[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #30

Gelombang Pertama Fans Toxic

Pukul 02.17 dini hari.

Cahaya layar ponsel menjadi satu-satunya sumber penerangan di kamar asrama yang sudah lama tenggelam dalam gelap.

Rin berbaring telentang, selimut hanya menutupi sampai pinggang. Rambut panjangnya berantakan di atas bantal. Pendingin ruangan berdengung pelan, sesekali diselingi bunyi kendaraan dari jalan raya yang jauh di bawah gedung. Tokyo tidak pernah benar-benar tidur, tetapi malam seperti ini membuat suara kota terdengar sangat jauh, seolah-olah kehidupan orang lain berlangsung di balik dinding kaca yang tidak dapat disentuhnya.

Ia seharusnya sudah tidur sejak satu jam lalu.

Besok pagi ada latihan.

Siangnya ada evaluasi koreografi.

Malam berikutnya mereka dijadwalkan menghadiri sesi foto untuk materi promosi baru.

Tubuhnya membutuhkan istirahat.

Pikiran Ren, sayangnya, tidak pernah patuh pada kebutuhan tubuh.

Jempolnya bergerak lagi.

Satu unggahan.

Dua komentar.

Lima.

Sepuluh.

Awalnya hanya komentar biasa.

Rin paling kelihatan beda setelah debut.

ECLIPSE akhirnya mulai naik.

Center-nya memang cantik.

Kemudian sebuah tautan muncul di antara unggahan penggemar.

Judulnya pendek.

"Ada yang tahu sebenarnya Rin ini siapa?"

Rin berhenti menggulir.

Ujung jarinya menggantung beberapa milimeter di atas layar.

Ia tahu seharusnya tidak membuka.

Akal sehatnya mengatakan demikian.

Naluri lain yang lebih tua justru berbisik bahwa ia harus tahu.

Ia mengetuk tautan itu.

Sebuah forum anonim terbuka.

Tampilan halaman putih keabu-abuan dipenuhi nama pengguna acak dan komentar yang tersusun tanpa wajah. Beberapa membicarakan ECLIPSE dengan antusias. Yang lain mulai menyusun potongan-potongan informasi mengenai Rin seperti detektif amatir yang sedang mencoba memecahkan kasus.

"Bukannya aneh? Anggota lain punya jejak sekolah, klub, foto lama, bahkan teman masa kecil.""Rin hampir tidak punya apa-apa.""Manajemennya juga tidak pernah menjelaskan.""Mungkin sengaja disembunyikan."

Rin menelan ludah.

Ia menggulir.

Sebuah komentar baru muncul.

"Operasi plastik kali?"

Komentar berikutnya mendapatkan lebih banyak respons.

"Bukan cuma operasi plastik. Perubahannya terlalu ekstrem."

"Sebelum debut pasti bukan seperti itu."

"Cari foto masa sekolahnya."

"Kalau memang tidak ada, justru makin mencurigakan."

Rin mematikan layar.

Kamar kembali gelap.

Ia menutup mata.

Tarik napas.

Empat hitungan.

Tahan.

Buang perlahan.

Kebiasaan yang selama bertahun-tahun dipelajari Ren untuk mengendalikan tubuhnya ketika pikiran mulai bergerak terlalu cepat.

Tidak berhasil.

Tangannya kembali meraih ponsel.

Kecerahan layar terasa menyakitkan bagi mata.

Utas itu sudah bertambah puluhan komentar.

Ada yang masih membicarakan kemungkinan operasi plastik.

Ada yang menyebut Rin mungkin pernah terlibat masalah di sekolah.

Ada yang menuduh manajemen sengaja menghapus masa lalu Rin.

Kemudian seseorang menulis kalimat yang membuat jari Rin berhenti.

"Atau mungkin bukan masalah operasi."

Tidak ada penjelasan di bawahnya.

Hanya beberapa balasan.

"Maksudmu?"

"Kalian juga kepikiran itu?"

"Lihat cara dia bicara dan bergerak."

"Ada sesuatu yang disembunyikan."

Denyut di leher Rin berubah.

Sekali.

Dua kali.

Lalu terlalu cepat.

Ia menatap layar tanpa berkedip.

Komentar-komentar berikutnya mulai bergerak ke arah yang sama.

Ada yang menggunakan istilah kasar.

Ada yang mempertanyakan jenis kelamin Rin.

Ada yang menyebutnya dengan kata-kata yang sengaja dipilih untuk merendahkan.

