Air terakhir dari pancuran jatuh di bahu Rin sebelum keran diputar hingga berhenti.
Suara gemericik yang selama beberapa menit memenuhi kamar mandi perlahan menghilang. Yang tersisa hanya tetesan air dari ujung rambut dan dengung kecil ventilasi di langit-langit.
Rin berdiri diam di depan cermin.
Uap masih menutupi sebagian permukaannya. Dengan telapak tangan, ia mengusap permukaan kaca dari tengah ke samping. Sebuah bidang bening terbuka perlahan, memperlihatkan pantulan tubuhnya di bawah cahaya putih yang terlalu terang.
Ia menarik napas.
Tidak ada kamera.
Tidak ada stylist.
Tidak ada pakaian panggung.
Tidak ada nama ECLIPSE.
Hanya dirinya.
Matanya turun mengikuti pantulan itu.
Perubahannya tidak lagi bisa dianggap sekadar sesuatu yang samar.
Beberapa bulan terakhir telah meninggalkan jejak yang perlahan menjadi semakin jelas. Bentuk tubuhnya berubah sedikit demi sedikit. Kontur pinggang dan pinggul tidak lagi sama seperti beberapa waktu lalu. Bagian dada yang dahulu hampir tidak menunjukkan perubahan kini memiliki bentuk yang membuat beberapa pakaian mulai jatuh dengan cara berbeda.
Tidak dramatis.
Tidak terjadi dalam satu malam.
Justru karena berlangsung perlahan, perubahan itu terasa semakin nyata.
Rin mengangkat kedua tangannya, kemudian menurunkannya lagi.
Ia tidak menyentuh tubuhnya.
Ia hanya melihat.
Ada kebahagiaan yang begitu kecil sampai hampir menyerupai rasa sakit.
Untuk pertama kalinya, pantulan di depannya tidak sepenuhnya terasa seperti seseorang yang harus ia pura-pura menjadi.
Bentuk itu mendekati bayangan yang selama bertahun-tahun hanya berani ia bayangkan ketika sendirian.
Bibirnya bergerak sedikit.
Senyum muncul.
Kemudian menghilang.
Karena setelah kegembiraan itu datang pertanyaan yang jauh lebih menakutkan.
Bagaimana ia akan kembali menjadi Ren besok pagi?
Rin memalingkan wajah.
Di atas kursi kecil dekat wastafel tergeletak pakaian yang telah ia siapkan untuk kuliah. Kemeja longgar. Celana panjang. Jaket sederhana. Semuanya dipilih bukan karena ia menyukainya, melainkan karena pakaian itu membantu menciptakan siluet yang tidak mengundang pertanyaan.
Ia berjalan mendekat.
Mengangkat kemeja.
Kemudian berhenti.
Beberapa bulan lalu, pakaian itu masih cukup.
Sekarang tidak lagi.
Rin menatap bagian depan kemeja.
Kainnya tetap sama.
Tubuhnya yang berubah.
Jari-jarinya perlahan meremas ujung kain.
"Ini akan jadi masalah."
Suara yang keluar sangat pelan.
Ren.
Bukan Rin.
Nada itu muncul ketika ia sedang menghitung risiko.
Ruang ganti kampus.
Kamar mandi.
Pemeriksaan kesehatan mahasiswa.
Teman-teman yang mungkin mulai memperhatikan.
Tatapan yang berhenti sepersekian detik terlalu lama.
Pertanyaan yang terdengar biasa tetapi sebenarnya tidak.
Semua kemungkinan itu berputar di kepalanya seperti daftar panjang yang tidak pernah selesai.
Ia mengetahui tubuh manusia cukup baik untuk memahami bahwa perubahan seperti ini tidak dapat ia perlakukan sebagai sesuatu yang bisa dihapus setiap pagi.
Ia tidak bisa sekadar berharap tubuhnya berhenti berubah demi kenyamanan penyamaran.
Dan semakin ia mencoba memikirkan solusi, semakin jelas satu hal.
Ia harus mulai memikirkan pakaian penekan tubuh atau breast tape ketika harus kembali menjalani kehidupan sebagai Ren.
Pikiran itu membuat perutnya terasa mengeras.
Bukan karena konsepnya sendiri.
Karena maknanya.
Setiap kali ia berusaha menyamarkan perubahan itu, ia seolah-olah sedang mengatakan kepada tubuhnya sendiri bahwa bentuk yang membuatnya bahagia harus disembunyikan.
Rin menutup mata.
Namun ada bagian lain dalam dirinya yang berbisik lebih pelan.
Aku bahagia tubuhku berubah.
Pengakuan itu membuat dadanya terasa sesak.
Ia membuka mata lagi.
Pantulan di cermin tidak menjawab.
"Kalau aku senang..." bisiknya, "kenapa aku masih takut?"
Ketukan terdengar dari luar.
Tok.
Tok.
Rin tersentak.
"Rin?"
Suara Mei.
Ia segera mengambil handuk dan membungkus tubuhnya dengan rapi.
"Ya?"
"Kamu masih di dalam?"
"Iya."
"Ini."
Sebuah bayangan berhenti di balik kaca bermotif pintu kamar mandi.
"Aku menemukan handuk tambahan."
Rin menatap pintu.
Kaca buram itu hanya memperlihatkan siluet.
Tidak jelas.
Namun cukup untuk membuatnya kembali sadar pada bentuk tubuhnya sendiri.
Ia bergerak sedikit menjauh.
"Taruh saja di depan pintu."
"Kalau kubuka sedikit boleh?"
Rin terdiam sebentar.
"Boleh."
Pintu bergeser sedikit.
Mei menyelipkan handuk bersih melalui celah.
"Ini."
"Terima kasih."
Mei tidak langsung pergi.
Ia berdiri di sisi luar pintu.
"Kamu baik-baik saja?"
Rin menatap lantai.
"Kenapa?"
"Kamu diam sekali."