[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #32

Sesi Foto Musim Hot Spring

Hakone menyambut mereka dengan udara yang berbeda dari Tokyo.

Lebih dingin.

Lebih lembap.

Dan terlalu tenang.

Kabut tipis menggantung di antara pepohonan di lereng gunung ketika van Vivid Prominence berhenti di depan sebuah ryokan tradisional yang atapnya berlapis genteng gelap. Sebuah papan kayu bertuliskan nama penginapan tergantung di bawah lentera batu. Dari celah pintu masuk, aroma kayu cedar bercampur dengan uap air panas yang samar.

Rin turun paling terakhir.

Begitu telapak sepatunya menyentuh jalan batu, ia menarik napas panjang.

Udara pegunungan masuk ke paru-parunya.

Untuk sesaat, ia hampir lupa bahwa perjalanan ini adalah pekerjaan.

"Bagus sekali!"

Yuka sudah lebih dahulu berlari beberapa langkah menuju halaman.

"Ini benar-benar seperti film!"

Chino mengikuti sambil mengangkat ponsel.

"Aku mau foto!"

Aoi langsung memperingatkan.

"Jangan sampai jatuh."

"Aku tidak akan jatuh."

"Kamu mengatakan itu sebelum hampir jatuh di tangga studio minggu lalu."

"Itu beda."

Mei tertawa.

Rin tersenyum melihat mereka.

Pemandangan di depan mata memang indah.

Kolam batu.

Pohon maple.

Jembatan kayu kecil.

Uap tipis yang naik dari area pemandian.

Semuanya tampak terlalu sempurna.

Kemudian seorang staf agensi datang menghampiri.

"Rin, nanti kamu langsung ikut stylist, ya."

Senyumnya profesional.

Rin mengangguk.

"Baik."

Ia belum memikirkan apa pun.

Sampai stylist mereka datang membawa beberapa kantong pakaian.

"Konsep hari ini sedikit berbeda."

Kalimat itu membuat langkah Rin berhenti.

"Berbeda bagaimana?"

Stylist perempuan berusia tiga puluhan itu mengeluarkan papan referensi.

Foto-foto di sana menampilkan suasana ryokan, yukata, tatami, taman batu, dan kolam air panas.

"Fanclub premium photoshoot. Kita mau sesuatu yang lebih natural."

Rin melihat foto berikutnya.

Tepi kolam.

Kabut.

Handuk putih.

Jantungnya langsung berdetak lebih keras.

"Dan bagian ini?"

Stylist menunjuk salah satu foto.

"Beberapa foto di area rotenburo."

Rin tidak langsung menjawab.

Yuka dari belakang berseru.

"Wah! Foto di onsen!"

Chino ikut antusias.

"Serius?"

Stylist mengangguk.

"Tenang, tidak perlu lama. Kita hanya butuh beberapa frame yang memberi kesan santai."

Rin menatap papan itu lagi.

Sebuah ketegangan kecil merayap dari tengkuk ke bahunya.

"Apakah harus di dalam kolam?"

Stylist memiringkan kepala.

"Kenapa?"

Rin sudah menyiapkan jawabannya bahkan sebelum pertanyaan itu muncul.

"Beberapa jenis air panas membuat kulit saya mudah bereaksi."

Ia menjaga suaranya tetap tenang.

"Terutama air dengan kandungan mineral tertentu."

Stylist memperhatikannya.

"Masalah alergi?"

"Lebih tepatnya kulit sensitif."

Rin menunduk sedikit, seolah sedang membicarakan sesuatu yang tidak ingin dibesar-besarkan.

"Kalau memungkinkan, saya lebih nyaman memakai lapisan yukata tambahan."

Stylist tampak berpikir.

"Untuk foto di tepi kolam?"

"Ya."

Rin menunjuk contoh pakaian.

"Yukata tipis di luar, lalu lapisan dalam. Saya masih bisa terlihat natural, tetapi tidak terlalu lama terkena air."

Stylist memandang Rin beberapa detik.

Rin menahan napas.

Ia tidak boleh terlihat terlalu memaksa.

Kalau terlalu defensif, justru akan menimbulkan pertanyaan.

Akhirnya stylist menghela napas.

"Baik. Tapi jangan sampai terlihat seperti kamu takut air."

Rin tersenyum.

"Saya akan berusaha."

"Bagus."

Stylist menutup papan referensi.

"Dan kalau memang tidak nyaman, bilang."

Rin mengangguk.

"Terima kasih."

Ia berbalik.

Baru setelah berjalan beberapa langkah, ia menyadari telapak tangannya berkeringat.

Sore mulai turun ketika pemotretan dimulai.

Rin mengenakan yukata berwarna lembut dengan lapisan tambahan yang membuat siluet pakaiannya sedikit lebih tertutup daripada anggota lain. Rambutnya ditata sederhana. Makeup dibuat tipis, hampir seperti wajah yang baru selesai bersantai seharian di penginapan.

Konsepnya memang "natural".

Tidak ada panggung.

Tidak ada kostum mencolok.

Tidak ada aksesori besar.

Justru kesederhanaan itulah yang membuat Rin semakin waspada.

Di atas panggung, setiap bagian tubuh memiliki fungsi artistik.

Di sini, kamera akan mencari sesuatu yang lebih pribadi.

"Rin, duduk di sini."

Fotografer menunjuk batu datar di dekat kolam.

Rin duduk.

Uap hangat menyentuh wajahnya.

Kamera berbunyi.

Klik.

Klik.

"Bagus."

"Sedikit menoleh."

Rin menurut.

"Lebih santai."

Ia mengendurkan bahu.

"Bagus."

Beberapa foto pertama aman.

Kemudian fotografer berkata,

Lihat selengkapnya