Jam di dinding ruang kuliah menunjukkan 07.58.
Ren Tachibana sudah duduk di baris ketiga.
Kemeja putihnya dikancingkan sampai atas. Rambutnya dipotong pendek dan disisir rapi ke samping. Jas kampus tergantung lurus di bahunya, tanpa satu lipatan pun yang tidak perlu. Di atas meja terbuka sebuah buku anatomi, beberapa lembar catatan, dan pulpen hitam yang diletakkan sejajar dengan tepi meja.
Tidak ada yang akan menoleh kepadanya dua kali.
Bagi mahasiswa lain, Ren hanyalah seorang mahasiswa tahun pertama yang terlalu serius untuk ukuran usianya.
Seorang putra keluarga medis.
Seorang anak laki-laki yang seharusnya tahu ke mana hidupnya berjalan.
Ren menatap jam.
07.59.
Pintu ruang kuliah terbuka.
Dosen masuk tanpa tergesa-gesa.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi, Sensei."
Suara puluhan mahasiswa memenuhi ruangan.
Ren ikut membungkuk.
08.00.
Pintu ditutup.
Dosen meletakkan berkas di atas meja.
"Presensi dimulai."
Satu per satu nama dipanggil.
Ren menjawab ketika namanya disebut.
"Tachibana."
"Hadir."
Suara itu rendah.
Terkendali.
Bahkan ia sendiri hampir tidak mengenalinya.
Dosen melanjutkan materi.
Hari itu mengenai struktur dan hubungan anatomi tubuh manusia. Diagram demi diagram muncul di layar.
Ren menulis.
Tangannya bergerak otomatis.
Nama struktur.
Hubungan antarbagian.
Catatan kecil di margin.
Semua tepat.
Semua rapi.
Tetapi pikirannya sesekali melompat pada sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan kuliah.
Pukul satu siang.
Studio.
Latihan ECLIPSE.
Empat jam.
Ia menghitung waktu.
Bukan karena takut terlambat.
Karena ia tahu setiap menit yang hilang akan menjadi masalah.
Dosen berhenti di tengah penjelasan.
"Tachibana."
Ren mengangkat kepala.
"Ya?"
"Jelaskan."
Ren berdiri.
Ia menjawab.
Lancar.
Ringkas.
Tidak ada keraguan.
Dosen mengangguk.
"Duduk."
Ren duduk kembali.
Teman di sebelahnya berbisik,
"Seperti biasa, sempurna."
Ren hanya tersenyum tipis.
Kata itu terasa aneh.
Sempurna.
Ia sudah terlalu lama hidup untuk memenuhi kata tersebut.
Pukul 11.47.
Kuliah terakhir selesai.
Ren keluar dari gedung bersama arus mahasiswa lain.
Ia tidak langsung menuju stasiun.
Di toilet kampus, ia berhenti di depan wastafel.
Air mengalir.
Ia mencuci tangan.
Kemudian menatap pantulan dirinya.
Rambut pendek.
Rahang lebih tegas.
Kemeja.
Dasi.
Sosok yang begitu mudah dikenali sebagai Ren.
Ia membuka tas.
Di bagian paling bawah terdapat sebuah pouch hitam.
Ren mengambilnya.
Bukan sekarang.
Belum.
Ia memasukkan kembali pouch tersebut.
Kemudian keluar.
Kereta bergerak menuju pusat kota.
Ren berdiri di dekat pintu.
Tangannya menggenggam pegangan.
Di antara pantulan kaca dan tubuh orang-orang di sekitarnya, wajahnya terlihat berlapis.
Ren.
Ren.
Ren.
Ia memeriksa waktu.
12.19.
Transit berikutnya.
Ia turun.
Stasiun ramai.
Orang-orang berjalan cepat tanpa saling memandang.
Ren mengikuti arus.
Kemudian masuk ke toilet besar di area transit.
Pintu bilik tertutup.
Tas diletakkan di lantai.
Ia bekerja dalam diam.
Kemeja dilepas.
Dasi dimasukkan ke dalam tas.
Rambut pendeknya disembunyikan.
Pakaian yang telah disiapkan sebelumnya dikenakan dengan gerakan yang sudah mulai terbiasa.
Tidak ada cermin yang digunakan terlalu lama.
Tidak ada kesempatan untuk ragu.
Setiap detik diperhitungkan.
Ren keluar dari bilik.
Ia mencuci wajah.
Kemudian mengenakan wig.
Rambut panjang jatuh melewati bahu.
Ia merapikannya dengan kedua tangan.
Sedikit bedak.
Sedikit warna di bibir.
Tidak berlebihan.
Waktu.
12.28.
Ia menatap pantulan di kaca.
Ren masih terlihat di baliknya.
Tetapi garis wajah yang sama kini dibingkai dengan cara berbeda.
Ia menarik napas.
Bahunya turun.
Nada wajah berubah.
Bukan dibuat-buat.
Lebih seperti sesuatu yang selama ini disimpan akhirnya mendapat izin untuk muncul.
Rin.
12.32.
Ia keluar dari toilet.
Kurang dari lima belas menit.
Tidak ada yang tahu bahwa seseorang baru saja berganti kehidupan di balik pintu itu.
Pintu Studio Latihan 1 terbuka.
"Rin!"
Yuka melambai dari tengah ruangan.
"Telat dua menit!"
Rin melihat jam.
12.34.
"Aku tahu."
Yuka menunjuknya.
"Kamu bahkan mengaku!"
"Aku minta maaf."