Studio Latihan 1 berbau karet lantai, kayu tua, dan udara pendingin yang terlalu dingin.
Ren berdiri di depan pintu selama beberapa detik sebelum akhirnya memutarnya.
Tangannya masih menggenggam tali tas.
Di balik pintu, musik terdengar samar.
Satu ketukan drum.
Kemudian suara seseorang menghitung.
"Lima, enam, tujuh, delapan!"
Ren membuka pintu.
Musik berhenti.
Empat pasang mata langsung menoleh kepadanya.
Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.
Ren berdiri di ambang pintu dengan pakaian latihan sederhana. Rambut panjang palsunya diikat rendah agar tidak mengganggu gerakan. Ia mengenakan kaus berwarna terang dan celana latihan yang memungkinkan tubuh bergerak bebas.
Tidak ada kostum.
Tidak ada panggung.
Tidak ada pencahayaan yang menyamarkan wajah.
Hanya lima orang muda di sebuah ruangan berlantai kayu.
Dan untuk pertama kalinya, Rin akan berada di antara orang-orang yang suatu hari mungkin mengenalnya terlalu dekat.
"Rin?"
Suara perempuan di sisi kanan memecah keheningan.
Ren mengangguk.
"Iya."
Perempuan itu langsung tersenyum lebar.
"Aku Yuka! Kasumigaoka Yuka."
Ia melambaikan tangan terlalu antusias sampai botol minumnya hampir jatuh.
Ren menangkapnya sebelum menyentuh lantai.
Yuka terdiam.
"...Cepat."
Ren menyerahkan botol itu.
"Refleks."
"Terima kasih."
Yuka menerima botol tersebut dengan kedua tangan.
Kemudian ia berbisik kepada perempuan di sampingnya,
"Dia keren."
Ren mendengarnya.
Ia pura-pura tidak.
Perempuan yang berdiri di sebelah Yuka kemudian maju.
Rambutnya diikat rapi. Posturnya tegak. Tatapannya lurus.
"Aoi Nanami."
Nada suaranya formal.
"Eks-trainee."
Ren membungkuk sedikit.
"Rin. Senang bertemu denganmu."
Aoi mengangguk.
Tidak tersenyum.
Kemudian perempuan berikutnya berdiri.
Ia memiliki aura yang jauh lebih tenang.
"Mei Shirakawa. Dua puluh tahun."
Mei tersenyum kecil.
"Berarti aku yang paling tua di sini."
Yuka mengangkat tangan.
"Onee-san!"
Mei menghela napas.
"Jangan langsung memanggilku begitu."
"Kenapa? Cocok."
"Tidak."
"Sedikit."
Mei akhirnya tertawa.
Ren memperhatikan mereka.
Percakapan sederhana.
Tidak penting.
Namun entah mengapa, ia merasa sedikit lebih nyaman.
Kemudian gadis terakhir maju.
Tubuhnya paling kecil di antara mereka.
Rambutnya pendek sebahu.
Tatapannya tajam.
"Chino Hoshino. Tujuh belas."
Ia menatap Ren dari kepala sampai kaki.
Bukan dengan cara kasar.
Lebih seperti sedang menilai.
"Kenapa namamu Rin?"
Ren berhenti.
Yuka langsung menoleh.
"Chino!"
"Apa?"
"Itu pertanyaan pertama?"
"Memangnya kenapa?"
Mei menahan senyum.
Aoi tidak bereaksi.
Ren menarik napas kecil.
"Karena aku suka nama itu."
Jawaban paling aman.
Chino memiringkan kepala.
"Begitu."
Tidak puas.
Tetapi tidak bertanya lagi.
Ren menyimpan informasi itu di dalam kepala.
Chino terlalu observatif.
Ia harus berhati-hati.
Pintu kembali terbuka.
Ryuuto masuk membawa map.
"Sudah selesai berkenalan?"
Yuka mengangkat tangan.
"Belum sepenuhnya!"
"Bagus. Berarti tidak perlu menghabiskan satu jam untuk formalitas."
Ryuuto menaruh map di meja.
"Kalian berlima akan menjadi formasi awal ECLIPSE."
Kata itu membuat ruangan sedikit berubah.
ECLIPSE.
Nama yang sebelumnya hanya ada di layar besar Shibuya.
Sekarang menjadi nama mereka.
Lima orang.
Satu grup.
Ryuuto menunjuk papan tulis.
"Aoi, posisi utama sementara."
Aoi mengangguk.
"Yuka, sub-vocal."
"Siap!"
"Mei, vocal dan support."
"Baik."
"Chino, rap dan dance."
Chino mengangguk.
Kemudian Ryuuto menatap Ren.
"Rin."
Ren berdiri sedikit lebih tegak.
"Center."
Ruangan menjadi hening.