[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #20

Keretakan Kecil di Asrama

Ruang latihan agensi sudah hampir kosong ketika lagu itu berhenti untuk ketiga kalinya.

Nada terakhir menggantung dari speaker kecil di sudut ruangan sebelum lenyap ditelan dengung pendingin udara. Lima orang perempuan berdiri dalam formasi yang sama, napas mereka belum sepenuhnya kembali normal. Keringat membasahi garis rambut dan kerah kaus latihan. Di depan mereka, papan tulis putih dipenuhi coretan tangan Ryuuto.

Judul single pertama ECLIPSE tertulis paling atas.

Di bawahnya, pembagian bagian lagu.

Rin berdiri sedikit di depan yang lain. Tangannya masih memegang botol air, tetapi ia belum meminumnya.

Matanya berhenti pada satu angka yang dilingkari tinta hitam.

40%.

Empat puluh persen lagu.

Itu bukan sekadar angka.

Itu berarti hampir separuh wajah vokal single pertama ECLIPSE akan menjadi miliknya.

"Jadi," kata Ryuuto sambil menyandarkan pinggul ke meja, "bagian Rin dimulai dari verse pertama, masuk pre-chorus, lalu mengambil hook kedua. Bridge juga."

Yuka mengangkat alis.

"Bridge juga?"

"Iya."

"Dan ending?"

"Rin."

Yuka menoleh perlahan kepada Rin.

Rin hanya tersenyum kecil.

Senyum yang seharusnya ringan.

Senyum yang seharusnya mengatakan tidak apa-apa.

Tetapi jari yang mencengkeram botol airnya sedikit terlalu kuat.

Mei memperhatikan gerakan itu.

Aoi juga.

Chino tidak.

Chino sedang menatap papan tulis.

Tatapannya berhenti pada angka empat puluh persen tadi.

"Kenapa sebanyak itu?"

Suaranya tidak keras.

Justru karena itulah ruangan mendadak terasa lebih sunyi.

Ryuuto mengangkat bahu.

"Karena suara Rin paling cocok dengan konsep lagunya."

"Begitu?"

Chino menatapnya.

"Atau karena Rin center?"

Tidak ada yang menjawab.

Rin menurunkan botol airnya.

"Chino."

"Aku cuma bertanya."

"Aku tahu."

Chino menarik napas melalui hidung. Rambutnya yang sedikit berantakan jatuh menutupi salah satu matanya.

"Kalau memang karena suaranya, ya sudah."

Nada suaranya terdengar datar.

Terlalu datar.

Rin mengenal nada itu.

Bukan kemarahan.

Belum.

Itu nada seseorang yang sedang berusaha keras agar kemarahannya tidak keluar sebelum ia sendiri memahami apa yang sebenarnya membuatnya sakit.

Ryuuto justru tersenyum.

"Kalau kalian punya masalah dengan pembagian, bicarakan setelah latihan. Aku masih punya urusan."

Ia menghapus beberapa tanda di papan.

"Besok kita latihan bagian Rin lebih detail."

Rin menoleh cepat.

"Besok?"

"Kenapa?"

"Sepertinya bagian yang lain juga masih belum stabil."

Ryuuto menatapnya selama beberapa detik.

Kemudian tersenyum.

"Makanya kamu harus membantu mengangkat level mereka."

Ada sesuatu dalam cara laki-laki itu mengucapkan kalimat tersebut yang membuat tengkuk Rin terasa dingin.

Bukan pujian.

Lebih mirip kepemilikan.

Seperti empat puluh persen itu bukan keputusan musik.

Melainkan hadiah yang diberikan kepadanya.

"Aku mengerti," jawab Rin.

Ryuuto mengambil jaketnya.

"Bagus."

Pintu ruang latihan tertutup setelah ia keluar.

Klik.

Tidak ada seorang pun yang langsung berbicara.

Hanya suara pendingin udara yang terus berputar.

Yuka akhirnya mengembuskan napas panjang.

"Suasananya kayak habis ujian."

Aoi tertawa kecil, tetapi tawanya tidak benar-benar berhasil menghapus ketegangan.

Mei menatap papan tulis.

"Empat puluh persen memang terlalu besar."

Rin menoleh.

"Mei."

"Aku bukan menyalahkanmu."

"Aku tahu."

"Bagus."

Mei tersenyum tipis.

Kemudian ia mengambil spidol.

"Tapi tetap saja."

Ia mencoret angka empat puluh.

Bukan menghapusnya.

Hanya membuat lingkaran yang lebih besar di sekelilingnya.

"Ini akan jadi masalah kalau kita biarkan."

Chino mendengus pelan.

"Sudah jadi masalah."

Rin terdiam.

Kalimat itu tidak diarahkan kepadanya.

Tetapi tetap terasa mengenai dadanya.

Malam turun ketika mereka kembali ke asrama.

Dapur kecil di lantai bawah dipenuhi suara piring, bunyi air keran, dan aroma sup instan yang sengaja dibuat Mei lebih sehat dengan menambahkan sayuran.

Yuka duduk di atas meja sambil menggoyangkan kedua kakinya.

Aoi sedang memotong tahu.

Chino berdiri di depan kulkas, menatap isinya seolah berharap menemukan jawaban di antara botol susu dan sekotak telur.

Rin mencuci tangannya.

Air hangat mengalir melewati jari-jarinya.

Ia menatap pantulan samar wajahnya di jendela dapur.

Rambutnya masih sedikit lembap setelah mandi.

Tanpa kostum panggung, tanpa riasan tebal, tanpa lampu sorot, ia kembali menjadi seseorang yang tidak seharusnya diketahui oleh siapa pun.

Seseorang yang seharusnya tidak berada di sini.

Seseorang yang secara hukum masih hidup dengan nama berbeda.

Tetapi di dapur kecil itu, suara Yuka terdengar seperti biasa.

"Rin."

"Hm?"

"Kamu sadar nggak kalau kamu dari tadi mencuci tangan?"

Rin melihat tangannya.

Air sudah mengalir hampir satu menit.

Ia segera mematikannya.

"Maaf."

Yuka terkekeh.

"Kenapa minta maaf?"

"Melamun."

"Kelihatan."

Rin tersenyum.

Kemudian Chino tiba-tiba menutup pintu kulkas.

Lihat selengkapnya