[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #18

Penggemar Pertama dan Batas Diri

Sore di Taman Yoyogi bergerak dengan cara yang berbeda dari sore-sore lain di Tokyo.

Matahari belum tenggelam, tetapi cahaya keemasannya sudah menembus sela pepohonan dan jatuh miring di atas jalur pejalan kaki. Orang-orang berkerumun di sekitar area pameran terbuka yang sejak siang dipenuhi stan kecil, poster komunitas, pertunjukan jalanan, dan panggung portabel. Bau takoyaki bercampur dengan aroma kopi dari kedai sementara. Dari kejauhan terdengar suara gitar akustik, disusul tepuk tangan yang pecah tidak beraturan.

ECLIPSE baru saja menyelesaikan penampilan mereka.

Panggungnya sederhana. Hanya lantai hitam yang sedikit meninggi, dua speaker di sisi kanan dan kiri, serta lampu portabel yang bahkan tidak cukup kuat untuk mengalahkan cahaya matahari. Tidak ada layar LED besar. Tidak ada asap panggung. Tidak ada tirai.

Namun ketika lagu terakhir selesai dan kelima anggota ECLIPSE membungkuk bersama, tepuk tangan yang datang dari depan panggung terasa begitu dekat.

Rin masih bisa merasakan getaran bass di telapak kakinya.

Napasnya belum sepenuhnya teratur. Ujung rambutnya menempel tipis di pelipis. Kostum panggung yang dikenakannya terasa sedikit lebih berat setelah tubuhnya berkeringat, tetapi ia tetap mempertahankan senyum yang sudah terlatih.

"Terima kasih banyak!"

Suara Rin melengking ringan di atas kerumunan.

"Kalau kalian menikmati penampilan kami hari ini, jangan lupa datang lagi!"

Beberapa orang berseru.

"Rin!"

"Rin-chan!"

Satu suara terdengar begitu jelas sampai Rin secara refleks menoleh.

Seorang gadis berdiri di antara kerumunan sambil memegang brosur ECLIPSE dengan kedua tangan. Usianya mungkin sebaya dengan anak SMA. Rambutnya dikuncir sederhana. Tidak ada kamera profesional di tangannya, hanya ponsel yang sesekali ia angkat untuk mengambil gambar.

Ketika mata mereka bertemu, gadis itu tersenyum lebar.

Rin membalasnya.

Gerakan kecil itu berlangsung kurang dari satu detik.

Akan tetapi, sesuatu di dalam dadanya terasa seperti tersentuh.

Bukan karena gadis itu mengenal namanya.

Justru karena ia tidak mengenalnya.

Rin belum pernah bertemu dengannya.

Tidak ada sejarah keluarga. Tidak ada nama Tachibana. Tidak ada ruang kuliah. Tidak ada meja makan panjang dengan ayah yang duduk di ujungnya. Tidak ada tuntutan mengenai bagaimana seorang anak seharusnya berjalan, berbicara, berpakaian, atau menjalani hidup.

Bagi gadis itu, Rin hanyalah Rin.

Dan untuk sesaat, itu terasa seperti kebebasan yang sangat sederhana.

"Rin."

Aoi menyentuh sikunya dari samping.

"Handshake."

Rin berkedip.

"Oh."

Ia tersenyum kecil.

"Lupa."

Aoi tertawa pelan. "Jangan sampai Center kita kabur."

Mereka kemudian berpindah ke sisi area pameran yang sudah dipagari tali pembatas sederhana. Meja kecil diletakkan di depan mereka untuk tempat merchandise dan brosur. Tidak ada sistem rumit seperti acara idol besar. Penggemar hanya perlu mengantre, mendapatkan kesempatan berbicara sebentar, lalu bergerak ke anggota berikutnya.

Semuanya berlangsung cepat.

Terlalu cepat.

Seseorang datang membawa CD.

Seseorang lain meminta tanda tangan.

Ada yang mengatakan mereka menyukai koreografi.

Ada yang memuji kostum.

Ada yang hanya berdiri di depan Aoi dengan wajah gugup selama beberapa detik sebelum akhirnya berkata, "Ganbatte."

Aoi selalu membungkuk.

"Terima kasih."

Mei lebih mudah bercanda.

Yuka sesekali tertawa terlalu keras.

Chino berusaha mengingat wajah setiap orang yang berbicara dengannya.

Rin memperhatikan semuanya dari sudut mata.

Ia menyadari bahwa idol tidak selalu berdiri di atas panggung.

Kadang-kadang panggung itu hanya berjarak satu meja.

Kadang-kadang jaraknya hanya selebar satu telapak tangan.

Dan justru pada jarak sedekat itu, Rin merasakan sesuatu yang belum pernah ia pahami sebelumnya.

Kerentanan.

Di atas panggung, cahaya membantu menyembunyikan banyak hal. Dari kejauhan, seseorang bisa terlihat sempurna. Senyum menjadi bentuk. Gerakan menjadi koreografi. Suara menjadi bagian dari musik.

Tetapi ketika seseorang berdiri tepat di depan wajahnya, Rin dapat melihat mata mereka.

Ia dapat melihat apakah seseorang gugup.

Ia dapat melihat tangan yang gemetar ketika menyerahkan CD.

Ia dapat melihat seseorang menarik napas sebelum mengatakan kalimat yang sudah mereka persiapkan sejak berjam-jam lalu.

Dan mereka pun bisa melihat Rin.

Bukan poster.

Bukan video.

Bukan foto promosi.

Rin.

"Berikutnya!"

Staf memanggil.

Seorang gadis maju.

Rin otomatis membentuk senyum.

Namun gadis itu tidak langsung menyerahkan apa pun.

Ia berdiri beberapa langkah dari meja, memegang tas kecilnya dengan kedua tangan.

Rin menunggu.

"Silakan."

Gadis itu maju perlahan.

"Eh..."

Suaranya nyaris tenggelam oleh suara kerumunan.

"Ya?"

Rin sedikit membungkukkan tubuh agar dapat mendengar.

Gadis itu menelan ludah.

"Saya... boleh pegang tangan Rin-chan?"

Pertanyaan itu sederhana.

Namun Rin tetap berhenti sejenak.

Ia teringat semua batas yang selama ini dibicarakan staf kepada mereka. Jangan terlalu lama. Jangan membuat janji pribadi. Jangan memberikan kontak. Jangan mengundang penggemar ke kehidupan pribadi. Jangan menciptakan kesan hubungan eksklusif.

Batas itu ada bukan untuk menjauhkan idol dari penggemar.

Justru untuk memastikan bahwa hubungan tersebut tidak berubah menjadi sesuatu yang dapat melukai kedua pihak.

Rin mengulurkan tangannya.

"Tentu."

Tangan gadis itu menyentuh tangannya.

Hangat.

Sedikit gemetar.

Rin dapat merasakan telapak tangan yang lembap karena gugup.

Gadis itu langsung membungkuk.

"Maaf."

Rin tertawa kecil.

"Kenapa minta maaf?"

"Soalnya saya gugup."

"Saya juga."

Mata gadis itu membesar.

"Eh?"

Rin tersenyum.

"Ini pertama kalinya aku melakukan handshake seperti ini."

Itu tidak sepenuhnya benar.

Tetapi juga bukan kebohongan yang berbahaya.

Lihat selengkapnya