Tokyo tidak pernah benar-benar tidur.
Bahkan dari atap apartemen sederhana yang disewa Vivid Prominence untuk tempat tinggal ECLIPSE, kota itu masih bergerak seperti makhluk raksasa yang enggan memejamkan mata. Lampu kendaraan mengalir di jalan-jalan seperti sungai merah dan putih. Papan iklan elektronik berganti warna di antara gedung-gedung tinggi. Dari kejauhan, suara kereta yang melintas terdengar samar, terputus-putus oleh dengung pendingin udara dan percakapan orang-orang yang berjalan di bawah.
Lima orang duduk berjejer di atas tikar tipis yang mereka bawa dari ruang penyimpanan.
Tidak ada kamera.
Tidak ada staf.
Tidak ada musik latihan.
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, tidak ada seorang pun yang menyuruh mereka tersenyum.
Rin duduk dengan kedua lutut ditekuk, memeluknya ringan. Rambut panjangnya bergerak tertiup angin malam. Ia sudah mengganti kostum latihan dengan pakaian sederhana setelah seharian menjalani persiapan terakhir. Tidak ada lampu panggung yang menyembunyikan garis wajahnya. Tidak ada sorotan yang memaksanya menjadi seseorang yang sempurna.
Hanya ada Rin.
Atau setidaknya, itulah yang ingin ia percayai.
"Besok."
Suara Chino memecah keheningan.
Gadis tujuh belas tahun itu berbaring telentang sambil menatap langit. Kedua tangannya terlipat di belakang kepala.
"Besok kita benar-benar debut."
Tidak ada yang langsung menjawab.
Aoi mengangkat kaleng minumannya, kemudian menatap tulisan pada permukaannya seolah-olah jawaban ada di sana.
"Jangan bilang begitu."
Chino mengangkat kepala.
"Kenapa?"
"Karena kalau kau mengatakannya keras-keras, aku jadi makin gugup."
Yuka tertawa kecil.
"Kamu gugup?"
"Jelas."
Aoi menepuk dadanya sendiri.
"Jantungku dari tadi seperti mau kabur."
Mei yang duduk paling ujung tersenyum.
"Setidaknya kamu masih bisa bercanda."
"Aku serius."
"Justru itu."
Tawa kecil pecah di antara mereka.
Tidak besar. Tidak riuh.
Tetapi cukup untuk membuat udara terasa lebih ringan.
Rin ikut tersenyum.
Senyum yang berbeda dari senyum di depan kamera.
Lebih kecil.
Lebih lelah.
Lebih nyata.
Ia memandang ke arah kota.
Besok, ribuan lampu itu akan tetap menyala. Orang-orang akan tetap berjalan melewati stasiun, masuk ke toko, pulang ke rumah, bertengkar dengan kekasih, belajar untuk ujian, bekerja sampai malam.
Bagi sebagian besar orang, besok hanyalah hari biasa.
Bagi ECLIPSE, besok adalah hari ketika hidup mereka mungkin berubah.
Atau mungkin tidak berubah sama sekali.
"Kalau dipikir-pikir," kata Yuka pelan, "kita ini aneh, ya."
Chino menoleh.
"Aneh bagaimana?"
"Lima orang yang awalnya hampir tidak saling kenal, tiba-tiba tinggal bersama, latihan setiap hari, bertengkar soal koreografi, berebut kamar mandi, lalu besok berdiri di satu panggung."
"Bagian berebut kamar mandi tidak perlu dimasukkan," protes Aoi.
"Itu sejarah."
"Itu fitnah."
Mei terkekeh.
Rin menatap mereka satu per satu.
Aoi yang selalu berusaha terlihat ceria.
Yuka yang cenderung mengamati sebelum bicara.
Mei yang hampir selalu menjadi orang pertama yang menyadari ketika suasana mulai berubah.
Chino yang emosinya mudah terlihat, tetapi justru karena itu tidak pernah pandai menyembunyikan kepeduliannya.
Mereka semua memiliki alasan sendiri untuk berada di sini.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya, Rin ingin mendengarnya.
"Kalau begitu," katanya.
Keempatnya menoleh.
Rin memainkan ujung lengan bajunya sebentar sebelum melanjutkan.
"Kenapa kalian ingin menjadi idol?"
Pertanyaan itu membuat mereka diam.
Chino berkedip.
"Serius?"
"Serius."
"Kenapa tiba-tiba?"
Rin tersenyum.
"Besok kita naik panggung pertama kali. Aku ingin tahu siapa yang sebenarnya berdiri di sampingku."
Kalimat itu sederhana.
Tetapi sesuatu dalam cara Rin mengucapkannya membuat tidak seorang pun tertawa.
Mei memandang langit sejenak.
"Kalau begitu, siapa dulu?"
Aoi mengangkat tangan.
"Aku."
Ia menarik napas panjang.
"Alasanku sebenarnya tidak keren."
"Kamu selalu bilang begitu sebelum mengatakan sesuatu yang sebenarnya keren," ujar Yuka.
"Aku belum mulai."
"Maaf."
Aoi menatap kedua tangannya.
"Ketika SMA, aku pernah melihat pertunjukan idol di sebuah festival kecil. Bukan konser besar. Penontonnya juga mungkin cuma beberapa ratus orang."
Ia tersenyum samar.
"Tapi aku ingat satu anak perempuan di barisan depan menangis ketika idol itu menyanyikan lagu terakhir."
Chino mendengarkan dengan saksama.
"Aku tidak tahu kenapa dia menangis. Mungkin karena lagunya. Mungkin karena sesuatu yang lain."
Aoi mengangkat wajah.
"Tapi aku melihat idol itu tersenyum kepadanya."
"Dan?"
"Dan aku berpikir..."
Aoi berhenti.
"...kalau aku bisa membuat satu orang merasa sedikit lebih kuat hanya dengan berdiri di atas panggung, mungkin hidup sebagai idol tidak seburuk yang orang-orang bilang."
Rin menatapnya.
Aoi tertawa kecil, agak malu.
"Jadi aku mencoba."
"Sesederhana itu?" tanya Chino.
"Sesederhana itu."
"Tapi kamu tetap bertahan sampai sekarang."
Aoi mengangkat bahu.
"Mungkin karena aku masih ingin melihat orang lain tersenyum."
Kali ini tidak ada yang mengejeknya.
Yuka mengambil giliran.
"Aku berbeda."
Ia menarik napas.
"Aku ingin menjadi idol karena aku takut."
Chino mengernyit.