Suara penonton sudah terdengar bahkan sebelum pintu ruang tunggu ditutup rapat.
Bukan sekadar suara.
Ia seperti tekanan yang merambat melalui dinding-dinding tipis live house, masuk lewat celah pintu, menjalar ke lantai beton, lalu berhenti di telapak kaki Rin.
Sorakan itu datang dalam gelombang.
Kadang meninggi menjadi pekikan yang nyaris tidak dapat dibedakan dari dengung mesin pendingin. Kadang turun menjadi gumaman panjang, sebelum kembali meledak ketika nama ECLIPSE disebut oleh pembawa acara di atas panggung.
"Sepuluh menit!"
Seorang staf berteriak dari lorong.
"Standby semua!"
Rin mengangkat kepala.
Di depan cermin, wajah yang menatap balik kepadanya bukan lagi wajah yang biasa ia lihat setiap pagi di kamar mandi apartemennya.
Rambut palsu berwarna gelap jatuh melewati bahunya dengan susunan yang telah diperiksa berkali-kali. Makeup menipiskan garis wajahnya, bukan dengan menghapus dirinya, melainkan dengan membentuk seseorang yang selama ini hanya berani ia hidupkan di ruang-ruang yang tidak memiliki saksi.
Kostum debut ECLIPSE memantulkan cahaya putih dari lampu rias. Rok pendek berlapis dan detail kain pada bagian bahu bergerak setiap kali ia bernapas. Sepatu panggung terasa sedikit lebih keras daripada sepatu yang biasa dipakainya di kampus.
Rin menurunkan kedua tangan.
Jari-jarinya sedikit gemetar.
Ia menggenggamnya.
Lalu melepaskannya.
Tarik napas.
Buang.
Sekali lagi.
Di sebelahnya, Aoi sedang memeriksa mikrofon sambil menggigit bibir bawah. Yuka berulang kali menggerakkan bahu untuk melepaskan ketegangan. Mei berdiri dengan kedua tangan di pinggang, memejamkan mata seperti sedang menghafalkan seluruh urutan koreografi untuk kesekian kalinya.
Chino, yang paling muda, berjalan bolak-balik tiga langkah lalu kembali ke tempat semula.
"Aku mau muntah."
"Aku juga," kata Yuka.
"Kamu tadi bilang mau muntah lima menit lalu."
"Berarti konsisten."
Chino terkekeh kecil.
Tawa itu pendek.
Namun cukup untuk membuat udara di ruang tunggu sedikit lebih ringan.
Aoi kemudian menoleh kepada Rin.
"Kamu diam sekali."
Rin mengangkat sudut bibir.
"Sedang menghemat tenaga."
"Alasan."
"Aku serius."
"Aku juga."
Aoi mendekat. Dengan gerakan hati-hati, ia membetulkan pita kecil di dekat bahu kostum Rin.
"Sudah."
Rin memandang pantulan mereka di cermin.
Lima perempuan.
Lima wajah.
Lima ketakutan yang berbeda.
Dan malam ini mereka akan berdiri di tempat yang sama.
"Bagaimana?"
Aoi bertanya.
Rin memiringkan kepala.
"Bagaimana apa?"
"Takut?"
Untuk sesaat, jawaban yang paling jujur hampir keluar.
Takut.
Bukan hanya karena debut.
Bukan hanya karena ratusan mata akan mengarah kepada mereka.
Takut karena setelah malam ini, Rin tidak lagi hanya menjadi rahasia yang hidup dalam jadwal latihan dan kamar apartemen. Nama itu akan tercetak pada poster. Akan direkam kamera. Akan diteriakkan orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.
Rin akan memiliki jejak.
Semakin besar panggungnya, semakin banyak bukti keberadaannya.
Dan semakin sulit bagi Ren untuk kembali menjadi bayangan.
Namun Rin hanya mengangguk.
"Sedikit."
Aoi tersenyum.
"Bagus."
"Bagus?"
"Kalau tidak takut sama sekali, mungkin kamu terlalu percaya diri."
Rin tertawa pelan.
"Masuk akal."
"Dan kalau nanti aku lupa koreografi?"
"Ikuti aku."
"Kalau kamu yang lupa?"
Rin menatapnya melalui cermin.
"Aku tidak akan lupa."
Nada suaranya terdengar tenang.
Terlalu tenang.
Aoi mengenal ekspresi itu sebagai wajah Rin ketika ia sedang memaksa dirinya tetap berdiri.
Tetapi sebelum sempat mengatakan sesuatu, pintu ruang tunggu terbuka.
"Rin."
Suara itu membuat tubuhnya berhenti.
Ryuuto berdiri di ambang pintu.
Ia tidak membawa senyum.
Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada kata-kata penyemangat.
Hanya tatapan yang bergerak dari kostum Rin ke wajahnya, lalu turun lagi ke sepatu panggung.
"Ikut saya sebentar."
Rin tidak bergerak.
Aoi memandangnya.
Ryuuto mengangkat satu tangan.
"Sendiri."
Ruangan mendadak menjadi sunyi.
Mei berhenti memeriksa mikrofon.
Yuka menurunkan botol air.
Chino menatap Rin dengan alis berkerut.
Rin akhirnya berdiri.
"Tidak lama."
Ryuuto berbalik.
Rin mengikutinya keluar.
Pintu menutup di belakang mereka.
Lorong di belakang panggung jauh lebih sempit daripada ruang pertunjukan. Kabel hitam menjalar di lantai. Staf berlari membawa peralatan. Seseorang menghitung waktu melalui headset. Bau hairspray bercampur dengan panas lampu elektronik dan aroma kain kostum yang baru keluar dari ruang persiapan.
Ryuuto berhenti di sudut yang lebih gelap.
Rin berdiri beberapa langkah di depannya.
"Debut pertama," kata Ryuuto.
Rin diam.
"Kamu tahu berapa banyak uang yang sudah masuk ke produksi ini?"
"Ya."
"Berapa banyak orang yang mempertaruhkan sesuatu malam ini?"
Rin menatapnya.
"Semua anggota."
Ryuuto tersenyum tipis.
"Bukan jawaban yang saya cari."
Rin tidak menjawab.
Ryuuto mendekat.
Suara penonton terdengar dari balik dinding.
Semakin dekat waktu mereka naik panggung, semakin keras suara itu terasa.
"Kamu adalah center."
"Aku tahu."
"Kamu adalah wajah ECLIPSE."
"Aku tahu."
"Dan kamu adalah hasil dari keputusan yang saya ambil ketika tidak ada orang lain yang mau mempertaruhkan apa pun untuk kalian."
Nada Ryuuto tetap rendah.
Itulah yang membuatnya lebih mengganggu.
Ia tidak perlu berteriak.
Tidak perlu mengancam secara terang-terangan.
Kata-katanya selalu disampaikan seperti fakta yang seharusnya tidak boleh diperdebatkan.
Ia berhenti sangat dekat dengan Rin.
"Lihat saya."
Rin mengangkat mata.
"Jangan membuat kesalahan."
Tatapan Ryuuto turun sebentar ke wajahnya.
"Rin bukan Ren."
Jantung Rin berdetak lebih keras.
"Di luar sana," lanjut Ryuuto, "orang-orang hanya mengenal satu nama."
Ia mendekat sedikit lagi.
"Rin."
Rin tidak menjawab.