Pagi di Harajuku selalu datang dengan suara yang terlalu ramai untuk seseorang yang baru tidur beberapa jam. Derap sepatu di trotoar, bunyi kereta yang sesekali terdengar dari kejauhan, suara pintu toko yang baru dibuka, dan percakapan orang-orang yang mengalir di antara gedung-gedung sempit membuat Tokyo terasa seperti tidak pernah benar-benar memejamkan mata.
Ren berdiri di depan sebuah studio fotografi dengan topi rendah menutupi sebagian wajahnya.
Di tangannya terdapat kartu identitas agensi.
Nama yang tercetak di sana bukan Ren.
Rin.
Ia menarik napas perlahan sebelum memasuki gedung.
Hari ini adalah sesi foto resmi pertama ECLIPSE.
Tidak ada panggung. Tidak ada penonton. Tidak ada suara musik yang bisa menenggelamkan kesalahan.
Hanya kamera.
Dan kamera, pikir Rin, tidak pernah benar-benar berkedip.
Begitu pintu studio terbuka, udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyentuh kulitnya. Aroma hairspray, bedak, kain kostum, dan kopi yang baru diseduh bercampur menjadi satu.
"Rin-chan!"
Yuka melambaikan tangan dari depan meja makeup.
"Di sini!"
Rin mengangkat tangan kecil sebagai jawaban.
"Selamat pagi."
Suaranya ringan.
Tidak terlalu tinggi. Tidak terlalu dibuat-buat.
Cukup untuk terdengar seperti Rin.
Aoi sudah duduk di kursi makeup dengan rambut sedang ditata. Mei sedang berbicara dengan salah satu staf mengenai aksesori, sementara Chino sibuk melihat papan referensi konsep yang ditempel di dinding.
Rin berjalan mendekat.
"Maaf terlambat."
"Kamu tepat waktu," jawab Aoi tanpa menoleh. "Aku saja yang datang terlalu pagi."
Rin tersenyum tipis.
"Kalau begitu, aku yang terlalu santai."
Aoi akhirnya menatapnya melalui pantulan cermin.
Mata mereka bertemu hanya beberapa detik.
Aoi kemudian mengalihkan pandangan kembali ke depan.
"Kamu sudah terbiasa dengan makeup?"
"Belum."
"Bagus."
Rin mengernyit.
"Bagus?"
"Berarti kita semua sama-sama menderita."
Yuka tertawa dari kursi sebelah.
"Benar!"
Untuk sesaat Rin ikut tertawa.
Ketegangan di dadanya sedikit mengendur.
Hanya sedikit.
Karena begitu ia duduk di kursi makeup, lampu-lampu besar mengelilingi cermin dan membuat wajahnya terlihat jauh lebih jelas daripada biasanya.
Ia melihat dirinya sendiri.
Rambut yang sudah ditata.
Kulit yang tampak lebih halus di bawah pencahayaan putih.
Garis wajah yang perlahan terasa semakin asing jika dibandingkan dengan foto-foto lama di kartu mahasiswa.
Rin menatap pantulan itu tanpa bergerak.
Ada sesuatu yang aneh dalam perubahan tersebut.
Bukan karena ia tidak mengenali wajah itu.
Justru karena ia mulai mengenalinya terlalu baik.
"Rin?"
Suara makeup artist membuatnya tersentak kecil.
"Ya?"
"Kamu boleh menutup mata."
"Oh."
Rin segera menurut.
Kuas menyentuh kelopak matanya.
Ringan.
Hampir tidak terasa.
"Wow."
Makeup artist berhenti sebentar.
"Apa?"
"Kulitmu."
Rin membuka sebelah mata.
"Kenapa?"
"Halus sekali."
Senyum kecil muncul di wajah staf itu.
"Biasanya kamera resolusi tinggi cukup kejam. Tapi kulitmu hampir tidak perlu banyak koreksi."
Rin tidak menjawab.
Tangannya yang berada di atas paha perlahan mengepal.
Pujian sederhana itu seharusnya membuatnya senang.
Akan tetapi, justru ada bagian kecil dalam dirinya yang merasa takut.
Semakin banyak orang memperhatikan perubahan tubuhnya, semakin sedikit ruang yang tersisa untuk bersembunyi.
"Genetik bagus, ya," lanjut staf tersebut sambil bekerja.
Rin tersenyum.
"Semoga."
Jawaban aman.
Selalu jawaban aman.
Beberapa menit kemudian, wajahnya selesai.
Rin membuka mata.
Di cermin, seorang perempuan muda menatap balik kepadanya.
Tidak sempurna.
Masih ada sesuatu yang terasa ganjil jika ia memperhatikan terlalu lama.
Namun kali ini ia tidak segera memalingkan wajah.
"Bagaimana?" tanya Yuka.
Rin menyentuh ujung rambutnya.
"Agak... aneh."
"Lucu!"
Yuka mendekat dan menatap wajahnya dari samping.
"Kamu kelihatan seperti karakter utama drama."
"Jangan berlebihan."
"Aku serius."
Rin terkekeh.
Tetapi ketika tawa itu hilang, tatapannya kembali jatuh pada cermin.
Karakter utama.
Kalimat itu terdengar ringan.
Namun bagi Ren, menjadi Rin bukanlah peran yang bisa selesai ketika kamera dimatikan.
Pemotretan dimulai menjelang siang.
Latar pertama berupa dinding abu-abu pucat dengan pencahayaan putih yang bersih. Tidak ada dekorasi berlebihan. Konsepnya sengaja dibuat sederhana agar wajah dan kepribadian masing-masing anggota menjadi pusat perhatian.
Fotografer mereka adalah seorang pria berusia sekitar empat puluhan dengan rambut sedikit beruban di pelipis. Sejak awal, ia hampir tidak banyak berbicara.
Ia hanya mengamati.
Cara seseorang berdiri.
Cara tangan diletakkan.
Arah bahu.
Jarak antaranggota.
Bahkan bagaimana seseorang berkedip.
"Baik."
Ia bertepuk tangan sekali.
"Mulai dari foto grup."
Keempat anggota ECLIPSE berdiri di depan latar.
Rin ditempatkan di tengah.
Tepat di tengah.
Ia sudah menduga.