[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #15

Leher dan Aksesoris

Siang di Vivid Prominence selalu memiliki suara yang berbeda dari malam.

Tidak ada dentuman musik latihan yang menenggelamkan percakapan. Tidak ada lampu panggung yang menyilaukan mata. Yang terdengar hanya gesekan hanger, suara mesin jahit dari ruangan sebelah, dan bunyi gunting yang sesekali beradu dengan meja kerja. Matahari Tokyo masuk melalui jendela tinggi dalam garis-garis pucat, jatuh di atas lantai vinyl ruang fitting dan membuat serpihan benang tampak melayang di udara.

Rin berdiri di depan cermin tiga panel.

Di belakangnya, empat anggota ECLIPSE sedang menerima kostum utama mereka untuk pertama kali.

"Jadi ini benar-benar kostum debut kita?"

Yuka mengangkat rok hitamnya dengan kedua tangan. Matanya berbinar ketika melihat lapisan kain yang bertumpuk.

"Gothic-lolita," jawab penata busana sambil memeriksa catatan ukurannya. "Tapi dibuat lebih ringan supaya kalian tetap bisa bergerak. Jangan tertipu tampilannya. Ini kostum panggung, bukan pakaian untuk berdiri diam."

Aoi sudah sibuk memeriksa sambungan bahu dan panjang lengan. Mei memperhatikan detail pita di pinggang. Chino berdiri sedikit menjauh sambil mengamati ornamen kecil yang dijahit di bagian dada.

Rin sendiri tidak mengatakan apa-apa.

Matanya terpaku pada bagian leher kostum.

Kerahnya terbuka.

Tidak terlalu rendah. Tidak berlebihan. Justru itulah masalahnya.

Potongan tersebut membingkai leher dengan jelas, memberikan ruang kosong antara kain dan kulit yang dalam pencahayaan panggung nanti akan terlihat semakin terang. Tidak ada pita. Tidak ada kain tinggi. Tidak ada aksesori.

Dan di bawah garis rahangnya, ada sesuatu yang selama ini selalu ia perhitungkan sebelum keluar sebagai Rin.

Bayangan kecil pada lehernya.

Rin menelan ludah.

Gerakannya begitu kecil sampai tidak seorang pun menyadarinya.

Namun pikirannya langsung bekerja.

Lampu panggung dari atas akan menciptakan bayangan. Kamera depan akan menangkapnya dari sudut rendah. Foto promosi mungkin menggunakan pencahayaan samping. Jika fotografer memperbesar gambar, detail sekecil apa pun dapat menjadi sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.

Ia tidak membutuhkan seseorang yang langsung menyadari rahasianya.

Ia hanya membutuhkan satu orang yang merasa ada sesuatu yang "aneh".

Setelah itu, pertanyaan akan datang.

Kemudian pengamatan.

Kemudian dugaan.

Rin memejamkan mata sepersekian detik.

Tidak.

Jangan berpikir sejauh itu.

Ia membuka mata kembali.

Di cermin, yang terlihat bukan Ren Tachibana.

Yang berdiri di sana adalah Rin.

Rambut panjang tertata rapi. Wajah yang telah dipoles sedemikian rupa hingga garis-garis aslinya menjadi lebih lembut. Seragam gothic-lolita hitam dengan aksen renda putih membingkai tubuhnya.

Ia tampak seperti seseorang yang memang dilahirkan untuk berada di sana.

Hanya leher itu yang mengkhianatinya.

"Rin?"

Suara penata busana membuatnya tersentak kecil.

"Ya?"

"Bagaimana menurutmu?"

Rin menatap pantulan dirinya.

Kemudian tersenyum.

"Bagus."

Satu kata.

Aman.

Tetapi penata busana masih menunggu.

"Khusus bagian kerah," lanjutnya, "aku ingin membuatnya sedikit lebih terbuka supaya siluetnya tidak terlalu berat."

Jantung Rin seperti berhenti sesaat.

"Terbuka?"

"Sedikit saja."

Tangannya secara refleks mencengkeram ujung rok.

Ia segera melepaskannya.

"Kalau begitu..."

Lihat selengkapnya