[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #19

Perangkap Ryuuto

Malam telah menelan Roppongi ketika mobil yang membawa Rin berhenti di depan sebuah bangunan dengan fasad batu gelap dan pintu masuk yang nyaris tanpa tanda. Tidak ada papan nama restoran. Hanya sebuah pelat logam kecil di samping pintu, diterangi lampu putih yang terlalu bersih untuk jalanan Tokyo yang basah oleh sisa hujan.

Rin memandangi bangunan itu melalui kaca jendela.

"Di sini?"

Ryuuto yang duduk di sebelahnya tidak segera menjawab. Ia sedang memeriksa ponselnya, seolah pertanyaan itu tidak penting.

"Tempatnya tenang."

Jawaban sederhana.

Justru itu yang membuat tengkuk Rin menegang.

Sejak awal Ryuuto mengatakan bahwa mereka hanya perlu membicarakan strategi promosi Rin secara individual. ECLIPSE mulai mendapat perhatian setelah beberapa penampilan kecil dan foto profil pertama mereka. Ryuuto mengatakan bahwa posisi Rin sebagai center membuat agensi perlu memikirkan cara memperkenalkan dirinya secara lebih personal kepada calon penggemar.

Semuanya terdengar masuk akal.

Terlalu masuk akal.

Rin menurunkan pandangan pada kedua tangannya yang terlipat di atas pangkuan. Kuku jarinya telah dicat tipis dengan warna merah muda pucat. Pantulan lampu jalan membuat tangannya terlihat jauh lebih kecil daripada tangan Ren yang biasa ia lihat ketika mencatat kuliah atau memegang stetoskop.

Ia menarik napas perlahan.

"Kalau begitu, mari kita selesaikan pembahasannya secepat mungkin."

Ryuuto tersenyum.

"Bukan begitu caranya menikmati makan malam."

Ada sesuatu dalam kalimat itu yang membuat Rin menoleh.

Ryuuto sudah membuka pintu mobil.

Udara malam menyentuh wajah Rin ketika ia turun. Rok panjang kostumnya bergerak ringan diterpa angin. Ia merapikan ujung mantel dan mengikuti Ryuuto menuju pintu.

Begitu mereka masuk, dunia di luar seperti menghilang.

Ruangan pertama restoran itu kecil dan gelap. Aroma kayu tua bercampur dengan wangi teh dan sesuatu yang samar-samar seperti bunga kering. Seorang pelayan membungkuk dan membawa mereka melewati lorong menuju sebuah ruangan privat.

Pintu ditutup.

Klik.

Suara penguncian itu sangat kecil.

Tetapi Rin mendengarnya.

Ia berhenti sepersekian detik.

Ryuuto sudah duduk.

"Kenapa?"

"Tidak."

Rin tersenyum tipis dan mengambil tempat di seberangnya.

Tidak ada alasan untuk menunjukkan rasa takut.

Ia telah belajar sejak lama bahwa kepanikan adalah informasi yang bisa digunakan orang lain.

Pelayan datang membawa menu. Ryuuto memesan beberapa hidangan tanpa banyak bertanya kepada Rin.

"Dia tidak makan terlalu berat sebelum latihan," katanya.

Rin mengangkat mata.

"Aku bisa memilih sendiri."

Ryuuto menatapnya beberapa detik.

Kemudian ia tertawa pendek.

"Tentu saja."

Nada itu terdengar seperti pujian.

Namun Rin tidak merasa dipuji.

Setelah pelayan pergi, kesunyian turun di antara mereka.

Rin membuka menu meskipun sebenarnya tidak sedang membaca.

"Kalau pembahasannya mengenai promosi individu, aku sudah memikirkan beberapa kemungkinan."

"Oh?"

"Kalau targetnya menaikkan awareness sebelum rilisan berikutnya, kita sebaiknya tidak langsung mengandalkan popularitas personal. ECLIPSE masih terlalu baru."

Ryuuto tidak menjawab.

Rin mengangkat wajah.

Pria itu sedang memperhatikannya.

Bukan seperti produser yang menilai seorang artis.

Tatapannya terlalu lama.

Terlalu pribadi.

"Apa?"

"Kau cantik sekali kalau sedang serius."

Rin terdiam.

Ada jeda pendek sebelum senyum profesional muncul di wajahnya.

"Terima kasih."

Ia kembali melihat menu.

Namun Ryuuto belum berhenti.

"Yang menarik adalah..."

Suara pria itu merendah.

"...kau tidak sepenuhnya terlihat seperti gadis biasa."

Jari Rin berhenti di atas kertas.

Detik berikutnya terasa lebih panjang daripada seharusnya.

"Aku tidak mengerti."

Ryuuto menyandarkan punggung ke kursi.

"Aku tahu ada sesuatu yang berbeda tentangmu."

Rin menatapnya.

Tidak berkedip.

Wajahnya tetap tenang, tetapi denyut di bawah rahangnya mulai terasa jelas.

"Semua orang berbeda."

"Bukan itu maksudku."

Ryuuto tersenyum.

Senyum seorang pria yang merasa telah menemukan rahasia sebelum orang lain menyadarinya.

"Aku pernah melihat banyak idol."

Ia mengambil gelas air.

"Tapi kombinasi seperti dirimu jarang."

Rin tidak menyentuh makanannya.

"Rin."

Cara Ryuuto mengucapkan nama itu membuat perutnya mengencang.

"Kau punya wajah yang lembut, tubuh yang cocok dengan kamera, suara yang menarik."

Ia berhenti.

"Lalu ada sisi Ren yang masih kelihatan."

Dunia seperti menyempit.

Suara pendingin udara di langit-langit terdengar mendadak sangat keras.

Rin menahan napas.

Lihat selengkapnya