertama kalinya, ia berjalan menuju alamat yang tercetak di brosur ECLIPSE.
Sebuah gedung tua di jalan yang lebih sempit, beberapa blok dari pusat keramaian.
Vivid Prominence.
Nama itu tercetak pada papan kecil di depan bangunan.
Tidak mewah.
Tidak mengesankan.
Cat di sekitar pintu bahkan tampak mulai kusam.
Ren berhenti di seberang jalan.
Ia menatapnya.
"Masih bisa pulang."
Kalimat itu keluar pelan.
Tidak ada yang menjawab.
Ren memegang tali tas lebih erat.
Kemudian berbalik menuju sebuah toilet umum di dekat stasiun.
Di dalam bilik toilet, suara keran mengalir tanpa henti.
Ren mengunci pintu.
Baru setelah memastikan tidak ada kaki lain berhenti di depan bilik, ia membuka tas.
Tangannya bergerak sistematis.
Blus.
Rok.
Sepatu.
Kosmetik.
Tidak ada satu pun gerakan yang terburu-buru.
Namun napasnya tidak pernah benar-benar tenang.
Ia mengganti pakaian dengan hati-hati, lalu berdiri menghadap pintu bilik.
Pakaian tersebut sederhana.
Tidak mencolok.
Tidak ada ornamen berlebihan.
Tidak ada usaha membuat dirinya terlihat seperti seseorang yang jauh lebih dewasa.
Hanya siluet yang berbeda dari pakaian kuliah yang biasa dikenakannya.
Ren menatap tubuhnya sekilas.
Ada kecanggungan yang langsung muncul.
Kain terasa berbeda ketika bergerak.
Rok membatasi panjang langkahnya.
Sepatu datar mengubah cara telapak kakinya menapak.
Hal-hal kecil.
Namun justru hal-hal kecil itulah yang membuat keberadaannya sebagai Ren terasa semakin jauh.
Ia membuka kotak kosmetik.
Sedikit concealer.
Bedak tipis.
Alis dirapikan.
Tidak lebih.
Kemudian wig.
Ren memasangnya perlahan.
Ia mengangkat kepala.
Mencari pantulan dirinya di cermin kecil yang menempel di pintu bilik.
Wajah yang muncul masih miliknya.
Tentu saja.
Tidak ada sihir.
Tidak ada perubahan ajaib.
Hanya rambut yang membingkai wajah dengan cara berbeda, pakaian yang mengubah siluet, dan beberapa penyesuaian kecil yang membuat garis wajahnya tampak lebih lembut.
Ren menatap pantulan itu.
"Ren."
Ia mendengar suaranya sendiri.
Kemudian menarik napas.
"Rin."
Nama itu terdengar berbeda.
Ia mencoba lagi.
"Rin."
Kali ini ia mengangkat sudut bibirnya.
Tidak terlalu lebar.
Tidak dibuat manis.
Hanya senyum kecil.
Senyum yang sudah ia latih di depan cermin.
Ia memiringkan kepala.
Bahu diturunkan.
Tangan dibiarkan rileks di sisi tubuh.
Ia tidak boleh berpura-pura menjadi perempuan dengan setiap gerakan.
Ia hanya perlu berhenti bergerak seperti Ren.
Pintu bilik di luar terbuka.
Suara dua perempuan masuk.
Ren langsung membeku.
"Eh, ada audisi Vivid Prominence hari ini, kan?"
"Iya. Aku deg-degan banget."
"Kamu sudah latihan?"
"Semalaman."
Tawa kecil.
Ren menahan napas.
Ia tidak bergerak sampai suara langkah mereka menjauh.
Kemudian ia membuka pintu.
Cermin besar di depan wastafel memantulkan sosoknya secara utuh.
Untuk sesaat Ren tidak mengenali dirinya.
Bukan karena wajah itu berubah.
Karena posturnya berubah.
Kepala sedikit lebih tegak.
Bahu tidak lagi ditarik ke depan.
Langkahnya lebih kecil.
Gerakannya lebih lembut.
Dan ketika ia menatap matanya sendiri, ada sesuatu yang tidak pernah muncul ketika ia mengenakan jas kuliah.
Keinginan.
Ren meraih tasnya.
Ia tidak tersenyum.
Namun kali ini ia tidak mengatakan bahwa semua ini adalah kesalahan.
Ia keluar dari toilet.
Ruang tunggu audisi berada di lantai dua.
Begitu Ren membuka pintu, suara percakapan langsung menghantamnya.
Puluhan peserta duduk di kursi yang disusun sepanjang dinding.
Sebagian membawa map.
Sebagian memegang botol air.
Ada yang melakukan pemanasan suara dengan suara pelan. Ada yang menunduk membaca lirik dari ponsel. Beberapa peserta terlihat sudah mengenakan pakaian panggung meski audisi baru akan dimulai.
Ren berhenti di pintu.
Beberapa kepala menoleh.
Kemudian lebih banyak.
Pandangan mereka tidak seragam.
Ada yang penasaran.
Ada yang menilai.
Ada yang langsung kembali melihat ponsel.
Namun beberapa orang menatap Ren sedikit lebih lama.
Ren tahu mengapa.
Penampilannya tidak mudah ditempatkan.
Wajahnya memiliki kelembutan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan stereotip perempuan Jepang yang mereka bayangkan.
Tubuhnya ramping.
Rambut wig membingkai wajah.