Jam sudah melewati sebelas malam ketika pintu apartemen akhirnya tertutup.
Suara kunci berputar dua kali.
Rin berdiri beberapa langkah dari pintu, masih mengenakan kaus latihan dan celana training. Rambutnya yang sejak sore diikat tinggi kini telah dilepaskan, menyisakan beberapa helai yang menempel di pelipis karena keringat. Betisnya terasa berat setelah latihan koreografi yang diulang berkali-kali sampai Aoi merasa semua gerakan sudah cukup bersih.
Dari ruang tengah terdengar suara plastik kemasan dibuka.
"Jangan ambil yang itu!"
Terlambat.
Yuka sudah merobek bungkusnya.
"Kenapa?"
"Itu punyaku."
"Kalau begitu kenapa ditaruh di meja?"
"Karena aku mau mengambil minum dulu!"
Rin menoleh.
Mei sedang berdiri di depan meja rendah sambil memandang Yuka dengan ekspresi tidak percaya. Aoi sudah duduk di lantai dengan punggung bersandar pada sofa. Chino sibuk memilih camilan lain dari sebuah kotak yang diberikan agensi.
Pemandangan itu begitu biasa sampai Rin hampir lupa bahwa beberapa minggu lalu ia bahkan tidak mengenal mereka.
Ia masuk ke kamarnya sebentar.
Ketika kembali, ia sudah berganti menjadi pakaian tidur sederhana. Tidak ada riasan. Tidak ada sepatu panggung. Tidak ada pita atau aksesori yang harus diperhatikan setiap kali bergerak.
Hanya Rin dalam bentuk yang paling sederhana.
"Rin, sini."
Yuka menepuk tempat kosong di sampingnya.
Rin berhenti.
Satu detik.
Hanya satu detik.
Namun Yuka sudah mengangkat alis.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Terus kenapa berdiri begitu?"
Rin tersenyum kecil lalu duduk di ujung karpet.
Tidak terlalu dekat.
Yuka memandang jarak di antara mereka.
"Kamu selalu duduk sejauh itu."
"Memangnya?"
"Iya."
Mei tertawa pelan.
"Biarkan saja. Rin memang begitu."
Rin mengambil sepotong camilan dari mangkuk.
"Terima kasih."
"Jangan terlalu banyak," kata Aoi tanpa menoleh dari ponselnya. "Besok pagi kita timbang kostum."
Yuka mengerang.
"Jangan bicara soal timbangan malam-malam."
"Itu kenyataan."
"Justru karena kenyataan, jangan dibicarakan."
Tawa kecil memenuhi ruangan.
Rin ikut tertawa.
Suara itu keluar lebih mudah daripada yang ia duga.
Mungkin karena untuk beberapa menit, tidak ada yang menuntut apa pun darinya.
Tidak ada dosen.
Tidak ada ayahnya.
Tidak ada produser.
Tidak ada kamera.
Hanya empat orang yang sedang bertengkar mengenai camilan.
Yuka tiba-tiba menyandarkan tubuh ke sofa.
"Eh, Rin."
"Ya?"
"Kenapa baju tidurmu selalu yang model begitu?"
Rin menunduk melihat pakaiannya.
"Model apa?"
"Longgar."
Mei ikut memperhatikan.
"Benar juga."
Rin merasakan bahunya menegang.
"Suka saja."
"Gerah, tidak?"
"Sudah terbiasa."
Jawaban singkat itu berhasil.
Setidaknya untuk sementara.
Percakapan kembali beralih kepada latihan besok.
Tentang bagian koreografi yang paling sulit.
Tentang siapa yang paling sering salah hitungan.
Tentang Yuka yang bersikeras bahwa kesalahan terakhir bukan salahnya.
Rin mendengarkan sambil sesekali menyela.
Lalu, ketika Yuka tertawa terlalu keras karena ceritanya sendiri, ia bergeser tanpa sengaja dan sikunya menyenggol bahu Rin.
"Ah, maaf!"
"Tidak apa-apa."
Rin tersenyum.
Yuka kemudian menarik ujung lengan baju Rin sambil bercanda.
"Kenapa kamu selalu menutup diri begitu?"
Tarikannya tidak keras.
Namun cukup membuat kain pakaian tidur Rin bergeser sedikit dari bahu.