[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #4

Diagnosa Sang Manajer

Sore telah turun ketika pesan itu masuk.

Ren sedang duduk di ruang tunggu lantai dua Vivid Prominence, membaca lembar informasi tahap berikutnya, ketika ponselnya bergetar.

Ryuuto Saeki

Datang ke ruang evaluasi. Sendirian.

Ren membaca pesan itu dua kali.

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada salam.

Tidak ada perkiraan durasi.

Ia mengangkat kepala.

Di ujung koridor, Ryuuto sedang berbicara dengan seorang staf. Pria itu berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana, sesekali mengangguk mendengarkan. Tidak ada yang aneh dari sikapnya.

Namun entah mengapa, tengkuk Ren terasa dingin.

Ia kembali melihat layar ponselnya.

Sendirian.

Ren memasukkan ponsel ke tas.

Kemudian berdiri.

Langkahnya menuju ruang evaluasi terasa terlalu jelas di telinganya sendiri.

Ruang itu berbeda dari ruang audisi.

Lebih kecil.

Tidak ada kamera.

Tidak ada cermin.

Hanya sebuah meja panjang, dua kursi, lemari arsip, dan jendela yang menghadap gedung-gedung Shinjuku.

Cahaya sore masuk melalui tirai setengah tertutup.

Ryuuto sudah berada di dalam.

Ia duduk sambil membaca sebuah map.

"Masuk."

Ren menutup pintu.

Klik.

Suara kunci pintu tidak terdengar.

Namun ketika pintu tertutup, ruangan itu terasa seperti mengecil.

Ryuuto menunjuk kursi di seberangnya.

"Duduk."

Ren duduk.

Punggungnya tegak.

Tangannya diletakkan di atas paha.

Ryuuto tidak langsung berbicara.

Ia membuka map.

Satu lembar.

Dua lembar.

Kemudian berhenti.

"Rin."

"Ya?"

"Aku mau memastikan beberapa hal sebelum kita melangkah ke tahap berikutnya."

Ren mengangguk.

"Silakan."

Ryuuto mengangkat satu lembar formulir.

"Nama legal."

Ren menjawab.

"Rin."

"Nama legal."

Kali ini lebih tegas.

Ren merasakan ujung jarinya menekan telapak tangan.

"Sudah saya tulis di formulir."

"Aku tahu."

Ryuuto meletakkan formulir itu.

"Makanya aku bertanya."

Ren diam.

Ryuuto bersandar.

"Kamu mengisi nama panggung di bagian yang seharusnya diisi nama legal."

"Itu kesalahan administratif."

"Benarkah?"

Ren menatapnya.

"Ya."

Ryuuto tersenyum tipis.

Bukan senyum ramah.

Lebih seperti seseorang yang baru menemukan bahwa lawan bicaranya sedang memainkan permainan yang sama.

"Kalau begitu kita mulai dari sana."

Ia mengeluarkan dokumen lain.

"Kartu identitas yang kamu berikan tidak konsisten dengan informasi pada formulir pendaftaran."

Dada Ren terasa sesak.

Tidak banyak.

Hanya sedikit.

Namun cukup untuk membuat napas berikutnya terasa lebih pendek.

"Bagian mana?"

Ryuuto menggeser dokumen ke tengah meja.

"Jenis kelamin."

Ren menunduk.

Matanya menangkap satu kolom.

Ia tahu.

Sejak awal ia tahu bagian itu akan menjadi masalah.

Namun melihatnya dicetak di atas kertas terasa berbeda.

Lebih nyata.

Ryuuto mengetuk kolom tersebut dengan telunjuk.

"Kamu menuliskan profil artis perempuan."

Ren tidak menjawab.

"Tapi dokumen legalmu mengatakan sesuatu yang berbeda."

Ruangan menjadi sunyi.

Suara kendaraan dari jalan di bawah terdengar samar melalui kaca.

Ren mengangkat wajah.

"Apakah itu masalah?"

"Kalau kamu bertanya sebagai calon artis, iya."

"Kenapa?"

"Karena kontrak tidak dibuat dengan karakter."

Ryuuto menatapnya.

"Kontrak dibuat dengan orang."

Ren menelan ludah.

Ia menjaga ekspresi tetap netral.

"Kalau identitas panggung saya diterima, saya tidak melihat masalahnya."

"Kamu pintar."

Ryuuto tersenyum.

"Tapi kamu menjawab pertanyaan yang berbeda."

Ryuuto membuka map berikutnya.

Ada foto.

Bukan foto pribadi.

Foto dari audisi.

Ren berdiri di tengah ruangan dengan pakaian yang sama seperti hari itu.

Rambut wig.

Postur sedikit lebih tegak.

Senyum yang telah ia latih.

Ryuuto menunjuk layar ponselnya yang menampilkan foto tersebut.

"Di sini kamu kelihatan berbeda."

Ren tidak menjawab.

"Ketika masuk ruangan, bahumu lebih kaku."

Ryuuto memperagakan sedikit dengan tubuhnya.

"Begitu musik mulai, semuanya berubah."

Ia mengetuk foto.

"Seolah-olah tubuhmu tahu siapa yang harus menjadi dirinya."

Ren merasakan tenggorokannya mengering.

"Jadi?"

"Aku belum selesai."

Ryuuto memperbesar salah satu foto.

Bukan wajah.

Leher.

Sudut foto menangkap garis leher Ren ketika ia sedang bernyanyi.

Ryuuto menatapnya.

"Make-up kamu bagus."

Ren tidak bergerak.

Lihat selengkapnya