Kunci apartemen itu terasa terlalu kecil untuk keputusan sebesar yang baru saja dijatuhkan kepada mereka.
Ryuuto meletakkannya di atas telapak tangan Mei.
"Mulai malam ini kalian tinggal di sini."
Yuka menatap kunci itu.
Kemudian menatap Ryuuto.
"Kita semua?"
"Semua."
"Serius?"
"Serius."
Yuka mengangkat kedua tangan ke udara.
"Jadi kita resmi tinggal bareng!"
Chino mengerutkan kening.
"Kenapa kamu malah senang?"
"Karena kita jadi seperti keluarga!"
Aoi memandang apartemen di hadapan mereka.
Ekspresinya tidak berubah.
"Lebih mirip kamp pelatihan."
Ryuuto tertawa kecil.
"Kalian menyebutnya apa pun terserah. Yang penting jadwal latihan lebih mudah diatur, dan tidak ada yang terlambat karena perjalanan."
Ia menatap kelima anggota ECLIPSE satu per satu.
"Agensi tidak punya uang untuk membayar tempat yang lebih bagus. Jadi jangan berharap hotel."
Apartemen itu memang tidak menyerupai hotel.
Bangunannya tua. Cat dinding lorong mulai kusam. Lift mengeluarkan bunyi mekanis setiap kali bergerak dan lampunya berkedip sebentar sebelum pintu terbuka. Dari luar jendela, suara lalu lintas Tokyo terdengar tanpa putus.
Namun bagi empat anggota lainnya, semua itu tampaknya masih bisa diterima.
Bagi Rin, tempat itu terasa seperti jebakan.
Karena apartemen tersebut hanya memiliki dua kamar tidur.
Dan lima orang.
Mei menjadi orang pertama yang masuk.
Ia meletakkan tasnya di lantai ruang tengah lalu membuka pintu kedua kamar.
"Kita atur dulu."
Yuka mengikuti dari belakang.
"Aku mau kamar yang dekat kamar mandi!"
"Kenapa?"
"Karena aku sering bangun malam."
Chino mengangkat alis.
"Kamu takut jalan terlalu jauh tiga meter?"
"Jangan meremehkan jarak ketika mengantuk."
Aoi menghela napas.
Mei mengabaikan keduanya.
"Satu kamar cukup untuk tiga orang. Satu lagi dua orang."
Ia memandang semua anggota.
"Kalau tidak keberatan, aku yang mengatur."
Aoi mengangguk.
"Silakan."
Rin berdiri diam di ambang pintu.
Matanya bergerak cepat.
Dua kamar.
Tiga tempat tidur di satu sisi.
Dua di sisi lain.
Tidak ada ruang yang benar-benar tertutup.
Tidak ada tempat untuk menyimpan rahasia.
Tas kosmetik.
Pakaian.
Perlengkapan pribadi.
Semua akan berada di ruangan yang sama.
Dan, yang paling buruk, kamar mandi hanya satu.
Rin merasakan telapak tangannya mulai lembap.
"Rin?"
Ia tersadar.
Mei menatapnya.
"Kamu mau kamar yang mana?"
Rin tidak langsung menjawab.
Ia melihat kedua ruangan.
Kamar pertama lebih luas tetapi pintunya langsung menghadap ruang tengah.
Kamar kedua lebih kecil.
Namun sudut dekat jendela memiliki ruang kosong yang sedikit tersembunyi dari pandangan ketika pintu dibuka.
"Saya..."
Rin berhenti.
Kemudian tersenyum kecil.
"Kalau boleh, aku ingin tempat dekat jendela."
Yuka memiringkan kepala.
"Kenapa?"
"Aku agak sulit tidur kalau terlalu ramai."
Jawaban itu keluar tenang.
Mei memandangnya beberapa detik.
"Kebiasaan tidur?"
"Iya."
"Kalau begitu ambil sudut itu."
Yuka langsung mengangkat tangan.
"Aku tidak keberatan."
Aoi juga mengangguk.
"Selama pembagiannya adil."
Rin menunduk sedikit.
"Terima kasih."
Ia baru menyadari bahwa ia telah menahan napas.
Sore berubah menjadi malam lebih cepat daripada yang ia inginkan.
Kotak-kotak kardus memenuhi ruang tengah.
Pakaian berserakan.