[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #17

Ujian Praktikum Anatomi

Pukul tujuh lewat sepuluh pagi, laboratorium anatomi sudah dipenuhi bau yang tidak mungkin salah dikenali.

Disinfektan. Sarung tangan lateks. Udara dingin dari pendingin ruangan yang bekerja terlalu keras.

Ren berdiri di depan pintu laboratorium dengan jas putih tersampir di lengannya. Di balik kacamatanya, matanya bergerak cepat membaca daftar kelompok yang ditempel di papan pengumuman.

Hari ini ujian praktikum.

Dan sore nanti ECLIPSE memiliki street live pertama mereka.

Dua dunia yang seharusnya tidak pernah bertemu.

Ponselnya bergetar.

Satu pesan dari Mei.

Ren menatap pesan itu selama beberapa detik.

Kemudian mematikan layar.

"Mulai."

Suara dosen membuat semua mahasiswa bergerak.

Ren masuk ke ruangan.

Meja-meja praktikum telah disusun berurutan. Di setiap stasiun terdapat preparat, model anatomi, dan kartu soal. Waktu yang diberikan untuk setiap stasiun terlalu singkat untuk berpikir panjang.

Bel berbunyi.

Ren berpindah.

"Identifikasi struktur."

Ia menunduk.

Matanya langsung mengenali bentuk yang ditunjukkan.

"Pleksus brakialis."

Jawaban.

Bel.

Berpindah.

"Identifikasi saraf."

Ren mengamati posisi struktur.

"Medianus."

Bel.

Berpindah lagi.

Otaknya bekerja seperti mesin yang tidak diberi kesempatan untuk berhenti.

Nama.

Posisi.

Fungsi.

Relasi.

Semua bergerak cepat di kepalanya.

Tidak ada Rin.

Tidak ada kostum.

Tidak ada musik.

Hanya Ren.

Seorang mahasiswa kedokteran yang selama bertahun-tahun dilatih untuk memperhatikan detail yang tidak terlihat oleh orang awam.

Namun pada stasiun berikutnya, tangannya berhenti sesaat.

Sebuah pertanyaan mengenai struktur jaringan saraf.

Ia tahu jawabannya.

Tetapi pikirannya mendadak melompat ke waktu.

Jam.

Street live.

Perjalanan menuju lokasi.

Waktu berganti pakaian.

Ia menghitung.

Tidak boleh terlambat.

Bel berbunyi.

Ren menjawab.

"Benar."

Ia bergerak.

Tidak ada ruang untuk panik.

Setiap detik harus dipakai.

Pada stasiun terakhir, dosen mengangkat tangannya.

"Waktu selesai."

Ren meletakkan alat tulis.

Untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan, ia mengembuskan napas panjang.

Seseorang di belakangnya mengeluh.

"Aku lupa nama sarafnya."

Ren hanya memasukkan alat tulis ke dalam tas.

Ponselnya kembali bergetar.

Kali ini dari Aoi.

Ren melihat jam.

Dadanya langsung mengencang.

Ia berdiri.

Tidak ada waktu untuk pulang.

Ia berlari.

Tangga gedung universitas terasa terlalu panjang.

Suara sepatunya memantul di lorong.

Begitu keluar gedung, udara pagi Tokyo langsung menerpa wajahnya.

Ren mempercepat langkah.

Stasiun.

Kereta.

Asrama.

Kostum.

Lihat selengkapnya