Lampu ruang latihan Vivid Prominence sudah menyala sejak sore, tetapi menjelang malam cahayanya terasa semakin putih dan dingin. Pantulan lima tubuh di dinding cermin memenuhi ruangan, bergerak dalam hitungan yang sama, berhenti pada ketukan yang sama, lalu kembali mengulang kesalahan yang sama.
“Lima, enam, tujuh, delapan!”
Musik berhenti.
Aoi Nanami menurunkan kedua lengannya dengan napas berat. Keringat membasahi garis rambutnya, sementara telapak sepatunya menggesek lantai kayu dengan suara pendek ketika ia mengubah posisi.
“Sekali lagi.”
Yuka mengerang.
“Aoi, kita baru selesai tiga kali.”
“Dan masih ada dua transisi yang terlambat.”
“Dua?”
“Dua.”
Mei yang berdiri di belakang mereka hanya tersenyum tipis sambil mengusap keringat di lehernya dengan handuk.
Chino mendengus kecil.
“Kalau terus begini, besok kita bakal hafal lagu ini sampai mati.”
Aoi tidak menjawab. Matanya justru bergerak ke arah cermin.
Ke arah Rin.
Rin berdiri sedikit terpisah dari mereka.
Seperti biasa.
Ia tidak pernah benar-benar menjauh dari kelompok ketika latihan berlangsung. Jaraknya hanya beberapa puluh sentimeter. Namun entah mengapa, Aoi selalu merasa ada sesuatu yang tak terlihat di antara mereka.
Rin sudah hafal seluruh koreografi.
Bukan sekadar hafal.
Ia tahu persis kapan berat tubuh harus berpindah, kapan bahu harus berhenti, seberapa jauh pergelangan tangan harus membuka, bahkan bagaimana arah pandangan harus jatuh pada kamera yang belum ada di ruangan itu.
Aoi sudah memperhatikan hal tersebut selama beberapa hari terakhir.
Rin hampir tidak pernah melakukan gerakan berlebihan.
Tidak ada tenaga yang terbuang.
Tidak ada pose yang selesai setengah detik terlambat.
Setiap gerakannya seperti sudah dihitung sebelum musik dimulai.
Tetapi justru karena itulah Aoi mulai terganggu oleh sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan tari.
Kebiasaan Rin.
Aoi melirik ke sudut ruangan.
Tas Rin selalu tertutup.
Botol minumnya selalu berada di tempat yang sama.
Handuknya dilipat dua kali.
Dan ketika sesi latihan selesai, Rin tidak pernah berganti pakaian bersama mereka.
Tidak pernah.
Hari ini pun sama.
“Break sepuluh menit.”
Aoi baru selesai mengucapkannya ketika Rin sudah mengambil tas.
Ia berjalan menuju ruang ganti kecil di ujung studio.
Aoi mengernyit.
“Rin.”
Langkah Rin berhenti.
Ia menoleh.
“Ada apa?”
Nada suaranya lembut. Terlalu lembut untuk seseorang yang baru saja menjalani latihan hampir dua jam.
“Kenapa kamu selalu ganti baju di dalam?”
Rin diam.
Yuka yang sedang membuka tutup botol minuman langsung menoleh.
“Hm?”
Chino ikut melihat.
Rin memegang tali tasnya sedikit lebih erat.
“Aku lebih nyaman begitu.”
Aoi menyilangkan tangan.
“Kita tinggal bersama.”
“Ya.”
“Kita latihan bersama.”
“Ya.”
“Kalau nanti tampil, kita bahkan akan berganti kostum di backstage yang sama.”
Rin tidak segera menjawab.
Ada jeda kecil.
Sangat kecil.
Tetapi Aoi menangkapnya.
“Aku tidak bermaksud memaksamu,” kata Aoi. “Aku cuma ingin tahu.”
Rin mengalihkan pandangan.
“Sudah kebiasaan.”
“Karena pemalu?”
Pertanyaan itu membuat Yuka tertawa kecil.
“Memang Rin pemalu banget.”
Rin memberikan senyum tipis.
“Mungkin.”
Aoi tidak ikut tertawa.
Ia mengamati wajah Rin.
Tidak ada kebohongan yang terlihat.
Tidak ada kegelisahan yang jelas.
Hanya sebuah dinding.
Dan Aoi tidak menyukai dinding dalam sebuah tim.
“Kita perlu belajar terbuka satu sama lain.”
Nada Aoi berubah lebih tegas.
Rin menatapnya kembali.
“Aku tetap bisa profesional tanpa harus menceritakan semuanya.”
Kalimat itu sederhana.
Namun membuat udara di ruangan terasa lebih berat.
Aoi mengangkat dagu sedikit.
“Aku tidak meminta kamu menceritakan semuanya.”
“Lalu?”
“Aku meminta kamu berhenti bertingkah seolah kami orang asing.”
Rin tidak menjawab.
Yuka yang merasakan ketegangan mulai berdiri.
“Eh, eh. Jangan bertengkar.”
“Aku tidak bertengkar,” kata Aoi.
“Aku juga tidak,” jawab Rin.
Dua jawaban yang keluar hampir bersamaan.