Latihan malam itu berakhir lebih lambat daripada jadwal.
Jam dinding di studio menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh ketika musik terakhir berhenti. Nada penutup masih seperti menggantung di udara, bercampur dengan dengung pendingin ruangan dan napas lima orang yang belum kembali teratur. Rin berdiri di barisan paling belakang sambil menekan telapak tangannya ke lutut. Keringat membasahi tengkuknya. Beberapa helai rambut palsu yang menempel di sisi wajah mulai terasa berat.
"Besok ulang dari bagian kedua," kata Ryuuto dari dekat speaker.
Aoi mengangguk tanpa mengeluh.
Yuka menjatuhkan diri ke lantai.
"Aku sudah tidak punya kaki."
"Kamu masih bisa bicara," sahut Chino.
"Berarti mulutku belum menyerah."
Mei terkekeh pelan sambil membereskan botol minumnya.
Rin hanya tersenyum kecil.
Ia ingin pulang.
Bukan ke asrama.
Ke rumah.
Ke tempat ia bisa melepas semua lapisan yang membentuk Rin dan kembali menjadi seseorang yang tidak perlu terus-menerus memperhatikan cara berdiri, cara duduk, cara berbicara.
Namun sebelum ia sempat mengambil tas, suara Ryuuto terdengar dari belakang.
"Rin."
Tubuhnya langsung menegang.
"Ya?"
"Kamu ikut aku."
Yuka menoleh.
"Ke mana?"
Ryuuto sudah mengambil kunci mobil dari meja.
"Aku antar dia."
Rin menatapnya.
"Tidak perlu. Aku bisa naik kereta."
"Sudah malam."
Nada Ryuuto terdengar biasa.
Terlalu biasa.
"Kita perlu bicara soal jadwal minggu depan."
Aoi tidak mengatakan apa-apa, tetapi pandangannya sempat berpindah dari Ryuuto ke Rin.
Rin akhirnya mengangguk.
"Baik."
Di dalam mobil, suara kota terdengar jauh di balik kaca.
Lampu-lampu Shinjuku bergerak seperti garis panjang berwarna putih dan merah. Rin duduk tegak di kursi penumpang, kedua tangan berada di atas tas. Ia sengaja memilih posisi yang membuat tubuhnya sejauh mungkin dari pengemudi.
Ryuuto menyetir dengan satu tangan.
"Kamu selalu seperti itu?"
"Seperti apa?"
"Menjaga jarak."
Rin menoleh.
Ryuuto tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
"Aku cuma mengamati."
"Aku memang tidak banyak bicara."
"Bukan itu."
Mobil berhenti di lampu merah.
Ryuuto akhirnya menoleh.
Tatapannya turun sesaat ke rambut Rin, lalu kembali ke wajahnya.
"Di depan orang lain kamu selalu sangat hati-hati."
Rin tidak menjawab.
Ryuuto mengangkat tangan.
Jari-jarinya menyentuh ujung rambut Rin.
Rin langsung menegang.
Sentuhannya hanya sebentar. Ryuuto menarik sehelai rambut yang terlepas dari posisi semula, lalu membiarkannya jatuh kembali.
"Rambutmu berantakan."
Rin menahan napas.
"Aku bisa memperbaikinya sendiri."
"Tahu."
Lampu berubah hijau.
Mobil kembali berjalan.
Beberapa detik berlalu.
"Kamu menarik," ujar Ryuuto.
Rin memandang keluar jendela.
"Aku tidak tahu maksudnya."
"Aku juga belum memutuskan."
Jawaban itu membuat dada Rin terasa sempit.
Ryuuto tidak menjelaskan.
Ia justru mengubah arah mobil.
"Kenapa kita tidak menuju asrama?"
"Kita mampir sebentar."
"Ke mana?"
"Kafe."
Rin menoleh cepat.
"Aku harus kembali."
"Sepuluh menit."