[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #23

Bayangan Ayah di Kerumunan

Siang di Shibuya tidak pernah benar-benar sunyi.

Bahkan sebelum ECLIPSE memulai sesi kampanye promosi, suara langkah kaki sudah bercampur dengan pengumuman dari pengeras suara pusat perbelanjaan, musik toko yang bocor dari lantai atas, bunyi pintu otomatis yang membuka dan menutup, serta percakapan ribuan orang yang bergerak tanpa arah yang sama.

Di salah satu area atrium, sebuah poster besar ECLIPSE berdiri setinggi hampir dua meter.

Lima wajah tersusun di sana.

Aoi.

Mei.

Yuka.

Chino.

Dan Rin di tengah.

Nama grup mereka tercetak besar di bawahnya.

ECLIPSE — FIRST DEBUT CAMPAIGN.

Rin berdiri beberapa meter dari poster tersebut dengan senyum yang telah dilatih berkali-kali.

Di tangannya terdapat setumpuk brosur.

"Terima kasih sudah datang!"

Senyumnya melebar ketika seorang gadis SMA berhenti di depannya.

"Ini ECLIPSE, kan?"

"Benar."

Rin menyerahkan brosur dengan kedua tangan.

"Semoga kamu menyukai lagu debut kami."

Gadis itu melihat foto di brosur, kemudian menatap Rin lagi.

"Rin-chan cantik sekali."

"Terima kasih."

Senyum Rin tetap sempurna.

Namun pipinya sedikit memerah.

Gadis itu berjalan pergi sambil memegang brosur di depan dada.

Dari sebelahnya, Chino langsung menyenggol bahu Rin.

"Kamu dengar?"

Rin menoleh.

"Apa?"

"Dia bilang kamu cantik."

"Aku dengar."

"Terus kenapa mukamu merah?"

"Karena panas."

Chino melihat ke langit-langit gedung yang penuh pendingin udara.

"Alasan buruk."

Rin tertawa kecil.

Di sisi lain, Aoi sedang membagikan brosur kepada sekelompok mahasiswa. Mei berbicara dengan seorang staf promosi. Yuka sesekali melambaikan tangan kepada orang-orang yang mengenali mereka.

Untuk pertama kalinya sejak video musik selesai dibuat, Rin melihat sesuatu yang membuat dadanya terasa ringan.

Orang-orang mulai mengenal mereka.

Sedikit.

Sangat sedikit.

Tetapi nyata.

Seorang anak kecil menunjuk poster ECLIPSE.

Seorang perempuan muda memotret banner.

Dua orang laki-laki berhenti di depan layar digital yang menampilkan potongan video musik mereka.

Rin menatap semua itu dengan mata berbinar.

Mungkin beginilah rasanya ketika sesuatu yang sebelumnya hanya hidup di kepala mulai memperoleh bentuk di dunia nyata.

Ia menggenggam brosur lebih erat.

Rin.

Nama itu benar-benar terpampang di sana.

Tidak ada nama Ren.

Tidak ada masa lalu.

Tidak ada keluarga Tachibana.

Hanya Rin.

"Berikutnya!"

Suara Chino membuyarkan lamunannya.

Rin kembali tersenyum.

"Terima kasih sudah mendukung ECLIPSE!"

Satu brosur.

Satu orang.

Satu senyum.

Begitu terus.

Sampai matanya tanpa sengaja bergerak melewati bahu seorang pengunjung.

Dan berhenti.

Seorang pria sedang berjalan dari arah koridor utama.

Setelan hitam.

Kemeja putih.

Sepatu kulit.

Rambut hitam yang disisir rapi ke belakang.

Postur tegak.

Langkah tenang.

Tidak terburu-buru.

Tidak menoleh ke kanan atau kiri.

Jantung Rin berhenti sepersekian detik.

Tangannya membeku di tengah gerakan.

Brosur yang hendak diberikan kepada seorang pengunjung tertahan beberapa sentimeter dari tangan orang itu.

Pria tersebut berjalan semakin dekat.

Rin melihat garis rahangnya.

Cara bahunya bergerak.

Bentuk tubuh yang tinggi.

Gerakan tangan ketika ia membetulkan ujung lengan jas.

Dunia di sekeliling Rin mendadak mengecil.

Suara manusia menghilang.

Musik toko terdengar jauh.

Pengeras suara menjadi dengungan samar.

Yang tersisa hanya satu kesimpulan yang muncul begitu cepat hingga tidak sempat diperiksa oleh pikirannya.

Ayah.

Napas Rin tersangkut.

Tidak.

Bukan.

Ia tahu secara rasional bahwa ia belum melihat wajah pria itu dengan jelas.

Namun tubuhnya tidak peduli.

Jari-jarinya mulai dingin.

Brosur di tangannya bergetar.

"Rin?"

Suara Chino terdengar samar.

Rin tidak menjawab.

Pria itu semakin dekat.

Sekitar dua puluh meter.

Lima belas.

Sepuluh.

Dada Rin mulai naik turun terlalu cepat.

Ia mencoba menarik napas panjang.

Tidak berhasil.

Lihat selengkapnya