[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #26

Gema Pasca-Debut

Pagi di Tokyo datang tanpa memberi kesempatan bagi siapa pun untuk bernapas.

Di layar ponsel yang tergeletak di atas meja ruang latihan Vivid Prominence, sebuah video berdurasi tiga puluh delapan detik terus diputar ulang. Lampu panggung berwarna putih kebiruan menyapu lima sosok perempuan yang bergerak serempak, kemudian berhenti tepat pada wajah Rin ketika ia mengangkat dagu menjelang nada tinggi pada bagian refrain.

Video itu bukan lagi milik ECLIPSE.

Jumlah penontonnya bergerak terlalu cepat untuk terasa nyata.

Dua puluh ribu.

Empat puluh ribu.

Seratus ribu.

Kemudian lebih dari itu.

Kolom komentar bergerak seperti hujan.

Siapa center-nya?

Suara Rin gila banget.

Rookie baru?

ECLIPSE ini dari agensi mana?

Visual center-nya tidak masuk akal.

Ren menatap angka-angka tersebut dari sisi ruangan sambil memegang botol air mineral yang belum disentuh.

Ada sesuatu yang ganjil dalam melihat dirinya sendiri menjadi wajah yang dikenali orang lain.

Di layar, Rin tersenyum.

Senyum yang ia latih berkali-kali di depan cermin.

Senyum yang sekarang mulai dimiliki publik.

Ren menurunkan pandangan.

"Seratus dua puluh ribu."

Suara Mei terdengar dari sofa.

"Seratus dua puluh tiga ribu sekarang," koreksi Yuka sambil menyegarkan layar. "Naik lagi."

Chino yang duduk di lantai hampir menjatuhkan ponselnya sendiri.

"Serius? Semalam kita bahkan masih mikirin apakah seribu orang bakal datang ke event berikutnya."

Aoi tidak ikut bersorak. Ia berdiri di depan papan tulis kecil dengan spidol di tangan, rambutnya diikat tinggi dan wajahnya menunjukkan ekspresi seseorang yang baru menemukan pekerjaan rumah tambahan.

"Jangan terlena."

Empat kepala menoleh.

Aoi menunjuk layar.

"Ini baru satu video. Kita harus memastikan orang yang menemukan ECLIPSE hari ini punya alasan untuk tetap mengikuti kita besok."

Mei menghela napas panjang.

"Selamat pagi juga, ketua."

"Aku serius."

"Aku juga serius."

Mei mengangkat kedua tangan menyerah.

Ren tersenyum kecil.

Di luar ruangan, suara printer bekerja tanpa henti. Telepon meja agensi berdering berkali-kali. Seseorang berlari melewati lorong sambil membawa map. Pintu ruang produksi terbuka dan tertutup, terbuka dan tertutup lagi.

Debut mereka yang seharusnya menjadi satu malam telah berubah menjadi sesuatu yang bergerak sendiri.

Sesuatu yang tidak lagi dapat dikendalikan oleh lima orang gadis yang berdiri di atas panggung.

Rin telah mendapatkan penonton.

Dan bersama penonton itu, datanglah tuntutan.

"Rin."

Ren mengangkat wajah.

Ryuuto berdiri di ambang pintu.

"Pemotretan majalah sepuluh menit lagi."

Nada suaranya santai, tetapi matanya langsung mengarah pada ponsel Ren.

"Kamu sudah siap?"

Rin mengangguk.

"Sudah."

Ryuuto tersenyum.

"Bagus. Hari ini padat."

Ia pergi begitu saja.

Ren memperhatikan punggungnya menghilang di balik pintu.

Padat.

Kata sederhana itu ternyata memiliki bentuk.

Dan hari itu Ren mulai memahami bentuknya.

Pemotretan berlangsung hampir tiga jam.

Studio kecil di lantai tiga dipenuhi lampu putih yang panas, kabel yang menjalar di lantai, rak pakaian, kotak kosmetik, dan aroma hairspray yang menggantung di udara. Setiap kali fotografer meminta perubahan posisi, Rin harus memutar tubuh, menahan bahu, mengangkat dagu, mengubah arah tatapan.

"Sedikit ke kiri."

Rin bergerak.

"Bagus."

Lampu kilat menyala.

"Rin, senyum."

Ia tersenyum.

Kilatan lain.

"Lebih natural."

Rin menarik napas perlahan.

Senyum lagi.

Kamera berbunyi.

Di sela pergantian pakaian dan penataan rambut, seorang staf menyerahkan majalah internal kepadanya.

"Kalau sudah selesai, nanti lihat hasil konsepnya."

Ren menerimanya.

"Terima kasih."

Ia kemudian mencari tempat duduk di sudut ruangan.

Lima belas menit.

Hanya lima belas menit sebelum sesi berikutnya.

Ren membuka tas.

Bukan ponsel yang pertama kali ia keluarkan.

Buku catatan tipis dengan sampul biru.

Ia membukanya pada halaman yang penuh tulisan tangan.

Sistem saraf.

Beberapa istilah yang semalam ia hafalkan kini terasa seperti serpihan informasi yang beterbangan di kepalanya.

Ia membaca satu paragraf.

Mengulang.

Menutup buku.

Mencoba menjelaskan kembali dalam pikirannya.

Kemudian suara fotografer terdengar.

"Rin, siap?"

Ren menatap jam.

Tujuh menit.

Ia membuka buku sekali lagi.

Dua menit.

Tiga menit.

Lalu seseorang memanggil namanya.

Bukan Rin.

"Rin!"

Ia tersentak.

"Ya."

Buku itu segera masuk kembali ke dalam tas.

Ketika berdiri, lututnya terasa sedikit ringan.

Ia mengabaikannya.

Di depan kamera, Rin kembali muncul.

Senyum.

Tatapan.

Gerakan.

Kilatan.

Tidak seorang pun perlu tahu bahwa beberapa menit sebelumnya center ECLIPSE sedang menghafalkan materi ujian.

Tidak seorang pun perlu tahu bahwa di balik riasan mata dan rambut yang ditata sempurna terdapat seorang mahasiswa kedokteran yang mulai menghitung waktu tidur berdasarkan sisa jam sebelum kelas.

Dan Ren sendiri mulai kehilangan kemampuan membedakan kapan ia sedang bekerja sebagai Rin dan kapan ia sekadar bertahan sebagai Ren.

Menjelang sore, mereka kembali ke ruang rapat kecil Vivid Prominence.

Sebuah layar besar menampilkan grafik.

Lihat selengkapnya