Jam dinding di ruang latihan menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh tujuh ketika musik berhenti untuk ketiga kalinya.
Dentuman bass yang sejak satu jam terakhir memenuhi ruangan lenyap mendadak, menyisakan dengung tipis di telinga dan suara napas lima orang yang berusaha kembali teratur. Pendingin udara bekerja terlalu keras. Udara malam di dalam ruangan terasa dingin, tetapi keringat masih mengalir dari tengkuk Rin menuju kerah kaus latihannya.
“Sekali lagi dari bagian kedua.”
Ryuuto berdiri di dekat pengeras suara sambil memeriksa catatan koreografi di tabletnya.
“Transisi menuju chorus masih terlambat setengah hitungan. Rin, kamu harus lebih cepat masuk.”
Rin mengangguk.
“Baik.”
Suaranya terdengar normal. Setidaknya ia berharap demikian.
Ia menunduk, menyeka keringat di bawah dagunya dengan handuk kecil. Jari-jarinya terasa sedikit dingin.
Tidak apa-apa.
Ia masih bisa berdiri.
Masih bisa menari.
Masih bisa menyelesaikan latihan.
Tubuhnya hanya lelah.
Itu saja.
Beberapa hari terakhir memang terlalu padat. Kuliah, praktikum, perjalanan, pertunjukan, latihan, tidur yang semakin pendek. Belum lagi tubuhnya yang sedang beradaptasi dengan perubahan hormonal yang tidak selalu bisa ia prediksi. Ada hari ketika semuanya terasa baik-baik saja. Ada pula hari ketika suhu tubuhnya seperti tidak pernah menemukan titik keseimbangan.
Malam ini adalah salah satunya.
“Rin?”
Aoi menyentuh bahunya dari samping.
“Kamu pucat.”
Rin segera mengangkat wajah.
“Aku baik-baik saja.”
“Bohong.”
Jawaban Aoi terlalu cepat.
Rin tersenyum tipis.
“Kalau aku bilang baik-baik saja, berarti—”
“Berarti kamu selalu bilang begitu.”
Mei menyela dengan nada tenang dari belakang. Ia sedang mengikat kembali rambutnya yang terlepas selama latihan.
Yuka tertawa kecil.
“Dia memang punya dua jawaban untuk semua masalah.”
“Apa?”
“‘Aku baik-baik saja’ dan ‘aku bisa melakukannya.’”
Chino yang duduk di lantai sambil mengatur napas ikut menyahut.
“Dan biasanya dua-duanya berarti dia hampir tumbang.”
Rin menatap mereka satu per satu.
Ada sesuatu yang hangat bergerak di dadanya.
Kemudian ia segera memalingkan wajah.
“Kalau begitu, aku akan membuktikan kalian salah.”
Ia berdiri.
Dunia bergerak setengah detik lebih lambat.
Lampu putih di langit-langit seperti melebar menjadi garis panjang.
Rin berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Ruangan kembali normal.
“Musik.”
Ia mengambil posisi.
Aoi memandang Mei.
Mei memandang Yuka.
Tidak ada yang berkata apa-apa.
Musik dimulai.
Beat pertama.
Langkah.
Putar.
Geser.
Rin mengikuti hitungan dengan tubuh yang sudah menghafal gerakan bahkan ketika pikirannya tertinggal.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lengan terangkat.
Tubuh berputar.
Kaki mendarat.
Chorus mendekat.
Ia harus masuk lebih cepat.
Lebih cepat.
Rin memaksa tubuhnya mengikuti.
Jantungnya berdetak terlalu keras.
Telapak tangannya dingin.
Penglihatannya kembali bergetar.
Namun di depan cermin besar, ia melihat lima sosok bergerak dalam satu pola yang mulai terlihat seperti sebuah grup sungguhan.
ECLIPSE.
Bukan sekadar lima gadis yang berlatih di ruangan kecil.
Sebuah grup.
Sebuah panggung.
Sesuatu yang mereka bangun bersama.
Rin tidak ingin menjadi orang yang menghancurkannya.
“Sekarang!”
Hitungan terakhir sebelum chorus.
Rin melangkah maju.
Kemudian lantai menghilang.
Bukan benar-benar menghilang.
Hanya saja tubuhnya tidak lagi menerima perintah.
Suara musik menjadi jauh.
Cahaya di cermin memutih.
Lututnya kehilangan tenaga.
“Rin!”
Suara Aoi terdengar seperti datang dari ujung lorong.
Rin sempat merasakan tangan seseorang menangkap lengannya.
Lalu tubuhnya jatuh.
“Rin!”
Chino berlutut di sampingnya begitu tubuh Rin terbaring di lantai.
“Rin! Dengar aku?”
Tidak ada jawaban.
Wajah Rin pucat. Rambut yang basah oleh keringat menempel di pelipisnya.
Aoi segera berjongkok di sisi lain.
“Jangan kerumuni. Beri ruang.”
Mei sudah mengambil botol air.
“Yuka, buka pintu sedikit. Udara.”
Yuka bergerak cepat.
Chino menatap wajah Rin dengan mata yang mulai berkaca-kaca.