[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #8

Pengukuran dan Pakaian Dalam

Ruang fitting Vivid Prominence selalu terasa lebih kecil ketika lima orang berdiri di dalamnya.

Dindingnya dipenuhi cermin tinggi. Lampu putih di sepanjang langit-langit membuat setiap lipatan kain terlihat terlalu jelas, setiap bayangan di bawah dagu terlalu tegas. Beberapa rak pakaian berdiri berjajar di sepanjang dinding, dipenuhi kostum latihan dan sampel pakaian panggung dengan warna-warna yang belum memiliki pemilik.

Hari itu, ECLIPSE datang bukan untuk latihan.

Mereka datang untuk diukur.

"Jangan tegang."

Penata busana berdiri di tengah ruangan sambil membawa pita ukur.

Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluhan dengan rambut pendek yang dijepit sederhana. Gerakannya cepat dan terbiasa. Tidak ada keraguan sedikit pun ketika ia berpindah dari satu anggota ke anggota berikutnya.

"Ukuran harus akurat. Kostum panggung kalian dibuat berdasarkan tubuh, bukan sebaliknya."

Yuka mengangkat tangan seperti murid sekolah.

"Kalau saya berubah ukuran setelah makan banyak?"

Penata busana menatapnya datar.

"Jangan makan banyak sebelum pengukuran berikutnya."

Yuka terdiam.

Aoi tertawa kecil.

Mei menutup mulutnya agar tidak ikut tertawa.

Chino menggeleng.

"Pertanyaanmu tidak membantu."

"Kenapa? Itu pertanyaan penting."

Suasana menjadi ringan.

Hanya Rin yang tidak tertawa.

Ia berdiri di ujung ruangan.

Jari-jarinya menggenggam ujung pakaian latihan.

Di bawah pakaian tersebut, ia telah menyiapkan lapisan yang menurutnya cukup untuk membuat siluet tubuh terlihat seperti yang diharapkan orang lain. Tidak berlebihan. Tidak mencolok. Hanya cukup untuk menghindari pertanyaan.

Setidaknya itu rencananya.

"Rin."

Suara penata busana membuat tengkuknya menegang.

"Kamu berikutnya."

"Baik."

Rin melangkah maju.

Pengukuran dimulai dari bahu.

Pita ukur melingkari tubuhnya.

"Rileks."

Rin menarik napas.

"Saya rileks."

"Kamu jelas tidak rileks."

Yuka tertawa dari dekat cermin.

"Rin-chan kelihatan seperti mau menghadapi ujian."

Rin memberikan senyum kecil.

"Kurang lebih begitu."

Ia menjaga suaranya tetap ringan.

Tidak terlalu rendah.

Tidak terlalu tinggi.

Sudah berbulan-bulan ia melatih cara berbicara yang berbeda ketika menjadi Rin. Namun sekarang, di ruangan sempit dengan tiga orang lain yang memperhatikannya, kesadaran terhadap setiap nada suara membuat tenggorokannya terasa kaku.

Pita ukur berpindah ke pinggang.

Penata busana mencatat angka.

Kemudian berpindah lagi.

"Pinggangmu kecil."

Yuka langsung menyela.

"Kecil banget!"

Rin menoleh.

"Benarkah?"

"Serius. Lihat ini."

Yuka berdiri di sampingnya, lalu menunjuk ke arah tubuh Rin dengan mata berbinar.

"Kamu kelihatan seperti gampang dipatahkan."

Aoi mengangkat alis.

"Itu bukan pujian yang normal."

"Tapi maksudku bagus!"

Mei tersenyum.

"Yuka memang tidak punya filter."

Rin tertawa kecil.

"Terima kasih."

Namun di balik senyum itu, jantungnya berdetak lebih cepat.

Angka yang baru saja dicatat penata busana bukan sekadar angka baginya.

Itu adalah sesuatu yang harus disembunyikan.

Sesuatu yang harus dijaga agar tidak menimbulkan pertanyaan.

"Bagian panggul."

Rin mengangguk.

Ia berdiri setenang mungkin.

Penata busana menyelesaikan pengukuran lalu mundur selangkah untuk melihat proporsi keseluruhan.

"Hm."

Satu suara pendek.

Rin menunggu.

"Proporsinya bagus."

"Terima kasih."

"Kamu tidak perlu terlalu banyak padding."

Rin menegang.

"Padding?"

"Untuk kostum. Aku pikir kamu akan membutuhkan sedikit, tapi ternyata siluet alaminya sudah cukup."

Kalimat itu membuat tenggorokan Rin kering.

Ia memaksakan senyum.

"Begitu."

Penata busana tidak menyadari apa pun.

Baginya, itu hanya penilaian profesional.

Bagi Rin, setiap kata terasa seperti pisau yang diletakkan tepat di atas rahasia.

Setelah pengukuran utama selesai, penata busana mulai membagikan pakaian dasar yang akan digunakan ketika fitting kostum.

Aoi menerima miliknya.

Yuka langsung masuk ke ruang ganti.

"Rin, kamu pakai yang ini."

Yuka menyerahkan salah satu item pakaian pembentuk tubuh yang disiapkan agensi.

Rin menerimanya.

"Terima kasih."

Ia masuk ke bilik.

Tirai tertutup.

Baru setelah sendirian, bahunya turun.

Ia memejamkan mata.

Satu napas.

Dua.

Lihat selengkapnya