Pukul enam lewat dua belas menit pagi, halaman studio terbuka di Prefektur Chiba sudah dipenuhi suara mesin generator, roda troli yang berderit di atas aspal, dan teriakan pendek para kru yang saling mengoper instruksi. Langit masih berwarna biru pucat ketika lima anggota ECLIPSE turun dari minibus agensi. Udara pagi membawa kelembapan dari laut, menusuk kulit yang belum sepenuhnya terbiasa dengan hawa dingin.
Di balik pagar hitam yang mengelilingi lokasi, sebuah set berukuran hampir sebesar panggung konser kecil telah dibangun. Lantai hitam mengilap membentang di tengah area terbuka. Beberapa lampu besar berdiri seperti menara di sekelilingnya. Kamera utama dipasang di atas rel panjang, sementara kamera kedua menunggu di atas crane.
Di sisi set, beberapa pipa dan tangki besar sudah disiapkan untuk menciptakan hujan buatan.
Rin berdiri beberapa langkah dari anggota lainnya sambil memegang botol air dengan kedua tangan.
Ia menatap seluruh persiapan itu dalam diam.
Ini berbeda dari panggung kecil yang selama ini mereka gunakan.
Tidak ada lagi lampu seadanya.
Tidak ada kamera yang dioperasikan satu staf sambil berdiri di antara penonton.
Tidak ada ruang untuk kesalahan yang bisa ditutup dengan alasan bahwa mereka hanyalah grup indie yang sedang belajar.
Hari ini, setiap gerakan akan direkam.
Setiap ekspresi akan dibekukan dalam resolusi tinggi.
Setiap kesalahan dapat diputar ulang berkali-kali.
"Rin."
Suara Aoi membuatnya menoleh.
"Ya?"
"Kamu pucat."
Rin tersenyum kecil.
"Masih pagi."
Aoi menyipitkan mata.
"Itu bukan jawaban."
"Kalau aku bilang belum sarapan?"
Aoi langsung menunjuk kotak makanan yang dibawanya.
"Sudah kuduga."
Rin tertawa kecil.
Untuk sesaat, tekanan yang menggelayut di dadanya terasa lebih ringan.
"Terima kasih."
"Habiskan."
Nada Aoi begitu tegas sampai Rin hanya bisa mengangguk.
Di belakang mereka, Chino sedang memperhatikan set sambil memeluk jaketnya.
"Ini besar sekali..."
Yuka berdiri di sampingnya.
"Kalau jatuh di sini, kayaknya kita bisa malu sampai tiga generasi."
Mei tertawa.
"Makanya jangan jatuh."
"Aku tidak bicara tentang aku."
Yuka menunjuk Chino.
Chino langsung menoleh.
"Kenapa aku?"
"Karena kamu yang paling sering tersandung."
"Itu fitnah!"
Tawa kecil pecah di antara mereka.
Rin ikut tersenyum.
Lalu matanya bergerak menuju kamera utama.
Senyumnya perlahan berubah.
Begitu kamera dinyalakan, dunia mereka akan berubah.
Tidak ada lagi Rin yang berdiri di antara empat sahabatnya.
Yang akan terlihat adalah Center ECLIPSE.
Dan Rin tahu persis bagaimana menjadi sosok itu.
Menjelang pukul sembilan, sesi pertama dimulai.
Koreografi untuk video musik debut mereka jauh lebih agresif daripada latihan biasa. Perpindahan posisi dibuat cepat, dengan perubahan formasi hampir setiap beberapa hitungan. Kamera tidak hanya merekam dari depan, tetapi juga bergerak memotong di antara mereka.
"Standby!"
Suara sutradara terdengar melalui pengeras suara.
Kelima anggota mengambil posisi.
Rin berdiri di tengah.
Angin pagi bergerak melewati ujung rambutnya.
Ia menarik napas.
Satu kali.
Dalam.
Kemudian mengembuskannya perlahan.
