[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #10

Insiden Kamar Mandi Pertama

Malam telah melewati tengah malam ketika Rin akhirnya memastikan apartemen itu benar-benar sunyi.

Dari balik pintu kamarnya, ia menunggu hampir lima menit tanpa bergerak. Tidak ada suara televisi dari ruang tengah. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada suara Yuka yang biasanya terdengar bahkan ketika gadis itu hanya berjalan dari dapur menuju sofa. Dari kamar sebelah, yang terdengar hanyalah dengung pendingin ruangan dan sesekali bunyi kendaraan yang melintas jauh di bawah jendela.

Aman.

Setidaknya seharusnya begitu.

Rin mengambil pakaian tidur dan perlengkapan mandinya, lalu berjalan menyusuri lorong dengan langkah pelan. Ia sudah menghafal pola kehidupan asrama itu selama beberapa hari terakhir. Mei biasanya tidur lebih awal. Aoi membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan rutinitas malamnya, tetapi hampir selalu langsung masuk kamar setelah itu. Chino sering membaca sampai larut, namun malam ini tidak terdengar aktivitas dari kamarnya.

Yuka adalah satu-satunya variabel.

Karena itu Rin menunggu.

Baru setelah memastikan suara dari ruang tengah benar-benar menghilang, ia membuka pintu area mandi.

Uap hangat segera menyambutnya.

Pintu ditutup.

Kunci diputar.

Klik.

Suara kecil itu membuat bahunya turun beberapa sentimeter.

Untuk pertama kalinya sejak memasuki asrama, Rin merasa memiliki ruang yang sepenuhnya menjadi miliknya.

Ia menaruh perlengkapan di rak kecil, kemudian berdiri beberapa saat di bawah pancuran. Air hangat mengalir melewati rambutnya dan jatuh ke lantai, membawa serta ketegangan yang sejak pagi menggantung di belakang lehernya.

Tidak ada latihan.

Tidak ada tatapan anggota lain.

Tidak ada Ryuuto.

Tidak ada pertanyaan.

Hanya suara air.

Rin memejamkan mata.

Tubuhnya terasa jauh lebih berat daripada yang ia akui sepanjang hari. Bahunya kaku. Kakinya pegal. Bahkan sekadar berdiri terasa seperti pekerjaan tambahan.

Ia menarik napas panjang.

"Sepuluh menit," gumamnya pelan. "Setelah itu tidur."

Suara itu masih terdengar seperti suara Ren ketika tidak sedang berusaha mengubahnya. Rendah, datar, terlalu mudah dikenali.

Rin segera berdeham dan mencoba lagi dengan nada lebih ringan.

"Sepuluh menit saja."

Lebih baik.

Ia tersenyum tipis pada dirinya sendiri.

Kemudian terdengar ketukan.

Tok.

Rin membeku.

Tok tok.

"Rin?"

Darahnya seolah berhenti mengalir selama satu detik.

Yuka.

Rin menatap pintu.

"Yuka?"

"Iya. Aku mau ambil facial wash-ku. Ketinggalan."

Rin belum sempat menjawab ketika gagang pintu bergerak.

"Tunggu—"

Pintu terbuka.

Yuka masuk dengan langkah santai, sama sekali tanpa menyadari bahwa bagi Rin, tiga detik terakhir baru saja terasa seperti kecelakaan besar.

"Ah, di mana, ya?"

Rin bergerak refleks.

Ia meraih tirai pembatas dan menariknya menutup dengan cepat. Uap air yang memenuhi ruangan membantu mengaburkan pandangan. Tubuhnya berada di sisi paling jauh dari pintu, sementara kedua tangannya menggenggam tepi tirai begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih.

"Yuka."

Nada suaranya keluar terlalu cepat.

Yuka berhenti.

"Eh?"

"Aku sedang mandi."

"Oh."

Tidak ada kepanikan dalam suara Yuka.

Justru itu masalahnya.

"Oh, iya."

Seolah informasi tersebut sama sekali tidak penting.

Yuka berjalan menuju rak.

Rin menahan napas.

Jarak beberapa meter terasa seperti jurang.

Ia bisa mendengar suara botol-botol kecil bergeser.

"Ketemu!"

Yuka mengangkat botol pembersih wajahnya, kemudian baru memperhatikan keheningan di balik tirai.

"Rin?"

"Hm?"

"Kamu ngapain di pojok?"

Rin menatap tirai yang menempel di lengannya.

"Mandinya."

"Mandinya kok sembunyi?"

Lihat selengkapnya