[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #31

Malam Tanpa Kamera

Malam di asrama ECLIPSE selalu terasa berbeda dari malam-malam ketika mereka berada di atas panggung.

Tidak ada lampu sorot.

Tidak ada kamera.

Tidak ada staf yang berdiri di balik pintu sambil membawa clipboard.

Tidak ada suara penggemar yang memanggil nama mereka dari balik pembatas.

Yang ada hanya ruang tengah dengan sofa panjang yang sudah sedikit melengkung di bagian tengah, meja rendah penuh botol minuman, kabel pengisi daya yang bersilangan seperti akar, dan televisi yang menyala tanpa benar-benar ditonton siapa pun.

Di sudut ruangan, mesin pendingin mengeluarkan dengungan konstan. Aroma makanan ringan masih tertinggal di udara setelah makan malam. Dari luar jendela, cahaya gedung-gedung Tokyo membentuk garis-garis panjang yang berkilauan di kaca.

Rin baru saja keluar dari kamar mandi ketika mendengar suara Yuka.

"Operasi kecantikan dimulai!"

Rin berhenti di ambang pintu.

Yuka berdiri di tengah ruang tengah dengan sebuah kantong belanja transparan di tangan. Beberapa bungkus masker wajah berwarna-warni terlihat di dalamnya, disusul sebuah alat pijat portabel berukuran kecil.

Chino langsung bangkit dari sofa.

"Apaan itu?"

"Perlengkapan perang."

Yuka mengeluarkan satu per satu isinya dan menatanya di atas meja.

"Masker wajah."

Satu bungkus.

"Serum."

Dua botol kecil.

"Alat pijat."

Sebuah alat elektronik berbentuk sederhana.

"Dan ini."

Ia mengeluarkan ikat rambut dengan telinga kelinci.

Chino tertawa.

"Itu bukan alat kecantikan."

"Secara teknis, kalau membuat kita lucu, berarti alat kecantikan."

"Logikanya dari mana?"

"Dari pengalaman."

Mei yang sedang duduk sambil membaca majalah mengangkat mata.

"Berapa uang yang kamu habiskan?"

Yuka terdiam.

"Pertanyaan yang tidak perlu dijawab."

Aoi langsung menyahut dari dapur.

"Berarti banyak."

Yuka memasang ekspresi tersinggung.

"Kalian tidak menghargai investasi jangka panjang."

Rin menghela napas pelan.

Ia sudah tahu arah pembicaraan ini.

Ia mundur satu langkah.

Kemudian satu langkah lagi.

Tidak ada yang memperhatikannya.

Bagus.

Kamar.

Tempat aman.

Tempat tidur.

Pintu bisa ditutup.

Satu langkah lagi—

"Rin!"

Rin berhenti.

Yuka sudah menoleh.

Mata mereka bertemu.

"Kamu mau ke mana?"

"Ke kamar."

"Kenapa?"

"Belajar."

Yuka menatap jam dinding.

"Jam sebelas malam?"

"Aku mahasiswa."

"Justru itu."

Yuka berlari kecil mendekat.

Rin mundur.

"Yuka."

"Ayo sini."

"Aku benar-benar harus—"

Tangan Yuka sudah lebih dahulu menarik pergelangan tangannya.

Tidak kuat.

Tidak kasar.

Cukup untuk menggagalkan pelarian.

Rin terpaksa mengikuti.

"Kamu bagian dari grup," kata Yuka. "Malam ini tidak ada yang boleh kabur."

"Aku tidak kabur."

"Kamu baru saja mundur tiga langkah."

"Itu strategi."

"Strategi kabur."

Chino tertawa dari sofa.

Rin akhirnya menyerah.

"Baik."

Yuka langsung bersorak.

"Yes!"

Rin duduk di lantai dengan kaki dilipat rapi. Rambutnya dikuncir tinggi oleh Mei agar tidak mengganggu wajah.

Beberapa menit kemudian, ruang tengah berubah menjadi tempat perawatan kecantikan improvisasi.

Masker wajah menutupi sebagian besar wajah mereka.

Yuka tampak seperti hantu.

Chino mengambil selfie.

"Aku seperti mayat."

Mei melihat layar.

"Kamu memang dramatis."

Aoi sedang berusaha memasang masker dengan benar.

"Bagian ini miring."

"Biarkan saja."

"Kalau miring, manfaatnya tidak merata."

Rin menatap Aoi.

"Kamu serius?"

"Kenapa?"

"Kamu bisa sangat serius untuk hal seperti ini."

Lihat selengkapnya