[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #29

Perjanjian Khusus Ryuuto

Malam telah menelan sebagian besar cahaya Shinjuku ketika Rin kembali ke kantor Vivid Prominence.

Gedung itu selalu terasa berbeda setelah pukul sembilan malam.

Siang hari, lorong-lorongnya dipenuhi suara langkah kaki, staf yang membawa map, anggota talent yang keluar-masuk ruang latihan, serta bunyi notifikasi ponsel yang tidak pernah berhenti. Namun setelah sebagian besar lampu dimatikan, gedung kecil itu berubah menjadi tempat yang jauh lebih sempit.

Lampu sensor di lorong menyala satu demi satu ketika Rin berjalan.

Klik.

Klik.

Klik.

Sepatu botnya menghasilkan bunyi pendek di lantai.

Ia berhenti di depan sebuah pintu dengan plakat kecil bertuliskan R. Saeki.

Ponselnya masih menampilkan pesan terakhir dari Ryuuto.

Rin membaca kalimat itu sekali lagi.

Kemudian memasukkan ponsel ke saku.

Ada sesuatu dalam susunan kata tersebut yang membuat tengkuknya terasa dingin.

Ia mengetuk.

"Masuk."

Suara Ryuuto terdengar dari dalam.

Rin membuka pintu.

Ruangan itu hanya diterangi lampu meja dan cahaya kota yang masuk melalui jendela besar. Rak-rak berisi dokumen berdiri di belakang meja kerja. Beberapa poster ECLIPSE ditempel di dinding, tetapi salah satu poster terbaru menampilkan Rin jauh lebih besar daripada anggota lainnya.

Rin menyadarinya.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Ryuuto duduk di belakang meja.

"Telat."

"Empat menit."

Ryuuto melihat jam tangannya.

"Berarti tetap telat."

Rin menutup pintu.

"Maaf."

" Duduk."

Rin mengambil kursi di seberang meja.

Tidak terlalu dekat.

Ryuuto memperhatikannya.

"Kamu selalu duduk sejauh itu?"

"Ini rapat."

"Memangnya aku akan memakanmu?"

Rin tersenyum tipis.

"Semoga tidak."

Ryuuto tertawa.

Namun tawanya tidak sampai ke matanya.

Ia mengambil sebuah map hitam dari sisi meja.

"Kita mendapat tawaran baru."

Rin memandang map tersebut.

"Dari siapa?"

"Brand pakaian."

Ia mendorong map itu ke tengah meja.

"Brand independen. Belum besar, tapi mereka sedang naik."

Rin membuka halaman pertama.

Logo perusahaan.

Proposal kampanye.

Rangkaian foto.

Dan di bagian tengah dokumen, sebuah nama tercetak lebih besar daripada yang lain.

RIN.

Bukan ECLIPSE.

Rin mengangkat mata.

"Kenapa bukan grup?"

"Karena mereka tidak membeli ECLIPSE."

Ryuuto bersandar.

"Mereka membeli daya tarikmu."

Rin menutup map perlahan.

"Kalau ini kampanye grup, empat member lain harus dilibatkan."

"Mereka tidak cocok dengan konsep."

"Mereka anggota ECLIPSE."

"Aku tahu."

"Jadi—"

"Aku sudah bilang kepada mereka."

Rin berhenti.

"Bilangkan apa?"

"Bahwa rapat ini khusus untuk kamu."

Ada sesuatu yang mengeras di rahangnya.

"Kenapa?"

Ryuuto tersenyum.

"Karena aku tahu bagaimana industri bekerja."

Ia bangkit dan berjalan menuju papan putih di dinding.

Beberapa angka tercetak di sana.

Jumlah tayangan.

Jumlah pengikut.

Penjualan merchandise.

Engagement.

Ryuuto mengambil spidol.

"Lihat ini."

Ia menunjuk angka paling tinggi.

"Ini setelah debut."

Kemudian menunjuk nama Rin.

"Dan sebagian besar kenaikannya datang dari konten yang menampilkan kamu."

Rin menatap papan tersebut.

"Angka bukan alasan untuk mengeluarkan mereka dari strategi."

"Sebaliknya."

Ryuuto menulis satu kata.

CENTER.

"Kamu adalah pusatnya."

"Center bukan berarti satu-satunya anggota."

"Di atas kertas, tidak."

Ryuuto menutup tutup spidol.

"Di pasar, bisa jadi."

Rin diam.

Ryuuto kembali ke kursinya.

"ECLIPSE baru saja mendapatkan perhatian. Sekarang kita harus memanfaatkannya."

"Memanfaatkan?"

"Jangan pura-pura tidak mengerti."

Ryuuto membuka laptop.

Sebuah grafik muncul.

"Kalau popularitasmu naik, ECLIPSE ikut naik."

"Kalau popularitas ECLIPSE naik, semua anggota ikut naik."

"Benar."

Ryuuto tersenyum.

"Tapi kalau popularitasmu turun?"

Rin tidak menjawab.

"Yang lain ikut jatuh."

Kalimat itu dibiarkan menggantung.

Rin merasakan telapak tangannya mulai dingin.

Bukan karena ancaman yang jelas.

Lihat selengkapnya