Ketika musik mulai terdengar, ekspresinya berubah.
Tidak ada lagi kegelisahan.
Tidak ada keraguan.
Tatapan Rin menjadi tajam.
Kakinya menghantam lantai mengikuti ketukan pertama.
Satu langkah.
Putar.
Geser.
Lima tubuh bergerak dalam satu garis.
Kemudian formasi pecah.
Aoi bergerak ke kiri.
Mei ke kanan.
Yuka dan Chino menyilang dari belakang.
Rin maju.
Kamera crane bergerak mengikuti.
"Cut!"
Semua berhenti.
Sutradara mengangkat tangan.
"Bagus. Tapi transisi kedua kurang rapat."
Mereka kembali ke posisi awal.
Tidak ada yang mengeluh.
Mereka mengulang.
Sekali.
Dua kali.
Lima kali.
Delapan kali.
Pada pengambilan kesembilan, Chino hampir kehilangan keseimbangan ketika ujung sepatunya menyentuh bagian lantai yang sedikit lembap.
Rin menangkap lengannya sebelum ia jatuh.
"Pelan."
"Aku tahu."
Chino menarik napas panjang.
"Maaf."
Rin menggeleng.
"Jangan minta maaf. Ingat titik pijakmu saja."
Chino menatapnya sebentar.
"Center-sama bicara seperti guru."
"Kalau begitu dengarkan gurumu."
Chino mendengus, tetapi tersenyum.
"Baik."
Dari kejauhan, sutradara memperhatikan interaksi itu.
"Bagus. Pertahankan energi seperti itu."
Mereka kembali mengambil posisi.
Kali ini gerakan mereka lebih rapat.
Lebih percaya diri.
Lebih hidup.
Menjelang siang, jadwal memasuki adegan utama.
Adegan hujan.
Beberapa kru bergerak cepat mengelilingi set. Lampu dipindahkan. Kamera diberi pelindung. Lantai diperiksa kembali.
Rin duduk di kursi makeup sambil menatap dirinya sendiri melalui cermin.
Rambut panjang yang menjadi bagian dari persona Rin telah ditata sempurna. Makeup dibuat sedikit lebih tegas agar ekspresinya tetap terbaca di bawah pencahayaan besar.
Seorang stylist berdiri di belakangnya.
"Kalau kena air terlalu banyak, wig bisa bergeser."
Rin menyentuh sisi rambutnya dengan hati-hati.
"Berarti kita perlu menguncinya lebih baik."
Stylist mengangguk.
Rin memperhatikan beberapa produk yang tersedia di meja.
Ia tidak asal memilih.
Pengalaman merawat dirinya sendiri selama ini membuatnya terbiasa membaca label bahan, terutama ketika menyangkut sesuatu yang akan menempel pada kulit dalam waktu lama.
"Gunakan perekat yang memang aman untuk kulit dan sesuai untuk wig," katanya pelan. "Jangan yang terlalu kuat hanya supaya tidak bergerak. Kalau kulit iritasi, syuting justru berhenti."
Stylist menatapnya.
"Kamu yakin?"
Rin mengangguk.
"Yang penting bukan sekuat mungkin. Yang penting stabil dan tidak merusak kulit."
Stylist akhirnya mengikuti sarannya.
Beberapa menit kemudian, bagian rambut yang rawan bergeser diperkuat dengan perekat khusus yang memang diperuntukkan untuk penggunaan kosmetik.
Rin memiringkan kepala ke kiri.
Tidak bergerak.
Ke kanan.
Tetap stabil.
Ia tersenyum.
"Seharusnya aman."
Aoi yang sedang duduk di sebelahnya memperhatikan.
"Kamu ternyata banyak tahu."
Rin mengangkat bahu.
"Aku suka memastikan sesuatu sebelum memakainya."
"Termasuk rambut palsu?"
"Terutama kalau ada kamera sebesar itu."
Aoi tertawa.
"Masuk akal."
Rin menatap cermin lagi.