Ada pula yang mengaku memiliki "informasi orang dalam".

Padahal isinya hanya dugaan.

Tidak ada bukti.

Tetapi internet tidak membutuhkan bukti untuk membuat seseorang merasa seolah-olah sedang diadili.

Rin menggigit bagian dalam pipinya.

Ini cuma forum anonim.

Ia tahu itu.

Tidak ada yang benar-benar mengenalku.

Ia juga tahu itu.

Namun tubuhnya tidak peduli pada logika.

Telapak tangannya mulai basah.

Napasnya menjadi pendek.

Ia duduk.

Selimut bergeser jatuh ke lantai.

Punggungnya menempel pada kepala ranjang. Ponsel masih berada di tangannya, tetapi layar sudah tidak lagi terbaca. Huruf-huruf tampak bergerak karena pandangannya mulai kehilangan fokus.

Ia menekan tombol mati.

Gelap.

Dada terasa sempit.

"Tenang."

Suara yang keluar terlalu pelan.

Ia mencoba lagi.

"Tenang."

Kali ini suaranya terdengar seperti milik orang lain.

Ren menurunkan kaki ke lantai.

Dingin permukaan lantai menyentuh telapak kakinya.

Ia berdiri.

Satu langkah menuju kamar mandi.

Tidak sampai.

Ia berhenti di tengah kamar.

Napasnya semakin cepat.

Jantungnya memukul tulang dada seperti ingin mencari jalan keluar.

Ia menekan kedua telapak tangan ke meja kecil di samping tempat tidur.

Ini hanya kecemasan.

Pengetahuan medis itu datang secara otomatis.

Tidak ada ancaman fisik di sini.

Namun sebuah bagian dalam dirinya menjawab dengan suara yang jauh lebih sederhana.

Bagaimana kalau mereka benar-benar tahu?

Rin memejamkan mata.

Selama ini rahasia itu seperti pintu yang ia kunci dari dalam.

Ia tahu kuncinya ada.

Ia tahu siapa saja yang mungkin memilikinya.

Ryuuto.

Keluarganya.

Dokumen-dokumen lama.

Dan dirinya sendiri.

Tetapi malam ini, untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang berbeda.

Seolah-olah ribuan orang asing di luar sana sedang mencoba menebak bentuk kunci tersebut.

Bukan karena mereka mengenalnya.

Justru karena mereka tidak mengenalnya.

Ia mengusap wajah.

Rambut jatuh melewati pipinya.

"Jangan..."

Kata itu keluar tanpa sadar.

Ia tidak tahu kepada siapa ia mengatakannya.

Kepada forum itu.

Kepada orang-orang asing.

Kepada Ryuuto.

Kepada ayahnya.

Atau kepada dirinya sendiri.

Ponselnya bergetar.

Rin tersentak.

Notifikasi baru.

Bukan dari forum.

Pesan pribadi dari Chino.

Kak Rin, belum tidur?

Rin menatap pesan itu lama.

Jempolnya mulai mengetik.

Belum.

Ia berhenti.

Menghapusnya.

Mengetik lagi.

Iya. Sebentar lagi tidur.

Kirim.

Balasan Chino datang hampir seketika.

Aku juga belum tidur. Besok latihan kan? Jangan lupa minum air.

Rin tersenyum tipis.

Senyum itu hanya bertahan sesaat.

Ia meletakkan ponsel.

Kemudian, setelah beberapa detik, layar kembali menyala.

Bukan karena forum.

Sebuah notifikasi baru.

Utas itu sudah menyebar ke X.

Jantung Rin kembali jatuh.

Pagi datang terlalu cepat.

Jam menunjukkan 08.06 ketika Rin memasuki ruang latihan.

Ruang itu masih dipenuhi udara dingin dari pendingin ruangan. Cermin besar memantulkan lima sosok yang perlahan memenuhi tempat tersebut. Tas-tas diletakkan di sudut. Botol minuman berjajar di lantai. Musik dari speaker terdengar terlalu keras untuk kepala Rin yang belum benar-benar pulih dari malam sebelumnya.

Chino sudah berada di sana.

Ia duduk bersila di lantai sambil memegang ponsel.

Wajahnya berbeda.

Biasanya gadis itu akan menyambut Rin dengan suara riang atau mengeluh karena mengantuk.

Pagi ini, ibu jarinya hanya bergerak cepat di atas layar.

Rin meletakkan tas.

Lihat selengkapnya