[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #7

Dosis dan Efek Samping

Pagi itu, Ren menyadari ada sesuatu yang salah ketika tulisan di papan laboratorium mulai bergerak.

Bukan benar-benar bergerak.

Hanya tampak seolah-olah garis hitam di antara dua kolom tabel bergeser beberapa milimeter setiap kali ia mengalihkan pandangan. Ia berkedip sekali. Dua kali.

Tidak hilang.

Ren menurunkan kepala.

Tangannya masih memegang pulpen.

Di hadapannya, preparat yang sedang diamati melalui mikroskop menunggu untuk dicatat. Mahasiswa lain di sekelilingnya bergerak dengan kesibukan yang teratur. Ada bunyi kaca objek diletakkan di atas meja, suara kursi bergeser, dan sesekali bisikan pendek yang segera ditekan ketika asisten laboratorium berjalan melewati lorong.

Ren menarik napas perlahan.

Jangan panik.

Ia mencoba kembali memusatkan penglihatan.

Huruf di lembar kerja menjadi lebih jelas.

Kemudian tiba-tiba pandangannya menyempit.

Suara ruangan menjauh.

Denyut nadi terasa keras di telinga.

Ren meletakkan pulpen.

Pelan.

Jangan sampai jatuh.

Ia menekan ujung jari ke meja.

Permukaannya dingin.

"Ada masalah?"

Asisten laboratorium berdiri beberapa langkah darinya.

Ren mengangkat kepala.

"Tidak."

Jawaban keluar terlalu cepat.

Asisten itu mengerutkan kening.

"Kamu pucat."

"Saya kurang tidur."

Itu tidak sepenuhnya bohong.

Ren berdiri.

Kesalahan.

Lantai seperti bergerak ke samping.

Ia segera memegang tepi meja.

Asisten itu refleks mengulurkan tangan.

"Hei."

"Saya tidak apa-apa."

Kali ini Ren berbicara lebih pelan.

Ia tidak ingin seseorang memanggil petugas kesehatan.

Tidak ingin ada pemeriksaan.

Tidak ingin ada pertanyaan.

Terutama pertanyaan yang mengharuskannya menjelaskan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

"Saya ke toilet sebentar."

Asisten itu masih tampak ragu.

"Kalau tidak membaik, jangan dipaksakan."

Ren mengangguk.

"Baik."

Ia berjalan keluar.

Satu langkah.

Dua.

Tiga.

Tidak terlalu cepat.

Jangan terlihat seperti orang sakit.

Pintu toilet menutup di belakangnya.

Ren langsung mengunci salah satu bilik.

Baru setelah itu ia membungkuk, kedua telapak tangannya menempel pada wastafel kecil di dalam bilik.

Napasnya pendek.

Ia menunggu.

Lima detik.

Sepuluh.

Denyut di kepalanya perlahan mereda.

Ren menutup mata.

Ia mengenali sensasi itu.

Pusing.

Lemas.

Tubuh yang terasa sedikit asing.

Namun mengenali gejala tidak sama dengan mengetahui penyebab pastinya.

Itulah bagian yang paling ia benci.

Sebagai mahasiswa kedokteran, Ren terbiasa mencari pola.

Gejala.

Riwayat.

Pemicu.

Kemungkinan penyebab.

Tetapi tubuhnya sendiri tidak pernah mau menjadi soal ujian dengan satu jawaban benar.

Ia mengeluarkan ponsel.

Membuka catatan pribadi.

Beberapa baris sudah ada di sana.

Tanggal.

Waktu penggunaan obat.

Perubahan fisik.

Keluhan.

Ren menatap layar cukup lama.

Kemudian mengunci ponsel kembali.

Ia tidak membutuhkan angka tambahan.

Ia membutuhkan seseorang yang dapat memeriksanya.

Pikiran itu muncul.

Kemudian langsung ditolak.

Tidak.

Belum.

Jika ia datang ke dokter sebagai Ren, pertanyaan akan muncul.

Jika ia datang sebagai Rin, ia bahkan tidak punya identitas medis yang bisa digunakan.

Dan semua itu kembali pada satu keputusan yang ia buat sendiri.

Keputusan yang semakin sulit dipertahankan.

Ren mengusap wajah.

"Tenang."

Suara itu terdengar asing di dalam toilet kosong.

Ia berdiri tegak.

Mengambil napas.

Kemudian membuka pintu.

Siang hari di agensi terasa jauh lebih panas.

Lihat selengkapnya