[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #13

Surat dari Rumah

Koridor Fakultas Kedokteran selalu memiliki bau yang sama pada siang hari.

Disinfektan.

Kertas yang baru dicetak.

Kopi pahit dari mesin otomatis di ujung lorong.

Ren Tachibana berjalan melewati semuanya dengan langkah terukur, sebuah map tipis terselip di bawah lengannya. Jas putihnya masih rapi meskipun sejak pagi ia sudah berpindah dari ruang kuliah ke laboratorium, lalu ke ruang diskusi. Rambutnya dipotong pendek, wajahnya tanpa riasan, dan kacamata tipis bertengger di pangkal hidung.

Tidak ada Rin di koridor itu.

Hanya Ren.

Seorang mahasiswa kedokteran berusia sembilan belas tahun yang seharusnya memikirkan ujian, laporan praktikum, dan nilai kehadiran.

Namun ponsel di saku celananya bergetar.

Sekali.

Kemudian dua kali.

Ren berhenti.

Pesan dari kantor administrasi fakultas.

Tachibana-san, harap datang ke bagian akademik setelah sesi laboratorium selesai. Ada hal yang perlu dikonfirmasi mengenai kehadiran Anda.

Jari Ren berhenti di atas layar.

Ia tidak langsung membalas.

Matanya bergerak ke papan pengumuman di dinding.

Jadwal ujian.

Jadwal praktikum.

Batas minimum kehadiran.

Angka-angka yang biasanya terasa begitu sederhana tiba-tiba seperti barisan jeruji.

Ren memasukkan kembali ponselnya.

“Baiklah.”

Suara itu keluar sangat pelan.

Ia melanjutkan langkah.

Namun sejak saat itu, pikirannya tidak lagi berada di ruang laboratorium.

Ruang administrasi fakultas lebih dingin daripada koridor.

Seorang staf perempuan berusia sekitar empat puluh tahun duduk di balik meja dengan layar komputer terbuka di hadapannya. Di samping layar terdapat setumpuk dokumen akademik yang telah diberi tanda stabilo.

“Silakan duduk, Tachibana-san.”

Ren menarik kursi.

“Terima kasih.”

Perempuan itu memeriksa layar.

“Nilai Anda masih cukup baik.”

Ren diam.

“Tetapi kehadiran Anda turun dalam beberapa minggu terakhir.”

“Saya menyadarinya.”

“Angka Anda berada sangat dekat dengan batas minimum.”

Ren menatap dokumen di meja.

Ada beberapa tanggal.

Beberapa di antaranya adalah hari ketika ia menjalani latihan ECLIPSE.

Hari-hari ketika pagi dimulai sebagai Ren dan berakhir sebagai Rin.

Hari-hari ketika tubuhnya berpindah dari ruang kuliah ke kereta, dari kereta ke ruang latihan, kemudian kembali menjadi Ren sebelum pulang.

“Apakah ada masalah kesehatan?” tanya staf tersebut.

“Tidak.”

Jawabannya keluar terlalu cepat.

Perempuan itu mengangkat pandangan.

Ren segera menurunkan matanya.

“Maksud saya, tidak ada masalah yang mengharuskan saya mengambil cuti.”

“Kalau begitu, apakah ada kegiatan lain yang mengganggu jadwal akademik?”

Jantung Ren berdetak sekali lebih keras.

Ia menarik napas perlahan.

“Saya sedang mengikuti beberapa kegiatan tambahan.”

“Kegiatan kampus?”

“Berkaitan dengan kegiatan akademik.”

Tidak sepenuhnya bohong.

Tidak sepenuhnya benar.

Staf itu mengetik sesuatu.

“Kami perlu memastikan Anda tetap dapat memenuhi persyaratan program. Fakultas kedokteran tidak sama dengan jurusan lain. Ada sesi yang tidak dapat digantikan hanya dengan membaca materi.”

“Saya mengerti.”

“Bagus. Karena jika kehadiran Anda kembali turun, sistem akan menandai Anda untuk evaluasi akademik.”

Ren mengangguk.

“Ya.”

Perempuan itu menutup berkas.

“Orang tua atau wali Anda mungkin menerima pemberitahuan jika kondisi akademik memburuk.”

Jari Ren yang berada di atas lutut menegang.

Hanya sedikit.

Namun kuku ibu jarinya menekan kulit telunjuk sampai terasa sakit.

“Saya akan memperbaikinya.”

“Pastikan begitu.”

Ren berdiri.

“Terima kasih sudah memberi tahu saya.”

Ia membungkuk ringan.

Lalu keluar.

Begitu pintu tertutup di belakangnya, senyum formal yang sejak tadi bertahan di wajahnya menghilang.

Ia berdiri diam di koridor.

Suara mahasiswa lain terdengar dari kejauhan.

Tawa.

Langkah kaki.

Pintu laboratorium yang terbuka dan tertutup.

Dunia berjalan seperti biasa.

Hanya dirinya yang terasa berhenti.

Ren mengambil ponsel.

Sebuah pesan baru masuk.

Kali ini bukan dari universitas.

Ayah.

Hanya satu nama.

Tidak ada kata lain.

Ren menatapnya cukup lama sebelum membuka pesan tersebut.

Telepon saya setelah selesai kuliah.

Tidak ada tanda tanya.

Tidak ada penjelasan.

Perintah.

Ia menelan ludah.

Telepon itu datang bahkan sebelum Ren sempat meninggalkan gedung.

Ia berdiri di bawah tangga darurat yang sepi, menekan tombol jawab.

“Ya, Ayah.”

Suara Kenji Tachibana terdengar dari ujung sana.

Dingin.

Rapi.

Seperti orang yang sedang memberikan instruksi kepada staf rumah sakit.

“Aku mendapat pemberitahuan dari universitas.”

Ren memejamkan mata.

“Tentang kehadiran?”

“Jangan menjawab dengan pertanyaan.”

Ren diam.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

“Kuliah.”

Lihat selengkapnya