[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #27

Di Antara Dua Meja

Bau formalin selalu datang lebih dulu daripada suara.

Begitu pintu laboratorium patologi terbuka, udara dingin yang bercampur aroma tajam bahan pengawet langsung memenuhi rongga hidung Ren. Bau itu menempel di masker, di ujung lengan jas laboratorium, bahkan seolah-olah masuk sampai ke belakang tenggorokan. Beberapa meja praktikum sudah terisi. Lampu putih di langit-langit memantul pada permukaan meja logam yang terlalu bersih, sementara suara sarung tangan lateks ditarik dan instruksi dosen terdengar datar di antara bunyi langkah kaki.

Ren berdiri beberapa detik di ambang pintu.

Semalam, tubuh yang sama telah bergerak mengikuti delapan hitungan musik tanpa henti.

Hari ini, tubuh itu diminta diam.

Ia menundukkan kepala sedikit, menarik napas melalui hidung, lalu berjalan menuju meja kelompoknya.

"Selamat pagi."

Suara Ren terdengar seperti biasanya. Tenang. Terukur. Hampir tanpa intonasi.

Tidak ada yang akan mengira bahwa beberapa jam sebelumnya ia baru selesai latihan tambahan bersama ECLIPSE karena Aoi merasa transisi bagian kedua koreografi masih belum cukup rapi.

Ren meletakkan tas di bawah meja.

Ketika ia menggulung lengan jas laboratorium, otot bahunya terasa tertarik.

Sedikit.

Hanya sedikit.

Ia mengabaikannya.

Seorang teman di sebelahnya menyodorkan instruksi praktikum.

"Bagian ini dulu, kan?"

Ren membaca lembar tersebut sekilas.

"Ya. Kita mulai dari orientasi permukaan."

Tangannya meraih instrumen.

Namun ketika ujung jarinya menutup gagangnya, terdapat getaran kecil.

Hampir tidak terlihat.

Ren menatap tangannya sendiri.

Diam.

Ia mengendurkan genggaman, lalu mencobanya lagi.

Lebih kuat.

Kali ini tangan itu menurut.

"Kurang tidur?" tanya temannya.

Ren mengangkat mata.

"Sedikit."

"Kemarin katanya ada debut live?"

Ren berhenti sepersekian detik.

"Acara kampus."

Jawaban itu keluar terlalu cepat.

Temannya tidak memperhatikan.

"Oh."

Ren kembali menunduk.

Lebih mudah seperti itu.

Kebenaran sering kali tidak membutuhkan kebohongan besar. Cukup satu jawaban kecil yang tidak lengkap.

Ia memusatkan perhatian pada meja praktikum.

Pisau bedah bergerak perlahan.

Akurat.

Terlatih.

Namun tubuhnya tidak sepenuhnya kooperatif. Ketika harus mempertahankan posisi tangan dalam waktu lama, bahu dan pergelangan tangannya mulai mengirimkan rasa pegal yang berdenyut. Sisa koreografi semalam masih tertinggal di otot-ototnya.

Delapan hitungan.

Putar.

Turun.

Lompat.

Tahan.

Senyum.

Sekarang ia harus mengingat struktur tubuh yang sama sekali berbeda dari tubuh yang semalam ia tampilkan di atas panggung.

Ironis.

Di satu tempat, tubuh adalah sesuatu yang harus ia pahami.

Di tempat lain, tubuh adalah sesuatu yang harus ia ubah menjadi bahasa.

Ren menelan ludah.

Jangan berpikir terlalu jauh.

Ia melanjutkan praktikum.

Menjelang siang, Ren berlari.

Bukan berlari seperti di atas panggung.

Tidak ada musik.

Tidak ada sorakan.

Tidak ada lampu.

Hanya trotoar yang ramai, lampu lalu lintas yang seolah selalu berubah pada waktu yang salah, dan tas yang terus menghantam sisi tubuhnya setiap kali ia mempercepat langkah.

Ia melihat jam di ponselnya.

Terlambat tujuh menit.

"Maaf."

Napasnya sedikit tersengal ketika akhirnya membuka pintu studio di Shinjuku.

Seorang staf langsung menoleh.

"Rin!"

"Ya."

"Ruang ganti. Sekarang."

"Baik."

Tidak ada waktu untuk menjelaskan.

Ren masuk ke ruang rias dengan rambut masih sedikit berantakan karena angin dan wajah yang belum sepenuhnya kehilangan kesan mahasiswa kampus. Jas laboratorium sudah ditinggalkan di loker. Kemeja sederhana yang ia kenakan di baliknya menjadi lapisan terakhir dari kehidupan Ren sebelum siang itu kembali ditutup.

Dua puluh menit.

Itulah waktu yang tersedia.

Rambut.

Make-up.

Kostum.

Aksesori.

Ekspresi.

Postur.

Semuanya.

Begitu kursi rias diduduki, seorang stylist langsung mulai bekerja.

"Pejamkan mata."

Ren menurut.

Kapas lembut menyentuh kulit wajahnya.

Aroma pembersih wajah menggantikan formalin.

Lalu primer.

Foundation.

Bedak.

Sedikit warna pada pipi.

Lip tint.

Setiap lapisan membuat wajah Ren yang lelah perlahan menghilang.

Ia membuka mata ketika stylist mengangkat cermin.

Untuk sesaat, dua kehidupan bertemu di sana.

Rambut yang ditata lembut.

Mata yang dibuat lebih tegas.

Bibir dengan warna tipis.

Wajah yang sama, tetapi bukan orang yang sama.

Ren menatap pantulan itu.

Kemudian bahunya turun.

Bukan karena lelah.

Karena lega.

"Rin."

Suara itu terdengar dari pintu.

Yuka muncul dengan energi yang tampaknya tidak mengenal konsep kelelahan.

"Kamu hidup!"

Ren mengangkat alis.

"Aku belum mati."

Lihat selengkapnya